Aneka Tips tentang Sydney

Image

Katedral St. Mary

Urusan visa aman, aku tak langsung membeli tiket pesawat. Selalu ada pertanyaan yang mengusik benakku tatkala proses teknis pergi ke Sydney aku mulai. “Bagaimana bila aku sudah habis banyak uang tetapi tidak bertemu dengan Ale?” Pertanyaan ini wajar muncul karena pada awal musim ini Ale sempet tidak main karena cedera. Bahkan setelah Ale main penuh pun, aku masih mempunyai pikiran seperti ini, “Bagaimana bila setengah jam sebelum aku bertemu dia, Ale tiba-tiba jatuh kepleset di kamar mandi terus dia tak bisa latihan bahkan bertanding?” Pikiran negatif ini sering muncul dan aku selalu atasi dengan berkata: “yang penting aku sudah berusaha.” Mau sekeras apa pun usaha kita, tetap Tuhan yang menentukan. Doa sangat berperan penting dalam hal ini. Setelah memantau hasil laga dan kondisi Ale yang ternyata bugar dua minggu jelang keberangkatanku, akhirnya aku membeli tiket pesawat.

Image

di depan Sydney Opera House

Tips Mencari Tiket Pesawat

Tanpa bermaksud promosi, aku bahagia sekali begitu tahu AirAsia membuka rute Jakarta ke Sydney dengan transit di Kuala Lumpur. Maskapai murah ini sangat membantu bagi turis super hemat alias ‘backpacker’ kayak aku, hahahaha! Untuk perjalanan pulang-pergi aku habis Rp5.906.000. Harga tersebut sudah termasuk asuransi dan pajak bandara di Sydney. Untuk pajak bandara Soekarno-Hatta masih harus bayar lagi kalau nggak salah Rp150 ribu. Berhubung ini adalah kali pertama aku akan terbang lama, awalnya aku parno banget. Aku banyak menghabiskan waktu mencari informasi soal riwayat pesawat Airbus yang dipakai oleh AirAsia, teknik penyelamatan diri jika terjadi kecelakaan, hingga kejadian kecelakaan pesawat yang menghebohkan dunia. Tapi temen-temen tak perlu sepanik ini ya, hahahaha. Sejak pertama kali meluncurkan rute ini pada awal 2012, AirAsia belum pernah mengalami kecelakaan, dan semoga jangan pernah, amiiiin. Total perjalanan adalah dua jam dari Jakarta ke Kuala Lumpur terus disambung delapan jam dari Kuala Lumpur ke Sydney. Jadi sekitar 10 jam perjalanan. Tentunya durasi ini belum termasuk antri di imigrasi, pengecekan tas, dll. Alhamdulillah, perjalanan pulang pergi lancar, terutama perjalanan perginya. Lepas landas dan mendarat bisa dibilang sangat mulus.

Ada juga JetStar, anak usaha Qantas Airlines. Ini juga murah, lebih mahal dikit dari AirAsia, tetapi masih terjangkau menurutku. Waktu itu aku tidak memilih JetStar karena harus transit dua kali. Jika mau langsung ke Sydney dari Jakarta, sekitar tujuh jam perjalanan, teman-teman bisa naik Garuda Indonesia atau Qantas. Tetapi ya itu, mahal banget untuk ukuranku. Bisa habis puluhan juta hanya untuk tiket pesawat. Sayang saja sih menurutku karena untuk durasi hanya terpaut tak lebih dari lima jam. Tetapi, tentunya fasilitas di Garuda dan Qantas lebih baik. Semuanya tergantung kantong masing-masing.

Image

kios bunga mungil nan cantik ini obyek jepretan favoritku di Sydney. Foto aku ambil di dekat Eddy Avenue, Central Station

Tips Mencari Hostel

Hotel dan hostel itu berbeda. Memesan di hotel berarti memesan kamar, sedangkan memesan di hostel berarti memesan tempat tidur saja. Jadi beda jauh. Untuk urusan ini aku membuat kesalahan fatal. Jujur saja. Awalnya, aku memesan satu tempat tidur di sebuah hostel di daerah King Cross. Setelah membaca ulasan beberapa pengguna, aku pikir tempatnya bagus. Ternyata, beberapa hari sebelum aku terbang ke Sydney, aku baru tahu bahwa King Cross merupakan kawasan malam di Sydney. Kaget banget! Bukan masalah hiburan malamnya yang membuatku resah, tetapi aku takut akan terjadi transaksi narkoba atau tindak kriminal pas aku tinggal di sana. Akhirnya, buru-buru aku batalkan dan saat mencari hostel baru, sudah agak terlambat. Aku menemukan hostel yang sebelumnya aku pernah bilang agak kotor dan stafnya kurang ramah tadi. Selain itu, ada beberapa hostel yang sayangnya sangat jauh. Yang lain tinggal hotel mahal. Jadi saranku, selain hostel pelajari juga wilayah hostel itu berada. Jika memperoleh hostel ‘backpacker’ di daerah Central Station akan lebih baik karena kemana-mana enak banget tinggal jalan kaki. Atau jika ada uang berlebih, bisa tinggal di hotel sehingga lebih privat. Catatan saja, tarif hostel ‘backpacking’ di Sydney bisa mulai Rp300an ribu per malam, tergantung lokasi Lumayan murah menurutku. Sebenarnya, hostel yang aku tinggali ada keuntungannya juga. Strategis dan kemana-mana dekat. Dengan berjalan kaki, aku bisa mengunjungi kawasan Opera House dan Circular Quay berkali-kali. Keuntungan tinggal di hostel ramai-ramai adalah bisa kenal banyak orang dari berbagai negara. Waktu itu, aku mempunyai kenalan cewek-cewek asal Jerman yang bela-belain lulus SMU langsung kerja sebagai pelayan restoran atau staf mall demi memperoleh uang dan pengalaman hidup di Sydney. Ada pula yang setahun bekerja di peternakan di Selandia Baru. Salut!

IMG_0152

toko mewah bergaya kuno namun megah ini banyak dijumpai di pusat kota Sydney, terutama kawasan George Street.

Sholat

Tentunya sangat sulit menemukan masjid di Sydney. Ya iyalah, hahahaha! Untuk menentukan kiblat, teman-teman bisa membeli penunjuk Kabah mini di toko buku. Harganya murah, sekitar Rp30an ribu. Waktu itu aku belinya di toko buku Gunung Agung. Untuk memastikan jadwal adzan, situs seperti ini http://www.islamicfinder.org/prayerDetail.php?city=Sydney&state=02&country=australia&lang bisa membantu.

Cuaca

Saat aku ke sana, akhir November dan minggu awal Desember, cuaca di Sydney adalah musim panas. Tetapi jangan dibayangkan akan sepanas di Jakarta ya. Suhu di Sydney sekitar 20an derajat Celsius. Jika hujan, tentunya suhu akan lebih dingin. Suhu di pagi hari bisa sangat dingin, menurutku. Yang membuat Sydney terasa dingin bahkan di suhu seperti itu adalah anginnya. Untuk bulan lain, maaf aku tidak tahu karena tidak mengalaminya sendiri. Mungkin bisa dicari di situs lain. Yang pasti, saranku sih selalu bawa jaket kemana-mana. Buat yang pakai jilbab bisa pakai manset. Terus, aku selalu membawa pasmina. Syal juga bisa. Kaos kaki jangan lupa. Hal ini untuk mengantisipasi angin yang lumayan dingin atau hujan yang bisa datang sewaktu-waktu. Secara keseluruhan, aku suka cuaca saat ini di Sydney karena terasa sejuk meski ya kadang dingin. Tak ada polusi. Langit masih terlihat biru bersih. Asyik pokoknya.

Image

Darling Harbour

Suasana Siang dan Malam

Lagi-lagi karena ini adalah kali pertama aku ke negara bermusim empat, aku rada kaget menemukan bahwa waktu malam di Sydney sangat pendek sedangkan waktu siang terasa sangat panjang pas aku tinggal sebentar di sana. Jam 5 pagi, cahaya matahari sudah terlihat terang sedangkan jam 8 malam langit masih terasa seperti jam 5 sore. Jam 7 malam aja aku masih asyik main di taman.

Makan

IMG_0159

Kingsford. Kawasan sesepi ini masih di Sydney. Pusat makanan Asia, termasuk Indonesia.

Ini adalah kendala terbesarku selama enam hari di sana. Awalnya aku pikir aku bisa tahan makan a la Barat, seperti roti atau burger, selama berada di Sydney. Kenyataannya, baru hari pertama saja perutku sudah memberontak. Aku nggak tahan lama-lama makan roti. Mana roti di sana rasanya aneh. Bumbunya kurang berasa. Untuk kawan-kawan yang biasa makan makanan Barat, katakanlah spaghetti atau pasta, ini bisa sangat membantu untuk berhemat. Sayangnya aku tak bisa hidup tanpa nasi. Jadi, hari kedua aku bela-belain pergi ke daerah bernama Kingsford, yang jauh dari pusat kota. Di daerah ini ada beberapa restoran masakan Indonesia. Setiap kali ke sini, aku berasa pulang ke rumah karena menemukan nasi dan makanan khas nasional lainnya. Selain merogoh kocek buat naik bus, makanan di sini harganya lumayan mahal. Rata-rata bisa habis A$10 dolar untuk sekali makan. Tetapi ada juga restoran yang harganya di bawah itu. Biasanya aku makan dua kali. Satu untuk makan siang di tempat, satunya lagi untuk dibungkus untuk makan malam. Tetapi, jangan bayangkan rasanya seenak di Indonesia ya. Contohnya, aku pernah beli nasi goreng yang harganya A$10. Porsi emang besar tetapi rasa kalah jauh dari buatan abang nasi goreng deket kos. Huhuhu, seumur-umur baru kali ini makan nasi goreng harganya yang bila dikurs-kan adalah Rp110 ribu… Kalau makan di McD, harganya bisa di bawah A$10 untuk sekali makan, tergantung menu yang kita pesan.

IMG_0210

Penampakan nasi goreng seharga Rp110 ribu *tepok jidat*

IMG_0153

Kios bunga lagi. Kali ini diambil di daerah sekitar Queen Victoria Building.

Panduan Berlalu-lintas

Pejalan kaki

Enak sekali berjalan-jalan di Sydney. Cuaca yang sejuk seringkali membuatku lupa bahwa aku belum makan siang atau bahwa aku sudah berjalan sangat jauh. Setiap kali mau menyeberang si pejalan kaki harus memencet tombol yang ada di setiap tiang tempat mau menyeberang. Ada pula jalan kecil yang tak ada tombolnya, nah ini berarti bisa tinggal jalan tanpa perlu memencet tombol semacam itu.

IMG_0155

Natal akan segera tiba. Masih di sekitar Queen Victoria Building.

Naik bus

Ini adalah kunci segala informasi mengenai transportasi umum di Sydney http://www.transportnsw.info/. Lengkap banget dan akurat. Mau kemana, rutenya bagaimana, ongkos berapa, beli tiket dimana ada di situ semua. Saking banyaknya informasi yang ada, aku sampai bingung sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya saja ke penjaga loket kereta api dan penjual bus setiap kali aku hendak naik. Secara umum, informasi transportasi di Sydney adalah sebagai berikut:

  1. Tarif bus umum di Sydney lumayan mahal dan dibagi berdasarkan ‘section’ atau jarak. Intinya, penumpang hanya membayar sebanyak jarak yang akan kita tempuh. Tetapi, tetap saja mahal menurutku. Sebagai contoh, untuk jarak terdekat yakni hingga 1,6 km tariff bus sekali naik A$2 dan 60 sen. Untuk kereta harganya adalah A$3 dan 60 sen. Hitung aja ke rupiah. Maka dari itu, aku hanya naik bus dan kereta hanya jika jarak jauh dan tidak mungkin ditempuh dengan berjalan kaki.
  2. Bus dan kereta di Sydney sangat nyaman. Untuk bus, ada dua pintu. Naik harus dari pintu depan. Kalau turun bisa dari pintu depan atau pintu tengah. Sebagai catatan, bus di Sydney dibagi menjadi dua. Ada yang “Prepay” dan ada yang nggak. “Prepay” maksudnya kita harus membeli tiket di toko atau lokasi yang menjual tiket bus. Ada tandanya biasanya. Dan jumlahnya banyak meski tak selalu dekat dengan halte tempat kita naik. Kita nggak boleh membeli tiket sama supir. Ada pula bus dimana tiket bisa dibeli sama supirnya. Nanti tiket tinggal dimasukkan ke dalam mesin gitu di dalam bus. Bus tidak selalu berhenti di setiap halte. Bus hanya berhenti bila ada penumpang yang ingin naik. Tiap kali mau turun, tekan tombol STOP yang ada di dalam bus. Kalau kereta lebih nggak ribet. Tiket bisa dibeli di mesin atau sama petugasnya langsung. Dan nyaman banget kereta di Sydney. Aku mendamba Jakarta bisa mempunyai transportasi seenak itu.

ImageThe Rocks, kawasan bersejarah yang masih tertata dengan sangat apik dan bersih.

Biaya

Hampir setiap teman yang mengetahui niatku ke Sydney akan selalu mengatakan begini: “Sydney kan mahal En?” Hahahaha! Pendapat mereka memang betul tetapi aku sudah menyiapkan jurus untuk mengatasinya. Tentunya sebelum aku ke sana segala faktor, apalagi uang, sudah sangat aku pertimbangkan dengan masak. Biaya hidup di Sydney memang sangat mahal. Sebagai contoh, air mineral semacam Aqua 600 ml harganya bisa mencapai Rp30an ribu jika dikonversikan ke rupiah dengan kurs saat ini. Makan bisa Rp100 ribu setiap kali masuk ke restoran. Tetapi, jangan mikir rupiah melulu. Bisa stres sendiri. Ada teman yang pernah bilang, “Wah duitmu banyak dong En?” Uangku nggak yang sampai beratus-ratus juta kok. Aku mengandalkan uang tabungan hasil kerja kerasku sekitar tujuh tahun bekerja di Jakarta. Dan bukan berarti harus mengumpulkan duit selama tujuh tahun loh. Waktu pertama kali bekerja aku nggak pernah kepikiran akan menghabiskan banyak uang di Sydney. Urusan uang, aku selalu berprinsip untuk selalu mengutamakan kebutuhan dan jangan mudah tergoda membeli barang yang kurang perlu. Jika ternyata tabunganku akan kupakai buat ke Sydney itu semua adalah rencana Tuhan. Sebenarnya, aku baru benar-benar kerja keras bahkan saat akhir pekan setahun terakhir ini. Sabtu-Minggu sering aku habiskan dengan menerjemahkan buku atau dokumen pesanan orang. Sangat membantu sekali untuk biaya selama di sana. Otak udah mau membeku karena kupakai kerja hampir setiap hari. Istirahat pun kurang. Demi Ale… hal ini pun aku tempuh. Berapa biaya untuk ini semua? Di atas Rp10 juta tetapi masih jauh di bawah Rp20 juta. Pasnya berapa aku tidak menghitung secara pasti. Total biaya di sana masih aman dari zona normal tabunganku jadi aku tak mau ambil pusing lagi. Biaya itu sudah termasuk membeli tiket bola, membayar tiket pesawat, hal-hal kecil hingga aku kembali ke Jakarta. Banyaknya sumber pendapatan setiap bulan memang penting tetapi menurutku cara kita mengelola uang jauh lebih menentukan.

Tips Berhemat

IMG_0171

Numpang narsis di depan katedral St. Mary, hehehe.

Selalu ada celah untuk berhemat di tengah tingginya biaya hidup di Sydney:

  1. Fokus pada tujuan
    Mulai dari museum, kebun binatang, pantai, Sydney mempunyai banyak tempat wisata. Ada yang gratis tetapi banyak pula yang harus membayar puluhan dolar Aussie untuk bisa masuk. Saat di sana, ada dua tempat wisata yang aku lewatkan: Featherdale Wildlife Park dan Bondi Beach. Sedikit nyesel terutama yang kebun binatangnya karena aku ingin ketemu sama penguin tetapi ya sudahlah. Praktis, aku hanya membayar tiket bola yang sudah lunas bahkan saat aku belum ke Sydney. Lainnya adalah GRATIS! Enaknya, Sydney ada banyak tempat wisata yang gratis dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki; Opera House, Harbour Bridge, The Rocks, Hyde Park, Royal Botanic Garden, dll. Letaknya pun berdekatan. Yang terpenting adalah fokus bahwa ke sana adalah ingin bertemu dengan Ale dan nonton bola! Lainnya bisa disambangi kapan-kapan lagi.
  2. Stamina

Salah satu kesalahan yang aku lakukan adalah aku suka lupa makan saking asyiknya menggelandang di Sydney. Bagi pecinta sejarah dan taman seperti aku, Sydney ini bak surga. Setiap sudut kota terasa indah karena banyak bangunan kuno yang masih terawat dengan sangat baik. Untungnya, meski sering melewatkan sarapan, aku selalu membawa air putih. Ini kunci ampuh melawan dehidrasi dan membuatku kuat jalan meski berjam-jam tidak makan. Jika stamina bagus enak bisa menghemat uang transpor karena Sydney ini kecil menurutku. Jalan-jalan di sini enak. Kalau lelah bisa melipir ke taman kota yang sejuk. Bisa tiduran di atas rumput yang segar dan bersih. Fantastis!

IMG_0175

Taman kota Hyde Park. Terletak di jantung pusat kota Sydney.

3. Makan

Buat yang gemar makan ‘junk food’ enak sekali karena makan di McD bisa jauh menghemat. Kalau aku, ya seperti yang aku bilang tadi, agak susah karena harus makan nasi, hehehe.

Keramahan warga Sydney

IMG_0179

Berani mengalahkan kakek-kakek ini? Hehehe. Masih di Hyde Park.

Tak perlu canggih dalam berbahasa Inggris untuk bisa menikmati Sydney. Aku pernah bertemu dengan dua cowok asal Jepang yang pernah aku minta tolong untuk memfoto diriku di depan katedral St. Mary. Mereka minim sekali berbahasa Inggris tetapi tetap terlihat sangat menikmati waktu mereka. Hal yang paling menyenangkan dari Sydney adalah warganya sangat ramah, terutama terhadap turis. Kota ini sangat multi budaya. Penduduk dari berbagai bangsa ada di sini. Penduduk di sini juga suka tersenyum, bahkan sama orang asing. Kata-kata seperti “how are you” setiap kali masuk toko adalah hal yang sangat lumrah. Biasanya seusai mengucapkan “thank you”, aku mengucap “have a good day”. Di Sydney, ungkapan semacam itu sangat mudah ditemukan. Jika mau nanya arah, nyasar, hingga minta foto tak perlu ragu untuk meminta tolong ke warga yang kebetulan lewat. Asal sopan dan tersenyum, mereka pasti mau membantu. Sudah sering aku buktikan selama di sana, hehehe.

IMG_0197

Bangunan macam ini membuatku lupa kalau aku sedang kelaparan, hahaha. Di depan Circular Quay

Baiklah, ini tulisan keduaku. Tulisan ketiga, mungkin yang terpenting soal bagaimana bertemu sang kapten, akan segera menyusul… Makasih yang udah baca…

 IMG_0198

Circular Quay, salah satu jantung wisata di Sydney. Berdekatan dengan Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge.

IMG_0203

Salah satu ikon di Macquarie Square, tempat nongkrong orang kantoran di Sydney saat makan siang.

IMG_0135

Queen Victoria Building. Di dalamnya adalah pusat perbelanjaan barang-barang mewah yang harganya tak bisa kujangkau, hohoho.

Advertisements
Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s