Serba wow dalam tur Beijing (2)

Akrobatik sadis

Gara-gara penerbangan yang sempat tertunda, begitu sampai di Beijing kami langsung memulai marathon kunjungan. Tempat pertama yang kami datangi adalah pentas akrobatik.

Mungkin karena ini kali pertama aku menonton akrobatik jadi sepanjang sajian akrobat aku sering merasa ngeri sendiri. Bahkan, aku sempat merem tak kuat melihat beberapa adegan yang kalau dinalar berasa ekstrim. Sepanjang pertunjukan tak henti aku berpikir bagaimana para pemain bisa seperti itu? Berapa lama mereka berlatih hingga bisa seperti ini dan itu?

Misalnya, ada sesi dimana seorang pemain akrobat wanita yang tubuhnya lentur banget. Saking lenturnya ia bisa memutarbalikkan badannya. Kebayang dong buat orang yang badannya kaku kayak aku berasa mak nyes pas melihat dia memutar badannya? Apa tulangnya baik-baik saja? Ngilu banget pas ngelihatnya…

akrobat badan

ini salah satu pose pemain akrobat cewek Tiongkok yang bikin gigi ngilu…

Ada lagi pemain akrobat cowok yang badannya ringan banget sampai dia nggak jatuh padahal berdiri di atas beberapa tingkat kayu yang tingginya hampir menyentuh titik teratas panggung. Belum lagi mikir gimana badannya bisa dilempar lalu jatuh pas di kayu yang terus ditambah hingga bertingkat-tingkat begitu. Ckckck!

tinggi

nah ini yang aku bilang soal pemain akrobat cowok tetap nggak jatuh meski ada di tempat setinggi ini

Paling ekstrim dan paling sukses bikin aku merem ya di bagian terakhir kalau nggak salah inget. Di atas panggung ditampilkan bola besar lalu dua orang mengendarai sepeda motor masuk ke dalamnya. Ya awalnya sih masih normal mereka berdua naik turun sambil mengendarai sepeda motor tadi dengan gerak yang memang sudah diatur berbeda, saat yang satu bergerak ke atas yang satu ke bawah. Atau mereka bergerak teratur mengelilingi bola tadi. Nah, lama-kelamaan jumlah pengendara bertambah dan mereka bergerak tidak lagi diatur. Kebayang dong gimana yang nonton nggak berasa serem? Sepanjang adegan yang satu ini, aku ngeri aja takut salah satu dari mereka ada yang tabrakan. Mana frekuensi gerakan pun makin lama makin cepet. Duh!

motor

aksi motor yang bikin mata terbelalak dan bilang “hah!”

Selesai akrobat lega hati ini. Nonton akrobat ini bukan wow lagi sensasinya tetapi lebih pas nyebutnya sadis!

aku dan meta

aku sama Meta habis di depan gedung pertunjukan. Itu muka udah nggak kuat nahan ngantuk, wkwkwkwk.

Nggak nyicip bebek Peking

Berhubung aku was was mengenai kehalalan daging di Beijing maka aku nggak makan bebek Peking yang tersohor itu. Selain juga aku kurang suka daging bebek yang kandungan kolesterolnya aduhai tingginya. Oh ya satu lagi, bau bebek yang sangat menyengat di restoran tempat kami makan makin membuat selera makanku makin menipis. Untungnya, nasi di situ pulen dan enak jadi udah beruntung banget bisa ngisi perut dengan nasi nyam-nyam plus sayur meski ya soal rasa tak perlu ditanya; hambar, hehehe. Untungnya lagi, sang pemandu wisata dari AGA Holiday bawa saos sambal dalam bentuk ‘sachet’ dari Jakarta. Lumayan ada rasanya dikit di lidah, hehe.

the peking academy

depan gedung The Peking Academy. Nggak tau ada hubungannya sama bebek Peking apa nggak, hahaha!

Beijing, kota tertata rapi dan bersih

Meski berpenduduk lebih dari 19 juta jiwa (2010) Beijing tidak terlihat sumpek seperti Jakarta. Bahkan di pusat perbelanjaan mewah atau pun pasar, situasi terlihat longgar, tidak memusat di tempat tersebut. Paling baru terlihat benar-benar tumpek blek di atraksi wisata utama, seperti Forbidden City, Tiananmen Square, Summer Palace atau pastinya Great Walls.

Melihat-lihat kota Beijing bak menjelajahi kota sendiri, yaitu Jakarta. Luas, bangunan menjulang tinggi dimana-mana, jalan layang, jalan tol, dll. Tetapi herannya, tak seperti Jakarta yang bisa dibilang hampir di semua sudut ramai, Beijing tak demikian. Sebagai contoh, di kawasan sekitar restoran tempat kami makan bebek Peking terdapat halte bus, itu pun kosong pas kami ke situ padahal jam masih sekitar pukul 8an malam. Belum terlalu larut kan?

jalanan di beijing

salah satu jalanan di pusat kota Beijing. sepi ya?

Yang aneh juga, suasana malam hari di Beijing tampak gelap. Jarang terlihat lampu kota yang bersinar saat langit mulai redup Beijing juga bisa macet tetapi bedanya sama Jakarta, kendaraan di Beijing tertib antri dan nggak pakai perang klakson kayak di Jakarta, hehe. Warga di Beijing sadar betul akan budaya antri.

Oh ya, salah satu hal yang aku sesali saat di sana adalah nggak sempet nyoba transportasi umum di sana. Soalnya, selama wisata di Beijing kami pakai bus sewaan. Dalam kamus pribadiku sendiri kurang afdol bepergian ke suatu tempat tanpa menyicipi transportasi lokal. Pas kami usai kunjungan ke Forbidden City, aku sempet ngiler pengin naik bus di sana. Yang bikin kagum adalah bus di sana pakai listrik. Keren kan? Di Sydney aja bus pakai gas loh. Jadi emang ada jalur bus listrik gitu di sana di jalanan di Beijing.

Warga di sana juga suka naik sepeda sama sepeda motor listrik. Kepemilikan mobil di sana juga sangat diatur, nggak bisa sembarangan kayak di Jakarta. Langit di Beijing cenderung bersih dan terang cuman ya sayang terpapar polusi gara-gara aktivitas pabrik.

jalanan depan tiananmen square

jalanan di Beijing. yang ini di seberang Tiananmen Square.

Kalo bepergian ke Beijing sebagai ‘backpacker’ kayaknya bakalan gempor kalau jalan kaki karena menurutku jarak antara satu atraksi wisata dengan yang lain cukup jauh. Jadi ya mau nggak mau mengandalkan transportasi publik atau bisa naik taksi jika bisa berbahasa Mandarin, hihi.

Bangunan menjulang tinggi di banyak titik di Beijing merupakan apartemen. Mengutip keterangan dari pemandu kami yang asli orang Tiongkok, pemerintah setempat memang mewajibkan warga Beijing agar tinggal di apartemen. Lahan mereka pun dibeli dan ya kalau aku lihat hanya sedikit dari lahan di ibukota yang masih merupakan rumah warga setempat. Mayoritas sudah menetap di apartemen.

jalanan sekitar hotel

jalanan klasik favoritku yang terletak di depan hotel kami nginep. Btw, kangen juga sama mas Asrudin (kiri) dan Reza (kanan) dari tim LSI Media yang dulu, huhu.

Yang bikin aku naksir sama Beijing adalah masih banyak bangunan klasik jadul yang terawat dengan sangat baik. Misalnya, bangunan di sebelah gedung kami menonton akrobat. Bahkan di depan hotel kami menginap pun masih terlihat kesan tempo dulu yang bersisihan secara damai dengan sentuhan modernitas. Rumah yang biasa aku lihat di serial Mandarin zaman aku SD pun masih bisa aku jumpai di sini. Rumah dengan pintu gerbang terpisah dengan bagian inti rumah, atap yang melengkung, pokoknya kediaman yang banyak masuk layar kaca masih eksis di Beijing yang notabene adalah kota metropolitan. Yang kayak gini nih yang bikin aku bahagia, wkwkwk!

gedung klasik

salah satu sudut klasik di Beijing. ni cuma sebelahan sama gedung tempat akrobat digelar. ada yang ngira nggak jam setempat menunjukkan sekitar 7an malam? iya, seterang itu ternyata udah  jam 7an malem, ckckck.

Advertisements
Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s