Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.http://ninesport.co.id/kompetisi-blog-juveina14-berhadiah-meet-greet-juventus/

 

Ketidaksengajaan dan rasa penasaran membawaku mengenal Juventus.

Suatu sore pada 1997, ayahku pulang membawa tabloid BOLA. Beliau bilang hari itu ia kesulitan memperoleh tabloid RAKET sehingga untuk mengobati kekecewaanku ia membelikanku BOLA. Waktu itu aku memang sangat menggilai bulutangkis jadi aku sering minta dibelikan RAKET. Tentu saja tabloid BOLA tak banyak memuat berita bulutangkis. Agak kecewa tetapi entah kenapa mataku begitu tertarik dengan judul depannya: ZIDANE EDAN! Siapa itu Zidane? Ketertarikanku atas judul sampul itu membuatku penasaran. Aku pun membuka halaman tulisan tersebut lalu menemukan satu kata: Juventus. Saat itu aku tidak tahu sama sekali tentang sepakbola. Saking penasarannya akhirnya aku memutuskan menonton Juventus untuk kali pertama.

Sekali nonton dan aku langsung terpukau. Aku sudah tak ingat siapa lawan Juve saat itu yang pasti laga malam itu membuatku langsung jatuh hati. Aku suka cara bermain Juve yang sangat terorganisir. Menempatkan 3 bek yang sangat tangguh; barisan tengah yang sangat solid bertalenta hebat; Zinedine Zidane, Edgar Davids, Didier Deschamps. Dan 2 ujung tombak yang membuatku sangat tergila-gila; Alessandro Del Piero dan Filippo Inzaghi.

Sejak pengalaman pertama itu aku hampir tak pernah melewatkan laga Juve. Saat itu, segalanya terasa eksklusif karena belum banyak siaran bola. Paling hanya 1 atau 2 laga Serie A per pekan. Menonton Juve setiap pekan terasa menjadi momen yang sangat dinantikan. Tak peduli Senin ada upacara pagi hari, ada ujian di tengah minggu, laga Juve adalah makanan wajib, yang selalu sukses membuat emosiku meledak-ledak.

Hal yang paling membuatku menyukai Juve adalah Si Nyonya Tua ini tak begitu mementingkan pemain bintang. Bahkan, banyak bintang justru lahir dari Juve. Sebut saja Zidane, Del Piero, Arturo Vidal dan Paul Pogba.

Pemain silih berganti, generasi datang dan pergi, pelatih tak ada yang selamanya bersama Bianconneri tetapi Juve selalu di hati. Bahkan, saat calciopoli membuat tim Zebra ini harus terdegradasi ke Serie B aku semakin mencintainya. Aku belajar banyak tentang indahnya menjadi Juventini yang setia berkat lamanya perjalanan menyukai tim ini. Legenda Juve, terutama Ale Del Piero, Gianluigi Buffon dan Pavel Nedved mengajariku kesetiaan dan kecintaan terhadap suatu klub tak bisa dihargai dengan apa pun. Ale adalah pemain yang sangat istimewa bagiku. Dia berhasil membuatku melakukan hal gila yakni melakukan perjalanan ke Sydney akhir November lalu demi berfoto dan meminta tandatangannya. Dan berhasil! Tulisan tentang pertemuanku dengan Ale ada di blog ini.

Kecintaanku terhadap Juve bukan berarti tak ada masa surut. Saat kontrak Ale tak diperpanjang aku marah. Saat ini pun aku masih tak percaya Antonio Conte tak lagi melatih Juve. Tapi aku selalu ingat kata Ale; bahwa ia hanya bagian kecil dari sejarah panjang Juve. Sebagai pendukung setia pun aku harus tetap mendukung Juve meski terkadang tak menyukai keputusan klub. Tak peduli pemain atau pelatih favoritku pergi, yang terpenting adalah prestasi Juve. Dan setelah sekitar 17 tahun kebersamaan kami, melalui tawa bahagia, kekecewaan dan kesedihan, Bianconneri tiada akan pernah terganti. Kemarin. Hari ini. Selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s