Repotnya Ingin Bertemu Alessandro Del Piero

Image

Meski aku hanya bertandang ke Sydney selama enam hari, perjalanan ke kota cantik tersebut memerlukan persiapan yang sangat panjang dan matang. Setahun lebih aku sudah bersiap mengumpulkan segala sesuatunya untuk ke sana. Sekadar informasi, aku melakukan dan mengurus segala sesuatunya sendiri. Mulai dari paspor, kartu kredit, visa, hingga soal hostel dan pesawat. Stres, bingung hingga nyasar di Sydney pun aku nikmati dan jalani sendirian. Hahahaha. Bagiku, bepergian untuk menemui sang kapten sekaligus menjadi tantangan bagiku untuk menguji nyaliku sendiri; seberapa kuat aku hidup di tempat asing dan seberapa sabar aku mengurus hal kecil yang dulu tak pernah terbayangkan sebelumnya. Oke, aku akan membagi tulisan ini ke dalam beberapa bagian.

Persiapan

Mungkin terdengar sepele, tetapi aku sudah banyak membekali diri dengan informasi soal Sydney jauh sebelum aku ke kota tersebut. Aku membaca banyak sekali blog, terutama soal visa, yang aku tahu susah untuk didapatkan. Di satu sisi, aku mendapat banyak informasi yang mendukung perjalananku. Tetapi, di sisi lain, aku awalnya sempat patah arang karena menurut beberapa artikel yang aku baca, aku harus melampirkan surat rekomendasi dari warga negara Australia untuk kedatanganku ke Sydney. Aku bingung sekali soal ini. Dan inilah penghalang terberatku. Beberapa blogger di tulisan mereka menyatakan setiap pelamar visa, meski hanya berkunjung, wajib menyertakan scan, kalau perlu, surat dari warga negara Australia yang mengajakku untuk tinggal di Sydney. Dan, parahnya, ini harus dari warga Australia. Aku sendiri ada beberapa teman yang menikah dengan orang Australia tetapi rasanya kurang enak meminta rekomendasi mereka. Aku sebenarnya juga mempunyai banyak teman di Australia, tetapi sifat mereka sementara, bukan warga negara Australia permanen. Belum apa-apa, aku sudah mau menyerah duluan. Lama sekali aku menimbang soal ini, dan jujur saja, aku awalnya sudah tidak mau mencoba sama sekali. Untungnya, aku mempunyai teman2 baik yang membuatku kembali bangkit. Aku berterima kasih kepada Triwik Kurniasari dan Sri Jatmiko S. Aji karena berkat informasi dari mereka aku tak perlu menjadikan soal rekomendasi warga negara Australia sebagai penghambat. Mereka bilang tak perlu surat semacam itu jika hanya berwisata ke Sydney. Makasih banyak ya Triwik, Aji, dan temennya Aji, Ario untuk info soal ini.

Persoalan kedua yang tak kalah beratnya adalah soal surat keterangan kerja dari kantor. Ketika berita hengkangnya Ale ke Sydney FC muncul, aku baru beberapa bulan berada di kantorku yang sekarang. Dengan kata lain, aku harus menunggu satu tahun terlebih dahulu untuk bisa mengambil cuti dan memperoleh surat rekomendasi kantor untuk kepergianku ke Sydney. Dan melewati setahun pertama di kantorku sekarang bukanlah perkara yang mudah. Ada empat bulan masa “neraka” yang sempat membuatku sangat stres. Ada satu kondisi pekerjaan yang teramat sangat membuatku tidak betah hingga aku pernah mencoba untuk berpindah pekerjaan. Aku melamar ke beberapa tempat. Ada yang dipanggil tetapi pekerjaan kurang sreg. Ada yang tidak dipanggil sama sekali. Waktu itu aku mikir hal yang sangat sayang bila aku pindah adalah aku harus menunggu satu tahun lagi bekerja di tempat yang baru baru bisa memperoleh cuti dan surat rekomendasi. Tetapi, aku memang sudah sangat tidak betah, jadi ya mau gimana lagi? Ternyata Tuhan berkata lain. Aku mencoba bersabar dan usahaku terbayar sudah. Masa empat bulan akhirnya lewat dan Alhamdulillah aku nyaman di tempatku yang sekarang. Proses teknis pun kembali dimulai, dan pada saat itu musim pertama Ale di Sydney FC sudah berakhir. Itulah cerita mengapa aku baru pergi saat Ale menjalani musimnya yang kedua bersama Sydney FC.

Mengurus Paspor, Kartu Kredit, dan Membeli Tiket Bola

Usai musim 2012/2013 berakhir, aku rajin mengirim email ke humas Sydney FC di info@sydneyfc.com. Aku bertanya soal jadwal latihan dan penjualan tiket ke humas ini. Aku sangat terbantu dengan humas Sydney FC. Mereka sangat tanggap dalam menjawab pertanyaanku. Cepat lagi dan dijawab semuanya. Jadi kalau teman2 butuh info soal Alessandro, coba tanya aja ke alamat email tadi. Insya Alloh dibalas karena aku sudah membuktikannya. Musim 2013/2014 dimulai 11 Oktober 2013 dan tiket baru dijual 20 September 2013. Itulah info yang aku dapat. Waktu itu libur A League masih lama jadi aku masih punya banyak waktu untuk bersiap. Aku memulai dengan membikin paspor. Waktu itu aku bahkan belum punya paspor loh, hehehe. Butuh waktu sekitar seminggu untuk membuat paspor baru. Urusan paspor kelar 1 Juli 2013 lalu aku beralih ke urusan kartu kredit. Awalnya, rada takut juga sih ngurus kartu kredit mengingat betapa banyak kasus negatif soal ini. Tetapi kartu kredit ini sangat bermanfaat bagi siapa pun yang mau keluar negeri, terutama untuk membeli tiket, jadi ya sudah aku memberanikan diri untuk melamar kartu kredit dengan batas kredit yang kecil terlebih dahulu. Butuh waktu agak lama juga hingga kartu kredit di tangan karena terpotong libur Lebaran tahun ini. Paspor dan kartu kredit beres, aku masih harus menunggu waktu pembukaan penjualan tiket. Aku sempat bertanya langsung ke Ticketek, agen penjualan resmi tiket A League, soal bisakah tiket dikirim langsung ke Jakarta dan makan waktu berapa lama? Bersyukur sekali Ticketek langsung membalas pertanyaanku. Waktu itu dia bilang pengiriman bisa 14 hari kerja. Trus ada pilihan apa gitu, sori lupa, dimana kita bisa memperoleh tiket secara instan. Waktu itu karena aku ragu-ragu, ya akhirnya aku tetap memilih agar tiket dikirim ke Jakarta. Setelah menilik harga tiket pesawat sana sini dan perkiraan proses pengurusan visa, aku memutuskan untuk membeli tiket untuk laga tanggal 30 November antara Sydney FC Vs Newcastle Jets. Oh ya, ini alamat situs Ticketek.. http://premier.ticketek.com.au/default.aspx. Mungkin ada yang bertanya kenapa sih aku malah membeli tiket terlebih dahulu? Ada dua alasan penting 1) untuk meyakinkan kedutaan bahwa aku memang ada acara yang akan aku datangi di Sydney 2) untuk meyakinkan pihak HRD tentang tanggal cutiku. Aku beli seharga A$40 atau sekitar Rp440 ribu. Menurutku sih termasuk murah karena tiket yang aku beli ini termasuk kelas bagus. Tempat duduk di tengah dan lumayan dekat sama lapangannya. Masih kalah malah dari harga tiket konser artis luar negeri di sini kan? Ditambah biaya ongkos dan biaya administrasi kartu kredit, aku membayar sekitar Rp560an ribu untuk ini semua. Selesai dibayar, aku memulai masa deg-degan menunggu tiket ini. Datang atau tidaknya tiket ini menentukan keberangkatanku ke Sydney. Kenapa? Aku tak akan memulai langkah kedua jika tahap pertama belum selesai. Kenapa mesti repot ngurus visa jika tak yakin bisa lihat Ale main bola apa nggak? Seminggu, dua minggu tiket belum nyampe ke kantor dan aku masih bisa tenang. Minggu ketiga tiket belum juga sampai dan aku pun mulai panik. Awalnya, aku sudah patah arang (lagi) hingga di suatu Jumat pagi, ada amplop sudah duduk manis di meja kerjaku. Akhirnya sang tiket pun nongol juga. Ada bukti pembayaran segala.. senang sekaligus panik karena mepet. Ini terjadi sekitar 5 minggu dari tanggal pertandingan bola yang akan aku tonton. Sempet nggak ya ngurus visa dll?

Mengurus Visa yang Lumayan Bikin Stres

Buat yang belum tahu, aku akan memperkenalkan tentang VFS Global, ini adalah rekanan Kedutaan Australia di Indonesia, yang mengurus soal administrasi tentang permohonan visa, termasuk visa turis. Ini alamatnya http://www.vfs-au-id.com/. Baca-baca aja semuanya, termasuk syarat2nya. Staf di sini baik2 kok, jika ada pertanyaan telepon aja. Insya Alloh akan dibalas. Pertama kali muncul, langsung baca soal bagian VISA SEMENTARA.. SUB CLASS 600. Oke, aku langsung bahas satu per satu tentang persyaratannya:

  1. Formulir visa. Ambil yang bagian turis stream — formulir 1419. Formulir ada di bagian bawah, download aja. Jangan panik ya kayak aku pas pertama kali baca isi formulirnya. Awalnya, aku udah stres aja lihat 17 halaman dengan segitu banyak informasinya, hahahaha. Kenyataannya, hanya sedikit bagian yang aku isi kok. Lain2 hanya info umum saja. Ada beberapa pertanyaan di formulir ini yang agak membingungkan bagiku waktu itu. Jika ada yang bingung, bisa bertanya ke aku.
  2. Biaya permohonan visa. Biaya visa ini berubah dua kali dalam setahun, Januari dan Juli, mengikuti pergerakan kurs. Pas aku ke sana, biaya yang harus aku bayar adalah A$130 dan ditambah biaya logistik jadinya Rp1.560.000 per orang. Untuk visa jenis lain aku kurang tahu harganya berapa. Untuk yang pergi tahun depan, kemungkinan harga akan berubah. Jadi cek terus alamat VFS yang aku kasih tadi. Ada beberapa cara pembayaran. Waktu itu, karena jarak dari kost ke kantor VFS tidak terlalu jauh, jadi aku datang langsung ke kantor VFS dan aku bayar tunai di tempat.
  3. Fotokopi paspor. Yang wajib difotokopi adalah bagian biodata, perubahan, dan stempel visa dan imigrasi JIKA ADA. Waktu itu, aku foto copi semuanya buat jaga2 yang akhirnya sama staf VFS dibuang karena belum ada stempel imigrasi. Aku emang belum pernah ke luar negeri sih, hahaha. Jadi buat yang sama sekali belum keluar dari Indonesia, tak usah khawatir aplikasi visa akan ditolak. Itu sama sekali tidak berpengaruh.
  4. Pas poto ukuran paspor. Ini buat ditempel di bagian formulir visa tourist stream tadi. Biasanya tukang foto udah tahu ukuran paspor seperti apa. Waktu itu aku bawa formulirnya langsung ke tukang foto sih biar jelas. Fotoku berwarna, latar foto terserah cuman waktu itu aku pakai putih mengikuti saran si mbak tukang fotonya. Buat yang pakai jilbab, Alhamdulillah nggak perlu buka jilbab buat kelihatan telinganya. Aku sudah memastikan ini ke VFS. Jadi bisa melampirkan foto dengan jilbab yang kita kenakan.
  5. Foto kopi KTP dan KK. Cukup difotokopi, tak perlu dilegalisir, tak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku sudah bertanya ke VFS soal ini. Apa adanya saja.
  6. Formulir 956/956A aku nggak pakai karena memang aku tidak menguasakan pihak ketiga.
  7. Bukti pekerjaan. Berupa selembar surat keterangan dari kantor tentang posisi kita di kantor, lama bekerja, gaji yang kita terima setiap bulan, lama cuti, siapa yang membiayai perjalanan kita, kapan waktu cuti. Jangan lupa menyertakan nomor paspor, nama lengkap dan alamat lengkap kita. Bisa ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Aku sudah bertanya soal ini ke VFS. Jika ada yang masih bingung, bisa bertanya kepadaku. Aku masih ada template-nya kok. Waktu itu aku melampirkan yang dalam Bahasa Inggris. Jangan lupa tanda tangan manajer HRD, nama manajer HRD tersebut, dan cap perusahaan ya. Bagiku surat ini sangat penting. Di formulir tersebut memang ada poin bila si pelamar tidak bekerja dsb. Tetapi, aku mati-matian bertahan di kantorku yang sekarang karena surat ini sangat penting. Sekadar informasi, Australia adalah surganya pencari suaka. Jadi surat ini berfungsi untuk menjamin bahwa kita akan kembali ke Indonesia bukan untuk mencari suaka di sana. Ada kantor yang menjamin bahwa kita akan kembali bekerja di tanah air. Kita ke sana adalah benar untuk liburan bukan untuk menetap.
  8. Dukungan dari orang lain. Nah ini yang aku bilang tadi soal rekomendasi dari warga negara Australia. Harap melampirkan ini JIKA memang ke sana atas ajakan dan dukungan dari warga Australia di sana. Bagaimana jika tidak? Cukup dengan melampirkan bukti booking hotel atau hostel tempat kita menginap berikut foto copy tiket perjalanan PP kita. Waktu itu aku pakai situs ini www.booking.com Ada banyak hostel khusus “backpacker” dengan harga lumayan murah. Aku dapat di daerah pusat kota dengan tariff 200an ribu per malam. Cuman aku tidak merekomendasikan tempat ini karena kurang bersih dan staf hostel yang kurang ramah. Namanya juga murah, hehehe. Di sinilah kartu kredit berperan penting. Di situs tinggal pilih hotelnya lalu booking pakai kartu kredit kita. Gratis kok. Cuman harap diingat, jika ingin membatalkan kunjungan kita harus dilakukan maksimal H-2 dari tanggal booking. Jika tidak, kartu kredit kita akan kena “charge.” Trus soal tiket pesawat PP, JANGAN DULU MEMBELI TIKETNYA. Bagaimana triknya? Izin ya Triwik buat berbagi info soal ini soalnya ini sangat bermanfaat. Hehehe. Aku ke kantor Anta Tour. Bisa ke agen perjalanan lain, sama saja menurutku. Niat awal sih meminta staf Anta Tour untuk mem-booking tiket pesawat PP untuk mengurus syarat visa. Biasanya staf langsung tahu bahwa print-out tiket PP ini hanya formalitas jadi NGGAK BAYAR. Kalau ada yang ngotot mau kasih charge, bilang aja ini hanya printout semata dan belum tentu visa akan diterima. Nah biar nggak malu, aku ke sana buat beli asuransi perjalanan sekaligus. Lagipula, setiap pelancong harus dibekali dengan asuransi. Aku habis Rp300an ribu untuk asuransi selama 8 hari di sana. Asuransi juga penting untuk menekankan ke kedutaan bahwa kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan serius.
  9. Soal dana. Nah ini juga agak simpang siur tentang berapa dana deposit yang harus dilampirkan saat kita melamar visa. Waktu itu, dana di tabunganku Rp36an juta. Ada yang di blog bilang Rp20 juta sudah cukup kok asal kita nggak berlama2 di sana. Jika hanya seminggu, dana yang aku lampirkan akhirnya tembus dan diterima oleh kedutaan. Bagaimana jika kurang? Aku belum pernah mencoba trik ini tetapi mungkin bisa dicoba, hehehe. Bisa ngutang, hahahaha. Cuman harus cerdik. Jangan sampai ada transfer 100 juta masuk ke rekening temen-teman seminggu sebelum mengajukan visa. Sudah pasti akan ditolak. Pihak kedutaan pasti curiga ada dana sebesar itu masuk saat mau ke Aussie. Jadi,kalau mau ngutang transfer jangan mendadak dan jumlah bisa dicicil. Jangan langsung Rp50 atau Rp100 juta sekaligus, hahahahhaa. Begitu kira2 uang cukup, langsung ke bank dan minta transkrip transaksi tiga bulan terakhir. Mereka udah pasti paham. Oh ya, usahakan tabungan kita aktif ya maksudnya ada transaksi keluar masuk. Soalnya ada tabungan yang khusus buat menabung. Ini sebagai bukti kecukupan dana kita selama di sana. Biar kedutaan yakin kita nggak bakal kelaparan di sana, hahahaha.
  10. Soal tes kesehatan, jika umur teman-teman masih di bawah 75 tahun tak perlu ada tes kok.
  11. Dokumen lainnya waktu itu aku melampirkan foto copy kwitansi pembelian tiket bola. Terbukti ampuh. Sekalian foto copy asuransi perjalanan.
  12. Oh ya, sebagai formalitas aku memasukkan kontak kenalan WNI yang di Melbourne. Yang bahkan orangnya aja aku belum pernah ketemu, hahahaha. Terbukti! Nggak ngaruh sama sekali tuh. Lega banget rasanya.. emang bener. Nggak perlu harus ada rekomendasi warga negara Australia cuman buat berkunjung ke sana.

Syarat sudah lengkap dan aku pun ke kantor VFS di Jakarta. Ngantri cepet, bayar selesai dan tibalah aku ke saat mendebarkan. Si mbak staf VSF bilang proses bisa tiga minggu. Duh mepet banget dari jadwal bolanya. Dia juga memberikan cara untuk melacak proses aplikasi kita. Australia tidak mengeluarkan visa stempel ya. Sistemnya sudah elektronik. Jadi kita tinggal menunggu email yang akan memberitahu apakah permohonan kita diterima atau tidak. Karena tiga minggu, aku tidak membuka inbox karena masih lama dari tanggal pengumumannya. Lima hari setelah pengajuan aplikasi, siang hari ada telepon dari staf kedutaan. Ia bertanya soal kesiapanku ke Sydney, kontak di sana, mengapa aku sendirian ke sana, dll. Dan saat ditanya mengapa aku ke Sydney, dengan jujur aku bilang bahwa aku ingin sekali bertemu dengan Ale. Mungkin terdengar norak, cuman ini adalah kesempatan baik untuk mengutarakan maksud kedatanganku sekaligus membujuk si mbak kedutaannya gitu, hehehe.

Senin paginya, iseng aku buka inbox trus spam… dan aku langsung tersenyum lebar. Sudah ada surat keterangan visa grant notice dua halaman di email-ku. CUKUP SEMINGGU UNTUK MEMPEROLEH KETERANGAN APAKAH VISA DITERIMA ATAU TIDAK. CEPET BANGET!!! Subhanalloh… bahagianya diriku. Aku print dan dengan dua lembar surat ini aku telah memegang izin ke benua Kangguru dan siap bertemu dengan Ale. Nggak sia-sia perjuanganku setahun terakhir lebih ini… makasih ya Alloh swt. Sekian dulu ya tulisanku. Masih akan ada tulisan lain lagi soal Sydney.. jika ada pertanyaan, bisa menghubungiku ke ein_nie02@yahoo.co.id. Makasih….

Advertisements

2 thoughts on “Repotnya Ingin Bertemu Alessandro Del Piero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s