Image

Antri ya…

Mudah tidak bertemu dengan Ale? Jawabannya adalah GAMPANG! Jika mengingat betapa ribetnya perjuanganku mengurus visa dll, rasanya geli sendiri karena ternyata untuk bertemu, meminta foto dan tanda tangan dari sang kapten bisa dibilang sangat mudah dan sederhana caranya. Awalnya, aku sudah membayangkan yang aneh-aneh; bahwa akan ada barikade polisi dan semacamnya di tempat Sydney FC berlatih. Ternyata itu semua TIDAK ADA. Ini langkah yang aku lakukan:

Mencari Tahu Jadwal Latihan, Jam Latihan, Durasi Latihan

Image

Plakat Sydney FC di depan paviliun, yang berfungsi sebagai kantor dan ruang ganti pemain

Setelah memastikan tanggal keberangkatanku ke Sydney, aku kembali menghubungi humas Sydney FC yang alamat emailnya sudah aku sebutkan dalam tulisanku yang pertama. Bisa dibilang aku agak bawel urusan ini. Berkali-kali aku mengirim pertanyaan rinci perihal ini. Bagiku, penting sekali untuk “mengamankan” momen latihan ini karena akan sangat sulit bila aku mengandalkan foto  bersama Ale setelah laga Sydney FC Vs Newcastle Jets. Waktu yang ada akan sangat sempit. Belum lagi jika Sydney FC kalah (untungnya menang sih), bisa jadi Ale bête dan lain sebagainya sehingga dia enggan meladeni permintaan foto dan tanda tangan. Namanya juga manusia biasa. Maka dari itu, kebaikan humas Sydney FC ini aku manfaatkan dengan baik. Selama aku tinggal di sana, aku mempunyai dua kesempatan untuk melihat Sydney FC berlatih; Jumat tanggal 29 November 2013 dan Senin tanggal 2 Desember 2013. Aku bertanya tentang jam latihan, durasi latihan, hingga apakah aku harus memenuhi syarat tertentu agar bisa datang melihat latihan mereka. Harap diketahui bahwa Sydney FC ini tidak setiap hari berlatih. Durasi latihan mereka pun cukup pendek, yakni satu jam ketika aku ada di sana. Melalui surat elektronik itu, aku istilahnya “kulo nuwun” terlebih dahulu. Bertanya soal izin dan tata tertib masuk ke tempat latihan Sydney FC penting sekali bagiku karena aku mempunyai pengalaman yang kurang mengenakkan di Jakarta soal ini. Pas humas Sydney FC bilang aku cukup datang saja tanpa perlu mengurus izin dan lain sebagainya, aku kaget. Ah masak iya sih begitu saja langsung boleh masuk? Bukannya aku tidak percaya, hanya terasa terlalu gampang untuk menyaksikan seorang Alessandro Del Piero berlatih dengan cara sesederhana itu. Aku pun bertanya ke mas Pandu, yang pernah beberapa kali bertemu dengan Ale, soal ini. Jawabannya pun sama.

Mempelajari Lokasi Latihan, Rute Kereta, dan Bangun Sepagi Mungkin

Image

Paviliun Blue Barclay milik Sydney FC

Meski Sydney FC berkantor dan bertanding di kawasan Allianz Stadium, Moore Park, tempat latihan tim ini nun jauh di Macquarie University Sports Fields. Bahkan universitas ini tidak masuk ke dalam peta pusat kota Sydney. Walau demikian, mencapai universitas ini tidak susah. Untuk menghemat waktu, aku bahkan sudah mencari tahu rute bus dan kereta untuk mencapai tempat ini jauh sebelum aku ke Sydney. Awalnya aku ingin naik bus tetapi akhirnya aku lebih memilih kereta karena tak banyak gonta-ganti moda transportasi. Kalau naik bus akan lebih sering gonta-ganti kendaraan. Parahnya, Sydney FC berlatih pagi hari, yakni jam 08.30, walau pada kenyatannya agak molor. Karena aku tidak tahu dimanakah tempat itu berada, aku bertekad pergi sepagi mungkin. Walhasil, Kamis malamnya aku tidak bisa tidur karena takut kesiangan. Jam 6an pagi aku sudah berangkat ke King Cross station, sekitar 500 meter dari hostel tempat aku menginap. Rutenya adalah aku naik kereta dua kali. Dari King Cross ke stasiun Town Hall dengan membayar A$3 dan 60 sen lalu dari Town Hall aku naik kereta lagi menuju stasiun Macquarie University dengan membayar A$5. Perjalanan naik kedua kereta ini sekitar satu jam. Nah turun dari stasiun ini lah proses nyasar dimulai. Aku bertanya ke beberapa orang letak tempat latihan tersebut, yang tidak semuanya tahu. Belakangan aku baru sadar aku nyasar karena salah ambil belokan, LOL! Sebenarnya dari stasiun tempat aku turun tinggal lurus dan ambil belokan terakhir. Ancer-ancernya adalah lokasi latihan lumayan dekat dengan Talavera Road. Untuk mencapai lokasi latihan diperlukan proses jalan kaki yang cukup melelahkan karena kontur tanah yang naik turun. Begitu menemukan ada dua halte mungil saling berhadapan, tinggal ambil kanan dan di situlah ada plakat besar dengan logo beberapa klub olahraga yang berlatih di sana, salah satunya adalah Sydney FC. Begitu sudah sampai di lapangan tinggal duduk atau berdiri manis hingga sesi latihan selesai. Mudah kan?

Image

Stasiun Macquarie University

Image

Kalau udah nemu ancer-ancer ini berarti lokasi sudah dekat

ImageHalaman depan paviliun yang tampak asri

ImageBalkon paviliun

Image

Logo klub yang berlatih di tempat ini

Kesan Pertama Bertemu dengan Ale

Jam menunjukkan pukul 8 lebih dan suasana masih terasa sangat sepi. Begitu masuk ke kawasan latihan di kompleks universitas ini, paviliun Sydney FC langsung berada di bagian paling depan. Pas aku sampai ke tempat tersebut, aku sudah melihat beberapa pemain Sydney FC lalu lalang antara tempat parkir dan paviliun tersebut. Aku rada takut dan deg-deg. Selain karena hendak bertemu dengan Ale juga karena aku takut diusir. Meski sudah jelas-jelas boleh masuk, tetap saja hati ini belum tenang. Hanya ada beberapa pekerja yang berada di luar paviliun. Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan tidak terlalu memperhatikan kedatanganku. Untungnya… Agar tidak terlihat aneh, aku membaca denah di depan paviliun tersebut. Baru sebentar mempelajari denah kompleks tersebut, mataku sontak kaget begitu melihat sosok Ale tiba-tiba muncul di balkon paviliun itu. Hah? Itu Ale bukan sih? Hanya dalam kedipan mata, dia masuk lagi ke dalam paviliun dan aku pun terpana antara kaget dan bahagia.

Image

lapangan latihan Sydney FC

Image

Ale dari kejauhan. Waktu itu aku nggak ‘zoom’ karena gaptek soalnya kamera (terpaksa) baru beli

Tak berapa lama pemain Sydney FC sudah mulai berlatih di dua lapangan berbeda tetapi aku tak lagi melihat Ale. Akhirnya aku berdiri di depan lapangan yang menghadap ke paviliun sambil tetap merasa was-was takut diusir. Pas aku masih berdiri tiba-tiba aku melihat sesosok cowok muncul. Aku pikir dia pemain Sydney FC tetapi usut punya usut ternyata dia menunggu Ale juga. Kami awalnya menunggu Ale di lapangan tempat pemain Sydney FC berlatih. Ada logo sponsor untuk menandakan bahwa ini adalah lapangan tempat Sydney FC berlatih. Ada wartawan juga saat itu. Ale masih belum nongol lalu aku mengikuti langkah fans tadi kembali ke paviliun. Yang dinanti pun keluar juga. Dengan langkah cepat Ale bergegas menuju ke lapangan untuk bergabung bersama teman-temannya. Meski aku termasuk gigih, aku sebenarnya orangnya nggak enakan. Itulah sebabnya, meski Ale berjalan di sampingku aku tak mengucap sepatah kata pun. Menyapa pun aku tidak berani karena dia sedang tergesa-gesa. Yang aku lakukan saat itu adalah tersenyum dan beberapa kali mengambil fotonya. Dan untung saja aku lebih memilih diam karena Ale tak menggubris omongan fans cowok tadi yang berbicara dalam Bahasa Italia. Ale memang sudah terlambat berlatih pagi itu. Kesan pertama yang aku dapatkan saat bertemu dengan Ale adalah dia jauh dari kata sombong meski pendiam. Kalau aku bilang ramah rasanya kurang pas juga. Karena waktu itu dia nggak senyum kepadaku atau apa. Dia hanya senyum ke cowok tadi karena diajak ngobrol. Kalau senyum ke orang asing kayak aku tanpa inisiatif obrolan rasanya aneh juga sih. Saat itu, dia diam dan berjalan cepat. Pas aku balik ke lapangan tempat Sydney FC berlatih fans sudah mulai ramai. Makin siang makin ramai. Rasanya sungguh menakjubkan saat itu. Tak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan semuanya. Seorang pemain yang selama 13 tahun hanya bisa aku saksikan melalui layar kaca dan membaca beritanya melalui media kini sedang berlatih di depanku. Dan yang membuat segalanya makin luar biasa adalah kita benar-benar bebas melihat mereka berlatih. Lapangan hanya dibatasi oleh pagar yang cukup pendek. Jadi kalau mau jahil, mau melompat pun sebenarnya aku bisa, hahahaha!

Image

Ale banyak melakukan gerakan pemanasan sendirian

Betapa beruntungnya aku. Jika 10 tahun yang lalu aku ke Turin pun, kecil kemungkinan aku bisa menyaksikan Ale berlatih bola sedekat dan sebebas ini. Aku sendiri hanya mengambil foto seperlunya. Aku ingin meresepi momen yang sudah lama aku tunggu ini tanpa gangguan klik kamera. Sensasi kebahagiaan ini tak akan pernah bisa digantikan oleh jepretan kamera mahal sekali pun. Melihat Ale berlari, menendang bola, jongkok, berjalan, melihat dia bercanda… Mempelajari ekspresi muka dan bahasa tubuhnya di pagi yang mendung itu rasanya bak mimpi. Bahkan, hingga sekarang pun aku masih tidak percaya. Andai saja waktu bisa terhenti saat itu saja…

Image

“Our bodies grow old, but class does not” Ale dalam bukunya “Playing On”

Image

Maaf foto agak kabur

Yang aku pelajari dari latihan itu adalah Ale sosok yang sangat serius. Dia memilih melakukan pemanasan sendiri sedangkan yang lain bergerombol sebelum akhirnya semuanya bergabung menjadi satu sesi. Dengan seabreg gelar bersama Juventus dan tim nasional Italia, aku sangat salut karena Ale tetap serius menjalani latihan pagi itu. Maksudku begini. Aku pernah membaca di satu blog bahwa sepakbola bukan olahraga primadona di Australia dan Sydney FC bukanlah klub raksasa semacam Juve atau Madrid tetapi Ale tak pernah menganggapnya remeh. Cara dia memompa semangatnya agar tetap terus mencari tantangan di usianya yang hampir kepala empat benar-benar membuatku kagum. Banyak pemain yang satu era dengan dia mungkin lebih memilih membuka restoran atau menjadi pelatih, tetapi Ale tetap ingin terus bermain… Bagi dia yang terpenting adalah terus bermain bola.

Image

tetap melakukan pemanasan sendiri meski satu lapangan dengan yang lain

Image

Mungkin ini semacam latihan menghindari lawan saat berlari

Dari latihan itu aku juga mengerti mengapa ban kapten Juve bisa awet melekat di lengannya. Ale adalah sosok pemimpin yang bagus. Terlihat jelas dia membantu mengarahkan teman-temannya yang lebih muda untuk menerjemahkan kemauan sang pelatih di lapangan. Jadi dia lebih berfungsi sebagai ‘playmaker’ meski posisi dia sebenarnya adalah penyerang. Oh ya, beberapa kali Ale terlihat kesal dan marah kepada temannya yang kurang sigap. Lumayan membuatku terkejut melihat ekspresi marahnya karena selama ini menurutku dia orang yang lembut.

Image

Kakinya Ale ternyata kecil

Sesi latihan selesai, saatnya aku beraksi. Aku mendekati dia begitu Ale keluar dari lapangan. Lagi-lagi, meski aku yang berdiri paling dekat aku tak berani memulai meminta tanda tangan atau berfoto bersama. Tapi tak perlu cemas. Meski terlihat diam, Ale paham betul ada banyak fans yang menunggu dari tadi. Saat fans yang lain sudah mulai mendekat dia pun mulai melayani permintaan kami. Si cowok Italia yang aku sebut tadi termasuk dapat giliran pertama. Awalnya aku agak cemas tidak kebagian giliran foto. Untungnya aku berada di Sydney bukan Jakarta. Fans di sini sangat tertib dan saling menghormati satu sama lain. Setelah beberapa saat Ale melayani foto ke beberapa fans, dia tiba-tiba sejenak menghentikan aktivitasnya dan membungkukkan badannya ke sebelahku sambil mengarahkan matanya ke kamera yang terlebih dahulu aku kasih ke kakek berpayung. Dan klik! Foto tak lebih dari lima detik yang akan menjadi kenangan paling berkesan dalam hidupku pun tercipta. Makasih Tuhan…. Bahagia bukan kepalang rasanya. Aku bilang “thank you” tetapi Ale tak membalas karena sudah sibuk dengan fans yang lain. Satu per satu dia meladeni kami semua. Ada peristiwa lucu pas Ale mau memberikan tanda tangan. Pas mulai sesi tanda tangan Ale kebingungan karena dari beberapa spidol atau ‘marker’ yang kami sodorkan dia menolak. Aku pun spontan menyodorkan ‘marker’ yang sengaja aku bawa dari Jakarta, eh dia bilang “No.” Tawaran spidol fans yang lain juga dia tolak hingga akhirnya nemu satu spidol yang menurut dia pas. Ada-ada aja nich si Ale. Meski di satu sisi aku sedikit sebel karena ‘marker’-ku ditolak, tetapi di lain sisi interaksi semacam ini sangatlah menyenangkan. Lucu aja pemain sekelas dia perhatian sama yang namanya spidol atau ‘marker’, hahaha. Rasanya seperti tidak melihat Ale sebagai maha bintang saat itu karena dia terlihat dekat dengan kami. Aku pun langsung menyodorkan jersey yang aku pakai untuk dibubuhkan tanda tangan. Dia agak menarik jersey yang aku pakai lalu langsung menandatanganinya. Sudah dapat foto dan tanda tangan pula.  Senangnya…. Aku sengaja langsung memakai jersey Juve dan bukan menggenggamnya karena memang sangat ingin berfoto dengan jersey itu. Dari sekian banyak pilihan jersey, pilihanku jatuh ke jersey tandang musim 1999/2000.

Image

always a boy at his heart

Saking senengnya aku mengucap ‘thank you’ lagi dan lagi hingga Ale sedikit kaget dan menjawab “you’re welcome’ sambil mengedipkan matanya ke arahku. Mungkin dia bingung kenapa aku bilang makasih berkali-kali. Andai dia tahu perjuanganku bertemu dia ya …

Image

Salah satu ekspresi Ale saat sedang kesal

Pemain yang satu ini memang super baik. Bagi fans yang membawa buku atau topi dia menanyakan nama mereka, meminta mereka untuk mengeja nama mereka, menuliskannya lalu menandatanganinya. Waktu itu, aku berbarengan dengan sekelompok siswa berwajah oriental. Ada pendampingnya juga. Ale pun malah mengajak mereka berfoto bersama. Sebenarnya waktu itu aku ingin sekali bilang agar Ale datang ke Jakarta tetapi tidak sempat karena waktu yang mepet sedangkan banyak fans yang menanti. Jadinya ya sudah… aku jeprat jepret dia saja saat itu. Sepertinya semua sudah mendapat apa yang dimau karena aku tidak mendengar keluhan dan semacamnya. Ada peristiwa lucu lagi. Begitu sesi tanda tangan selesai, Ale menyodorkan spidol yang dipakai kepadaku dan yang lain, bermaksud untuk mengembalikannya. Aku bilang “that’s not mine”. Ya ampun, ingat-ingat aja si Ale soal mengembalikan spidol itu… Sesi jumpa fans ‘dadakan’ selesai, Ale pun kembali ke paviliun. Rasa ngantuk, lapar dan dingin yang kurasakan benar-benar terbayarkan sudah saat itu. Empat sifat Ale yang aku pelajari: pendiam, serius, kapten yang tegas dan idola yang sangat baik.

Perasaanku saat itu mungkin seperti anak kecil yang kegirangan setelah mendapat hadiah mainan dari orang tua yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Ingin sekali aku melompat tetapi sekuat mungkin aku tahan karena banyak orang, hahahaha. Selama sesi itu aku tersenyum seperti orang gila hingga aku lupa bahwa malam sebelumnya aku tidak tidur sama sekali…

Image

tanda tangan Ale untuk “Playing On”

Jika ada pepatah yang mengatakan kesempatan terkadang tak datang dua kali itu benar adanya. Senin, 2 Desember, aku ke tempat latihan itu lagi. Ketika aku duduk sembari melihat pemain Sydney FC kembali berlatih, ada pria agak tambun mendekatiku dan kami pun mulai bercakap-cakap. Rupanya, pagi yang kali ini lumayan cerah itu kami sama-sama menunggu sosok yang sama. Aku memburu tanda tangan Ale untuk buku “Playing On” yang baru saja aku beli sedangkan ia mengharapkan tanda tangan Ale untuk bola yang ia bawa. Aku pun bertanya padanya: “Apa klub sepakbola favoritmu?” Ia jawab: “Barcelona.” Dengan agak kaget, aku langsung menimpali: “Loh! Kalau kamu suka Barcelona, kenapa kamu mau bertemu dengan Ale?” (karena Ale bukanlah pemain Barcelona). Dengan sederhana ia menjawab yang kurang lebih seperti ini: “Akan menjadi kebahagiaan bagi siapa pun untuk bisa bertemu dengan Del Piero.” Di tengah hebohnya pemberitaan media soal Cristiano Ronaldo dan Lionel Messinya, aku benar-benar bangga magnet Ale masih melekat kuat bagi penggila bola, termasuk fans Barcelona asal El Salvador ini.

Image

Masih untuk “Playing On”

Image

Aku curiga gelang oranye ini sebenarnya milik anaknya, Tobias. Hahahaha!

Image

“Oh Tuhan! Ale menuliskan namaku di topi ini”

Image

Cheers!

Sayangnya, kami kurang beruntung. Jujur saja, aku sedikit kecewa. Untungnya, rasa bersyukurku bisa mengalahkan kekecewaanku karena aku berhasil memanfaatkan kesempatan pertama dari Tuhan dengan sangat baik. Semoga bertemu kembali Ale. Syukur-syukur di Jakarta, amiiiin….

 Image

Seperti diriku, cewek ini gagal move on. Dikiranya Ale masih kapten Juventus, hahahaha!

Image

Lihat Ale dari belakang begini rasanya seperti melihat anak kecil

Image

Taraaaa!!! Tak susah ternyata buat dapat tanda tangan ini. Makasih Tuhan. Sampai bertemu lagi Ale, amiiiin…

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s