Setengah Timur, setengah Barat

Satu-satunya bulan Ramadan yang sanggup membuat saya meninggalkan bacaan berbahasa Inggris dan cuma membaca dan mendengarkan alunan musik Islami terjadi pada 2014. Waktu itu saya dan Alloh swt sedang sangat mesra-mesranya. Tentu saja karena saya sedang dilanda masalah besar. Saya belum pada level sepenuhnya ikhlas. Iman saya masih jauh dari itu.

Bulan puasa tahun ini saya sempat berniat ingin mengulangi hal yang sama. Saya pikir sebulan dalam setahun menyisihkan bacaan berbau duniawi dan hanya berfokus pada tulisan tentang Islam mutlak dilakukan. Harusnya bukan hal sulit untuk dilakukan. Toh saya pernah berhasil mengerjakannya.

Sampai hari ke-12 bulan puasa saya masih membaca artikel atau bacaaan tentang Islam, puasa, aqidah, dan lainnya. Sudah beberapa minggu ini saya tidak melanjutkan menikmati ‘Jane Eyre’ atas alasan yang sama. Meski demikian, artikel internet sangat sulit untuk saya hindari. Inilah yang membuat porsi bacaan saya masih berbahasa Inggris, tentang hal yang saya sukai dan topik yang memang berguna untuk pekerjaan saya. Terkadang saya merasa menyesal masih melakukan hal itu. ‘Untuk sebulan saja, begitu sulitkan bagimu, Eny?’

Sudah berulang kali saya mencoba hanya membaca konten tentang Islam, mungkin sejak 2013/2014. Hobi saya yang sangat suka membaca kadang suka tidak terkontrol. Apa-apa saya lahap. Hingga akhirnya saya sadar tidak semua informasi itu penting. Lalu saya mulai menyaring apa-apa yang penting saja dan bermanfaat bagi saya.

Perlahan fokus bacaan mulai terarah. Otak saya bekerja lebih nyaman dari biasanya yang harus mengolah banyak hal yang masuk. Hingga pada 2013/2014 saya berniat lebih fokus ke konten Islam saja. Awalnya mulus. Sangat lancar. Bahkan saya mendaftar topik apa saja yang saya pelajari hari itu meski hanya lewat internet.

Tetapi lama-kelamaan saya menemukan hobi baru: membaca hal yang sesuai ketertarikan atau pekerjaan saya dan ya yang pasti berbahasa Inggris. Seiring dengan penemuan beberapa situs yang memang menarik dan mengajak saya berpikir dengan banyak perspektif, cepat saya jadi ketagihan.

Novel klasik masih jadi langganan saya.

Kadang saya marah pada diri sendiri. Saya malu pada Alloh swt. Ilmu saya masih sangat sedikit tetapi saya masih saja abai. Kecewa pada diri sendiri saya pikir percuma. Hanya membuat hidup yang sudah berat ini terasa kian sulit dilewati.

Dipikir-pikir Alloh swt memang lucu mengarahkan hidup saya. Mungkin Ia tahu benar makhluk ciptaan-Nya ini terlahir serius jadi harus diberikan hiburan yang awalnya remeh tetapi kemudian lewat medium itulah si kreasi-Nya ini justru banyak menemukan mimpi, bahkan bisa bertahan hidup nanti di kemudian hari.

Saya masih ingat di rumah oom saya saat masih SD saya membuka buku ajaran Bahasa Inggris milik oom saya yang hanya dua atau tiga tahun lebih tua dari saya. Seketika saya langsung terpukau dengan banyak gambar menarik di situ. Pertama kali saya membaca ‘the’ di situlah saya pertama kali merasa penasaran. Saat pertama kali memegang kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia, saya bilang dalam hati saya: “Tebel banget ni buku. Emang ada gitu yang mau baca buku kayak ini?”

Siapa sangka kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia jadi pegangan wajib saya saat kuliah berpuluh-puluh tahun kemudian. Siapa kira saya suka dengan kosakata entah dalam Bahasa Inggris atau dalam Bahasa Indonesia.

Hidup di era 1990an membuat saya akrab dengan lagu boyband dan diva. Nggak pernah ada yang nyangka lewat lirik yang bahkan saya nggak tahu apa artinya itu, otak saya mulai melanglang buana bermimpi. Mimpi bertemu Westlife lah. Ingin ke luar negeri lah, dan lainnya. Saya belajar bermimpi sejak remaja tanpa saya sadari.

Dan bukan hal yang mengherankan sebenarnya saya benar-benar belajar Sastra Inggris lalu menjadikan itu jadi sumber saya mencari nafkah hingga kini. Padahal saya sempat mati-matian buat bisa diterima di STAN loh. Saat gagal pun saya sempet menangis. Lalu saya diterima di jurusan Sastra Inggris. Alloh swt memang tidak rela saya mengkhianati apa yang ada di dalam hati saya. Selain saya memang nggak tahu apa-apa soal akuntansi juga sih, hehe..

Sempat bekerja di lingkungan bernuansa Barat (maksudnya bekerja dengan bule dan orang yang memang pernah tinggal di luar negeri) membuat saya seperti hidup dalam dua dunia.

Menjadi seorang muslim mengajarkan saya keikhlasan dan kepercayaan pada rencana-Nya, hal ghaib yang terkadang tidak bisa saya pikir secara nalar. Islam mengajarkan saya manusia yang lemah di hadapan-Nya.

Kalau sedang kelewat menunduk, saya jadi sangat rendah diri dan malu. Di sinilah budaya Barat yang akrab dengan saya banyak menolong agar percaya diri dan tidak sungkan berbicara hal yang saya ingin sampaikan.

Mengagumi pemikiran Barat melalui tulisan yang saya lahap tiap hari memukau saya. Opini mereka banyak membuka mata saya. Saya jadi semakin terbuka dan toleran dengan aneka macam pendapat tentang hidup atau masalah apa pun.

Saat saya menemukan artikel yang skeptis alhamdulillah Islam mengajarkan saya untuk tidak ikut terbawa arus. Saya jadi kembali meyakini bahwa harapan itu selalu ada. Tiap kali saya menjumpai pemikiran penulis Barat yang berisikan masalah dan masalah hingga seakan tak ada masa depan cerah tersisa bagi anak manusia, Islam membuat saya tenang.

Secara pribadi hidup di lingkungan Timur yang seolah menetapkan umur berapa kamu harus menikah, punya anak dan sebagainya, lalu saya sudah lewat masa tenggat waktu yang masyarakat tetapkan, banyak membaca artikel self-help Barat membuat saya tak perlu buru-buru menikah karena tuntutan umur semata. Menikahlah karena memang benar-benar atas dasar cinta bukan desakan orang tua atau lingkungan.

Membaca artikel Barat membuat saya belajar mencintai diri saya sendiri tanpa terlihat egois di masyarakat Timur yang acapkali menuntut orang untuk lebih mengutamakan orang lain. Lewat tulisan Barat saya juga malah membaca pemikiran orang non muslim tentang Islam dan bahkan memotivasi saya (pernah) untuk lebih tekun belajar tentang agama saya agar mereka tidak salah memahaminya.

Menyelami pemikiran Barat mengajarkan banyak hal luar biasa tetapi tanpa ilmu Islam dan pegangan budaya Timur yang selama ini saya pegang hidup saya akan terasa gelap sebab asa seolah padam.

Sudah berpuluh-puluh tahun saya hidup membagi otak dan hati dalam dua dunia ini dan sejauh ini saya sangat menikmatinya. Lagi-lagi, mungkin ini cara Alloh swt mengajak saya menjalani hidup dengan cara yang seru. Memang cuma Dia yang bikin hidup saya begini.

Advertisements