Andai Cinta Bisa Membuatku Jadi Menpora

Rasanya ingin tertawa kecil menulis judul di atas sebab aku tahu betul cinta tak cukup membawaku menjadi seorang Menteri Pemuda dan Olahraga atau Menpora. Ah tiada salahnya bermimpi di siang bolong begini. Toh berceloteh tak merugikan siapa pun bukan? Paling ya perlu menoyor kepala sendiri begitu tulisan ini berakhir sebab ya memang hanya khayalan belaka.
 
Meski aku lebih banyak menulis tentang sastra dan kegemaranku membaca melalui blog ini, jendelaku mengenal dunia adalah melalui olahraga. Walau pun Juventus adalah cinta sejatiku, cinta pertamaku adalah bulutangkis. Jauh sebelum aku membaca artikel tentang Zinedine Zidane dan Juve, ayahku terlebih dahulu memperkenalkanku dengan Susi Susanti dan bulutangkis saat awal 1990an.
 
Berkat prestasi luar biasa bulutangkis di ajang Olimpiade Barcelona 1992 lalu  berlanjut sepanjang 1990an hingga awal 2000, aku belajar tentang nasionalisme. Aku mengenal pentingnya olahraga sebagai pemersatu bangsa bukan perang.
 
Setelah akrab dengan bulutangkis, ketertarikanku merambat ke banyak jenis olahraga yang lain, misalnya tenis, bola voli, bola basket, dll. Sebenarnya, sepak bola baru belakangan muncul. Meski aku bukan siswi yang tergolong brilian urusan olahraga tetapi aku cukup bersyukur dengan nilai yang lumayan bagus saat sekolah dulu. Aku bahkan sempat ingin minta dimasukkan ke sekolah bulutangkis tetapi apa daya selain tinggi badan yang pendek, keluarga juga tak punya uang. Lagi pula, zaman dulu bingung bagaimana bisa hidup hanya dengan mengayungkan raket.
Walau impian menjadi atlet lepas dari bayangan, Alloh swt menggantikan cintaku dengan cinta yang jauh lebih dahsyat yakni Sastra Inggris. Dan entah kebetulan atau apa. Akhirnya aku bisa ke Jakarta, bekerja sebagai wartawan dan mendapatkan banyak kesempatan bertemu muka dengan legenda bulutangkis, pastinya ada Susi Susanti dan Rexy Mainaky. Aku bahkan tinggal di kost yang dekat dengan kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, tempat aku dimana lumayan sering menghabiskan Minggu pagi dengan berolahraga ria di sana.
 
Hingga sekarang aku masih merinding setiap kali lewat daerah tersebut, yang merupakan tempat puncak karir atlet nasional. Aku berdecak kagum betapa cintaku semasa kecil benar-benar menjadi nyata. Ingatanku kembali ke masa mewawancarai atlet bulutangkis nasional jelang Thomas/Uber Cup 2008 atau Djarum Super Indonesia Super Series. Hampir tiap tahun aku bisa berteriak langsung di Istora Senayan sambil menyaksikan idola bulutangkis berlaga. Dulu aku hanya bisa menikmatinya di layar kaca sekarang tinggal ganti dua/tiga bus sudah sampai di lapangan tertinggi atlet bulutangkis nasional itu. Atau kalau lagi kuat ya bisa jalan kaki dari kost.
 
Belum lagi setiap kali ingat aku menonton Juventus di stadion utama Gelora Bung Karno tahun lalu rasanya syukur tak akan pernah habis terucap dari bibirku. Betapa mimpi tak pernah Ia anggap sebagai hal yang sepele. Jikalau ada yang bilang apa salah satu alasan mengapa aku enggan berpindah kost dari situ aku akan menjawab salah satunya adalah karena aku tak mau jauh dari kawasan Gelora Bung Karno. Terdengar konyol memang tetapi buat yang merasa pecinta olahraga nasional pasti tahu betapa dekat dengan tempat favorit sudah memberikan rasa bahagia luar biasa.
 
Alloh swt begitu baik kepadaku. Belum cukup dengan pengalaman tak ternilai bisa meliput bulutangkis dan olahraga yang lain, Ia memberikanku pekerjaan, yang menurutku terbaik selama sekitar 7 tahun menjadi wartawan, penerjemah, editor: menerjemahkan berita SEA Games ke-26 antara 11 dan 22 November 2011 di kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia atau KONI. Itu adalah pekerjaan yang teramat SANGAT  MENYENANGKAN SEJAUH INI DALAM HIDUPKU!
 
Menjadi bagian tim penerjemah untuk majalah ‘United and Rising’ selama sekitar dua pekan, bekerja dari sore hingga dini hari, berkenalan dengan wartawan senior olahraga nasional yang super lucu dan asyik adalah PENGALAMAN SEKALI SEUMUR HIDUP YANG TAKKAN PERNAH KULUPAKAN.
 
Sampai sekarang aku masih menyimpan majalahnya. Bagiku pengalaman kerja di saat tersebut tak hanya menjadi pembelajaran penting tentang olahraga nasional tetapi juga membuatku sangat bahagia sebab aku mengerjakan hampir semua cabang olahraga tak hanya bulutangkis. Aku bilang ke mantan editor yang membawaku ke pekerjaan itu bahwa aku tertarik mengerjakan atletik dan hampir semua cabang olahraga permainan. Namun tak semua cabang olahraga yang aku bisa. Beberapa, seperti angkat besi, ‘bowling’, catur, tak mampu aku terjemahkan dengan baik dan benar.
 
Setiap kali aku ingat masa itu rasanya aku ingin menangis karena terlampaui bahagia. Aku merasa SANGAT BERUNTUNG. Setelah itu aku selalu berpikir apa yang bisa aku lakukan agar bisa menjadi bagian yang bisa membuat olahraga nasional maju. Dulu pernah terpikir melamar menjadi kontributor media asing khusus olahraga tetapi lowongan tersebut bisa dibilang sangat jarang karena memang kebanyakan fokus ke politik atau ekonomi. Cukup kontributor atau wartawan lepas saja yang turun gunung hanya untuk tulisan panjang dan pertandingan besar.
 
Tatkala menyadari cita-citaku tak kunjung menjadi nyata akhirnya aku cukup mendukung olahraga tanah air dengan menjadi penonton yang baik, yang maksudnya menonton langsung di lapangan tatkala ada laga bulutangkis, tenis atau bola voli. Sejauh ini, tontonan wajib ya Djarum Super Indonesia Super Series saban tengah tahun di Istora Senayan. Terkadang aku juga beberapa kali menonton final ProLiga. Tahun lalu, aku bahagia sekali temanku Widi mengajakku mendukung langsung perjuangan Christopher Rungkat dkk di DavisCup. Sensasi nonton tenis itu sungguh luar biasa, sebesar energi yang dipakai buat mengembalikan bola dari lawan.
 
Satu hal yang pasti dan menurutku paling signifikan yang bisa kulakukan adalah berhenti menjelek-jelekkan petarung kita setelah gagal menjadi juara. Sudah lumayan lama aku berhenti menjadi pendukung yang tak tahu terima kasih; ada saat juara, tiada saat pujaan merana.
 
Tanpa bermaksud munafik melihat fakta memang prestasi olahraga tanah air sedang menurun, terutama untuk bulutangkis, tetapi ingin lebih condong ke apa yang bisa aku lakukan demi memberi sumbangan meski tak seberapa agar bendera Indonesia kembali lagi berkibar di ajang Olimpiade, Asian Games atau SEA Games. Biasanya orang baru terbuka matanya tentang capaian olahraga nasional apabila ada siaran langsung sepakbola atau bulutangkis di TV nasional namun enggan mengikuti latihan, jatuh bangunnya sang atlet demi bisa menjadi juara.
 
Ambisi menjadi Menpora sebenarnya sudah lama terbersit dalam benakku dan selalu meluap tatkala pengumuman kabinet baru. Berawal dari rasa bengong kemarin sore akhirnya ingin sekali menuangkannya ke dalam tulisan ditambah fakta lama sekali tak menulis tentang olahraga nasional.
 
Fakta terberat yang dihadapi oleh Menpora, siapa pun orangnya, dalam meningkatkan prestasi olahraga nasional adalah menyadari stereotip orang tua yang menilai masih susah mengandalkan masa depan dengan menjadi seorang atlet. Sepertinya keberhasilan Susi Susanti, yang kini sukses pula menjadi pengusaha, belum cukup untuk membukakan mata para orang tua. Sebenarnya untuk urusan masa depan, atlet bulutangkis bisa menjadi contoh yang bagus. Selain Susi, beberapa legenda bulutangkis kini turut berhasil menjadi pengusaha, seperti Chandra Wijaya dan Taufik Hidayat dengan bisnis sekolah dan tempat latihan bulutangkis masing-masing.
 
Hariyanto Arbi juga berhasil mengibarkan sayap melalui bisnis perlengkapan bulutangkis, bermerek ‘Flypower’. Meski masih aktif bermain, Lilyana Natsir mengincar bisnis properti sebagai tabungan masa depannya. Pemain sepakbola nasional, seperti Bima Sakti dan Bambang Pamungkas, juga mentahbiskan diri mereka lewat banderol bayaran mahal. Sayang, jumlah atlet yang tetap bersinar setelah mereka pensiun tetap tak bisa menutupi fakta banyak atlet yang merana setelah tak lagi berlaga.
 
Jikalau aku menjadi Menpora aku akan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar membuat kurikulum sekolah tak melulu soal praktek lompat, lari, renang, dsb, namun juga penanaman keyakinan bahwa menjadi atlet bisa menjadi pilihan masa depan menjanjikan. Tentunya, kurikulum bisa dipadukan dengan semangat wiraswasta.
 
Apabila aku menjadi Menpora aku akan merapikan seluruh persatuan masing-masing cabang olahraga di tanah air lengkap dengan struktur kompetisi mulai dari level terkecil demi meraih bakat terbaik untuk masing-masing cabang olahraga.
 
Andai aku menjadi Menpora aku akan menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap legenda masing-masing olahraga agar mereka menyadari bahwa pilihan menjadi pahlawan raga nasional bukanlah semata membuang masa depan, bahwa mereka benar dianggap sebagai warga negara istimewa berkat bakat dan perjuangan mereka selama ini.
 
Semisal aku adalah Menpora aku akan berusaha ‘membersihkan’ Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI dari campur tangan politik.
Apabila aku menjadi Menpora akan membuat cabang olahraga selain bulutangkis dan sepak bola tak kalah mentereng dari keduanya. Aku akan banyak menggandeng perusahaan swasta agar mau memfokuskan program Corporate Social Responsibility mereka tak hanya untuk lingkungan atau kesehatan tetapi juga olahraga.
Jikalau aku menjadi Menpora aku akan menerjunkan tim khusus guna mencari bakat olahraga terpendam seantero nusantara. Aku juga akan secara khusus melatih stafku agar mereka tak hanya sibuk di belakang meja namun juga turun ke desa dan menyaksikan kompetisi langsung antar kampung supaya menjadi yang pertama menangkap bakat.
Andai aku menjadi Menpora aku akan mendata atlet yang kini hidup kesusahan dan memberikan bantuan layak bagi mereka.
Jika aku menjadi Menpora aku akan lebih menggalakkan senam atau olahraga khusus lansia di pedesaan agar berolahraga di kala usia senja menjadi gaya hidup semua orang, tak hanya yang tinggal di perkotaan. Pastinya, aku akan lebih menggenjot kampanye olahraga sebagai gaya hidup bagi semua penduduk, baik yang tinggal di kota mau pun di pedesaan.
Begitulah mimpi saya, yang entah sudah dijalankan oleh Menpora sekarang atau sebelumnya atau belum.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s