Hatiku Hanya Mengenal Hitam dan Putih

Juventus 3D-sumber gambar www.fm-base.co.uk

sumber gambar: http://www.fm-base.co.uk

Aku tergelitik ingin mengamini pernyataan Ale dalam bukunya ‘Playing On.’ “Ingatlah ini hanya permainan, Alex. Maksudku, aku tahu sepakbola tak sekadar permainan, dalam profesi dan hidupku, tetapi aku juga paham betul bahwa sepakbola tetap saja adalah hanya permainan.” Demikian ungkap batin Ale dalam bukunya tadi.

Terkadang aku juga berpikir mengapa ya aku hingga sekarang bela-belain bangun dini hari demi menonton Juventus. Bahkan, hal tergila baru saja aku lakukan: buang uang puluhan juta demi bertemu Ale di Sydney. Sulit bagiku untuk menjelaskan kepada beberapa teman atau kenalan yang terkejut saat aku berkata aku menghabiskan banyak uang demi Ale. Ada yang tetap kaget saat aku bilang aku ke sana demi Ale, namun ada pula yang langsung memaklumi mengapa aku mempunyai alasan yang tepat.

IMG_0161

foto koleksi pribadi

Ini sama susahnya menanggapi komentar beberapa teman yang mengutarakan pertanyaan retorik: mengapa tidak dikasih saja satu pemain bola itu satu bola daripada mati-matian mereka hanya memperebutkan satu bola? Kalau sudah urusan cinta dan gengsi, berapa pun dan apa pun akan terasa wajar meski menurut banyak orang akan terdengar kurang kerjaan dan buang-buang uang.

Hmmm… urusan logis dan tak logis menurutku relatif. Tetapi, faktanya, sepakbola memang urusan yang luar biasa. Untuk yang Ale bilang sekadar permainan ini, banyak orang bisa mabuk atau gila karenanya. Contohnya ya aku ini. Dan ada banyak Juventini atau penggemar bola lain yang jauh lebih fanatik. Itulah mengapa Real Madrid rela merogoh kocek hingga triliuan rupiah demi seorang Gareth Bale. Atau Paris Saint-Germain harus bersiap membayar pajak fantastis sebagai akibat membeli Zlatan Ibrahimovic.

IMG_0492

foto koleksi pribadi

Hingga laga ke-1000 sekalipun, Juve Vs Inter Milan pasti akan tetap menarik. Real Madrid Vs Barcelona akan tetap bisa menyedot media di seluruh dunia. Lagi-lagi, ini urusan hati bung. Langganan TV kabel pun akan dilakukan demi bisa menonton tim kesayangan.

Hubunganku dengan Juventus dimulai secara tidak sengaja dan sengaja. Tidak sengaja karena pada saat itu ayah membelikanku tabloid BOLA dengan sampul Zinedine Zidane. Inti dari artikel saat itu adalah keputusan Zidane yang memperpanjang kontraknya dengan Si Nyonya Tua. Yang membuatku penasaran bukanlah Zidane tetapi Juve. Inilah yang lalu aku sebut dengan kesengajaan. Karena aku memang sengaja ingin menonton Juve demi membuktikan rasa penasaranku. Begitu melihat Juve bermain, aku langsung jatuh cinta dan terus aku pupuk hingga saat ini. Ada semacam klik antara aku dan Juve yang sulit digambarkan. Yang pasti aku menyukai Juve karena klub ini bukan klub yang gemar membeli pemain super mahal. Entah karena persoalan uang atau apa, yang pasti aku menyukai ciri Juve yang satu ini. Aspek kedua aku cocok dengan sistem pertahanan berlapis baja a la Juve. Mungkin ini dinilai sebagai sepakbola negatif tetapi bagiku aku menyukainya. Ini adalah sifat khas Juve yang harus tetap dipertahankan meski berganti pelatih. Itu hanyalah dua dari banyak hal yang membuatku tak kan pernah pindah hati ke lain tim.

IMG_0103

foto koleksi pribadi

Sejak aku mencintai Juventus, ayahku seringkali memperingatkanku agar berhati-hati dengan fanatismeku. Dan yang beliau sampaikan sangat beralasan. Selama sekitar 17 tahun menjadi seorang Juventini, aku menyaksikan diriku sendiri berkembang dan belajar menjadi seorang pendukung yang baik. Tanpa kusadari, pengalamanku menemani Juve saat menang dan kalah banyak mengajariku tentang cara menyikapi kegagalan dan keberhasilan secara benar.

Waktu remaja, aku adalah penggemar Juve yang sangat emosional dan fanatik. Letupan emosi saat Juve menang atau stres luar biasa saat ia kalah hampir jadi santapan jiwa setiap akhir pekan. Jika Juve memang tentunya senang bukan kepalang. Tetapi, jika kalah aku bisa malu luar biasa setiap Senin pagi saat teman-teman memperolok atau menyindir Juve. Rasanya, ingin melewatkan hari itu dengan bersembunyi di bawah kolong meja saja. Dan aku sangat membenci Inter Milan. Pemain yang paling membuatku sebal adalah Ronaldo dan Francesco Totti. Aku juga sangat membenci AS Roma dan Lazio. Benci yang sebenarnya benci sampai mengeluarkan sumpah serapah. Hal paling menyedihkan saat itu adalah saat Juve harus kalah dari Lazio dalam perebutan scudetto dalam menit-menit akhir gara-gara hujan yang mengepung lapangan tempat Juve bertanding sehingga gagal menang. Lazio yang akhirnya saat itu keluar jadi scudetto pada musim 1999/2000.

juve skuat 1999-2000-sumber gambar web.tiscali.it

Juventus musim 1999/2000
sumber foto: web.tiscali.it

Aku juga sangat tidak terima banyak temanku yang menganggap Totti lebih baik dari Ale. Atau bahwa Ronaldo akan membawa Inter juara musim. Kenyataannya, Ale jauh lebih terkenal dan bisa membuat Juve juara meski harganya kalah jauh dari Ronaldo. Saking cintanya aku terhadap Juve, aku sebal sekali jika ada teman yang menjelek-jelekkan Juve meski mungkin maksudnya hanya bercanda.

Hal terparah yang aku lakukan adalah aku pernah menangis di pekarangan belakang rumah gara-gara Italia dipecundangi Korea Selatan pada Piala Dunia 2002. Aku stres sekali karena Italia benar-benar dicurangi oleh wasit saat itu. Bisa dibilang itu adalah puncak fanatismeku saat remaja.

Selama 17an tahun, aku tak selalu sreg dengan keputusan yang dibuat oleh Juve. Aku masih ingat aku pernah sangat marah saat Juve banyak membeli pemain Prancis, seperti Lilian Thuram dan David Trezequet, setelah keduanya berhasil membawa Prancis mengalahkan Italia dalam final Piala Eropa 2000. Bagaimana mungkin Juve membeli pemain-pemain itu? Tetapi perlahan, aku mulai memahami arah kebijakan Juve dan kesamaan kami yakni ingin menjadi yang terbaik membuatku akhirnya bisa menerima keputusan Juve. Pun demikian saat Juve tidak memperpanjang kontrak Ale. Aku sangat kecewa tetapi ya mau bagaimana lagi. Keinginanku ingin melihat Juve tetap tumbuh mengalahkan rasa kecewaku. Pelan tapi pasti, aku masih tetap mencintai Juve sembari tetap menyayangi Ale meski dia nun jauh bermain untuk Sydney FC. Rasanya seperti membagi dua cinta yang sama besar kepada dua orang yang berbeda.

Tetapi jangan salah ya. Hingga sekarang aku tetap kurang suka sama Trezequet meski dia banyak membuat gol untuk Juve dan adalah tandem pas untuk Ale. Hingga sekarang pun aku tetap membenci Zidane karena memecahkan rekor pemain termahal saat ia pindah ke Madrid meski di Juve dia sangat berperan besar sebagai otak serangan kala itu. Rentang waktu 17an tahun menjadi Juventini membuatku akrab dengan pergantian pemain dan pelatih. Dari sekian banyak wajah, favoritku tentu saja era akhir 1990an. Duet maut Filippo Inzaghi dan Alessandro Del Piero akan selalu menjadi yang terbaik di hatiku sampai kapan pun. Pelatih favoritku tentu saja Marcello Lippi. Skuat yang akan selalu kuimpikan ya zaman Angelo Peruzzi, Antonio Conte, Angelo Di Livio, Paolo Montero, Zinedine Zidane, Alessio Tacchinardi, Didier Deschamps, dll.

Semakin bertambah usia kini aku mencintai dan menikmati Juve dan sepakbola secara lebih logis. Tak ada lagi emosi berlebihan seperti dulu. Aku juga tak begitu stres saat Juve kalah. Tiada lagi puluhan poster besar yang menghiasi dinding kamarku. Yang tersisa kini hanya beberapa potongan koran dan tabloid tentang wajah Pippo, Ale, Juve, juga tim nasional Italia. Potongan gambar tersebut kini sudah lusuh dan jelek tetapi hingga kapan pun tak akan pernah aku sobek atau buang.

Meski secara fisik aku tak terlihat mengoleksi barang-barang berbau Juventus, aku merasa justru rasa sayangku semakin menggila. Sensasi menikmati gocekan bola pemain Juventus kini jauh lebih berasa. Aku juga heran dengan ini semua karena aku tak setiap hari mengikuti perkembangan berita soal Juve atau Ale karena kesibukanku. Tetapi aku malah tak segan mengeluarkan banyak uang demi mewujudkan mimpi masa remaja, yang meski terkadang aku lupa atau tinggalkan, tetap melambai-lambai ingin tetap diwujudkan. Tahun ini Alhamdulillah sudah bisa bertemu dengan Ale, Insya Alloh tak lama lagi bisa ke Turin, amiiiin.

Aku sendiri bersyukur mengenal dan mencintai Juve dan Ale. Bagi banyak orang mungkin akan terdengar sepele tetapi aku banyak belajar tentang mimpi dari menyayangi mereka. Awalnya hanya sekadar ingin ke Turin untuk menonton langsung tetapi lama kelamaan aku jadi ingin melihat dunia. Dan untuk bisa mewujudkannya tentu aku harus belajar dan bekerja keras. Selama masa belajar dan kerja keras itu aku menimba banyak ilmu tentang hidup dan pertemanan yang semakin menguatkanku untuk tak pernah malu atau ragu dalam mengejar mimpiku. Aku juga semakin bisa menerima kekalahan. Dulu yang terasa sangat pahit dan suka menyalahkan pihak luar sekarang berubah menjadi introspeksi diri. Dalam kehidupan pribadi, hal tersebut sangat terasa. Belajar menerima kekurangan dan terus mencari tantangan sebagai pondasi untuk terus belajar.

Mungkin yang aku rasakan juga dirasakan oleh ribuan Madridista, Milanisti, atau bahkan (malas menyebut ini) Internisti. Untuk urusan ini, aku sepakat dengan mereka. Rasa cinta, fanatisme bisa memberi motivasi yang luar biasa. Mungkin bagi pebisnis olahraga, inilah yang menjadi ‘komoditas’ untuk menjadikan cabang olahraga ini sebagai ladang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Terserah orang bilang apa. Tetapi bagiku, dan mungkin bagi penggila bola yang lain tak peduli apa klub kesayangan kami masing-masing, bisa merasakan emosi senang atau sedih karena tim kesayangan menang atau kalah; mengumpat-umpat wasit atau tim lawan; teriak di tengah malam atau dini hari, adalah hiburan tiada duanya. Mungkin bagi banyak orang hal tersebut terlihat konyol tetapi bagiku itulah yang membuat hidupku terasa sangat indah…

juventus stadium-sumber gambar wikimapia.org

Juventus stadium.
Sumber gambar: wikimapia.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s