Serba wow dalam tur Beijing (1)

istana terlarang

Tak adil memang menjatuhkan penilaian mutlak tentang suatu kota apalagi negara jika hanya bertandang kurang dari seminggu. Orang bilang ‘don’t judge a book by its cover’, jangan cuma nilai orang dari kulit luarnya. Tetapi buat turis yang jarang bepergian kayak aku, sejuta cerita tentang Beijing selama hanya tiga-empat hari bagiku layak dibilang ekstrim.

Penerbangan horor

Dari hampir 100 orang yang ikut dalam tur ke Beijing Juni 2014 lalu, panitia membagi kami ke dalam dua grup, yang satu terbang naik Cathay Pacific sedangkan lainnya naik Garuda Indonesia. Aku sendiri kebagian baik Cathay. Penerbangan dari Jakarta menuju Hong Kong untuk transit berjalan mulus. Setelah beberapa lama berhenti di Hong Kong, kami pun naik Dragonair, yang adalah anak usaha Cathay, menuju Beijing. Sewaktu berangkat, perjalanan lumayan mulus mungkin karena aku duduk di tengah. Ketika pulang dari Hong Kong menuju Jakarta menggunakan maskapai Dragonair inilah aku lumayan senam jantung. Menurutku ini lebih dikarenakan aku duduk di barisan belakang paling pojok bareng Reza, teman satu divisi. Yang ini jauh lebih ngeri pas perjalanan pulang dari Sydney ke Kuala Lumpur 2013 lalu pakai AirAsia. Yang pas naik AirAsia turbulensi yang cukup bikin deg-deg an nggak sebanding dengan Dragonair. Nggak cuma pesawat bergoyang, posisi pesawat yang berpindah ketinggian pun begitu terasa di tempat dudukku yang emang mojok. Pokoknya itu pengalaman yang nggak mengenakkan pertama kali naik Dragonair. Habis itu jetlag terasa banget begitu sampai di Jakarta. Kepala terasa banget pusingnya. Duh, nggak lagi-lagi naik Dragonair.

bandara hong kong

transit sebentar di bandara Hong Kong. Yang bandara Beijing malah lupa kefoto, haha!

Alamak bandara Beijing!

Kesan pertama menginjakkan kaki di bandar udara internasional ibukota Beijing sih standar dan positif. Bandara ini besar bangetttt…. Saking besarnya, sampai ada layanan kereta api gratis yang menghubungkan satu terminal dengan terminal lainnya. Terpukau banget aku pada awalnya. Jadi untuk mengambil bagasi saja kami harus pindah ke terminal lain dengan menggunakan kereta tadi. Kebayang dong betapa luasnya bandara yang kalau diperhatikan masih tergolong baru ini?

Tapi aku nggak akan mengulas soal ukuran bandara yang super gedhe ini melainkan layanan dan sedikit kesan kurang mengenakkan di sana. Pertama, aku merasa dibohongi sama maskapai Cathay Pacific. Ceritanya begini. Dengan dua tas yang isinya hampir mirip sebab aku nggak banyak beli oleh-oleh aku yakin bobot tas pun nggak akan jauh bedanya. Eh ternyata pas ditimbang oleh staf Cathay yang di Beijing berat tasku dikit lagi menyentuh ambang batas berat yang ditentukan oleh maskapai tersebut. Yang berarti aku dikit aja mesti rogoh kocek buat bayar bagasi tambahan! Sepertinya aku telah kena tipu!

Masih dengan rasa sebel di dalam hati, tibalah pada saat paling menyebalkan: pemeriksaan. Dan aku bisa bilang aparat di Beijing sungguh katrok! Betapa tidak? Aku lihat temen sekantorku yang pakai power bank dengan merek yang tidak mereka ketahui pun sempat tertahan. Ada pula penjepit bulu mata seorang bule wanita yang akhirnya kena sita. Aku? Ya cukuplah ada aparat cewek jutek tanpa senyum yang masih juga ngobrak-abrik tas berisikan HP padahal udah jelas aku sisihkan. Mana dia nggak ngerapiin habis ngobrak-abrik pula? Menyebalkan! Bisa aku bilang sangat ketat sih dan bahkan berlebihan urusan pemeriksaan di bandara ini jika aku bandingin sama di Jakarta, Sydney, Kuala Lumpur sama Hong Kong. Minimal, di ketiga kota tersebut, aparat masih mau kasih senyum atau bahkan menyapa.

Minim penguasaan Bahasa Inggris

Kalau berniat main ke Beijing atau ke Tiongkok aku saranin banget belajar beberapa ungkapan lazim yang diucapkan oleh pelancong sebab pengalamanku membuktikan bahkan tidak semua staf hotel bisa berbahasa Inggris. Aku bahkan sempat sebal dengan pelayan kedai gara-gara dia tidak mengerti bahasa Inggris saat aku hendak memesan kue. Penjaga toko di pusat perbelanjaan mewah di Beijing pun belum tentu paham bahasa Inggris.

Oh ya, lebih baik kuasai bahasa isyarat. Temenku sudah membuktikannya. Gara-gara pegel pelayan nggak paham bahasa Inggris pas dia mau minta gula cair akhirnya dia pakai bahasa isyarat dan sukses! Kalau menyebut harga kalkulator jadi medium paling pas. Angka di monitor kalkulator bisa jadi jembatan kalau pas nawar harga di pasar, hehe.

Kalau mau cari tempat yang warga Beijing mahir ngomong bahasa Inggris adalah di pasar Yashow. Bisa dibilang banyak pedagang yang bisa berbahasa Inggris minimal buat tawar-menawar maklum karena lokasi dekat dengan kedutaan dan sering disinggahi turis untuk berbelanja.

Advertisements
Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s