“North and South”: Novel Muram yang Bikin Aku Ketagihan (Spoiler Alert, Of Course)

Untuk kesekian kalinya dengan bermodalkan ingatan gaya kepenulisan Elizabeth Gaskell yang sungguh indah aku mantap membeli “North and South” sekitar dua minggu yang lalu. Meski sudah berniat ngirit tapi begitu melihat judul ini mejeng di toko buku Kinokuniya langsung runtuhlah tembok yang sudah aku bangun, tidak membeli barang yang memang sedang tidak dibutuhkan.

Karena jaminan tulisan Elizabeth Gaskell yang memang sudah terbukti di dua judul yang pernah aku baca, termasuk “Wives and Daughters” yang tebalnya 800an halaman, aku yakin tidak akan menyesal membeli “North and South”. Dan benar saja.

Novel dibuka dengan adegan Edith, sepupu Margaret Hale (tokoh utama dalam novel ini), yang malah tiduran padahal seisi rumah sedang ramai memperbincangkan rencana pernikahannya dengan Kapten Lennox. Bab awal novel ini tipikal karya romansa klasik abad ke-18/ke-19. Jika kalian pernah membaca novel atau film seperti “Emma” atau “Pride and Prejudice” kaya Jane Austen, kurang lebih seperti itulah atmosfir yang bisa ditangkap dari “North and South” ini. Santai, lucu, dan cewek banget.

Dimulai dengan pembukaan yang menyenangkan seperti di atas, aku pikir “North and South” bakal setidaknya mulus tanpa konflik berarti seperti dalam “Wives and Daughters”. Yang aku harapkan dari “North and South” pun akan puas aku nikmati, yakni bagaimana Elizabeth Gaskell bakal membuaiku dengan kata-kata puitis tanpa kesan berlebihan yang bisa aku baca berulang-ulang kali saking aku terpukaunya. Kalimat-kalimat yang bakal aku bisa tulis ulang di ponsel pintar aku agar kapan pun aku bisa menikmati kedalaman indera pengamatannya mengenai alam, karakter atau tempat.

Aku begitu menyelami keunggulan kepenulisan Elizabeth Gaskell di dua judul yang pernah aku baca, terutama “Mary Barton”. Dan sebenarnya misiku membaca “North and South” sesederhana sekaligus sesulit itu (sebab aku selalu merasa menulis manis menembus relung hati tanpa sama sekali terkesan hiperbolis itu susah banget).

Hanya saja, isi, karakterisasi dan konflik yang ada di “North and South” sigap menutupi keinginanku itu, hal yang membuatku mengagumi Elizabeth Gaskell sebagai seorang penulis yang piawai sekali bercerita menyampaikan pesan yang sangat penting melalui tokoh dan topik yang ia pilih.

“North and South”. Utara dan Selatan. Selatan berarti Hellstone, desa kecil yang berdekatan dengan London tempat keluarga Hale tinggal. Tempat yang mungil, banyak pohon rindang, indah dan rimbun. Tempat tinggal yang damai bagi keluarga kecil ini dimana sang ayah, tuan Hale, bekerja sebagai seorang penceramah bagi warga sekitar yang memang baik, ramah dan sopan.

Disebabkan perbedaan pandangan agama, tuan Hale, pindah ke kota Milton, daerah utara, kota industri yang penuh polusi, kebisingan, kesemrawutan dengan penduduknya yang blak-blakan.

Dalam hitungan beberapa hari saja, keluarga Hale merasakan hidup yang jungkir balik dari Hellstone ke Milton. Dari yang tenang ke tempat yang ramai, lengkap dengan masalah di dalamnya.

Dari tokoh tuan Hale aku melihat sosok yang cukup kompleks. Ia adalah tokoh bapak yang baik, penyayang, suami yang baik yang mempunyai idealisme yang sukar sekali digoyahkan. Tak heran ia tidak berkonsultasi kepada istrinya saat memutuskan meninggalkan pekerjaannya. Ia malah meminta putrinya untuk memberitahukan ke istrinya bahwa mereka akan pindah. Maka ketika sang istri pada akhirnya sakit-sakitan lalu meninggal dunia, salah satunya akibat tidak betah tinggal di kota pengap seperti Milton, tuan Hale hanya bisa menyesali keputusannya sendiri tetapi segalanya sudah sangat terlambat.

Nyonya Hale bukannya tokoh tanpa cela. Semasa hidupnya ia beberapa kali mengeluh menjalani hidup yang sederhana di Hellstone. Beberapa kali pula ia mengingat masa saat masih muda, bebas dan hidup berkecukupan. Ia sendiri justru paling dekat dengan pembantunya, Dixon, bukan putrinya sendiri.

Margaret agak terlambat menyesali ia pernah memilih hidup bersama keluarga Edith di London selama beberapa tahun sehingga menjadi “jauh” dari ibunya sendiri. Ia sedih mengetahui ibunya lebih senang dekat dengan Dixon ketimbang dirinya sendiri. Maka pada beberapa saat terakhir jelang kepergian sang ibunda, Margaret mengabulkan apa pun yang ibunya minta. Termasuk menulis surat untuk kakaknya, Frederik, seorang pelaut yang sudah bertahun-tahun pergi lalu menetap di Cardif, Spanyol, akibat terkena kasus hukum yang membuatnya tak bisa mengunjungi Inggris. Ia kena cekal, singkatnya.

Barangkali satu-satunya hal yang bikin novel ini mempunyai pelangi adalah kisah cinta Margaret dan John Thornton, walau sebenarnya menurut aku cerita saling suka di antara mereka lebih banyak diwarnai perdebatan, kesalahpahaman dan gengsi (yang biasa baca novel klasik sudah paham hal beginian).

John Thornton, pria pengusaha tampan, sukses, cerdas, murid yang paling disayangi oleh tuan Hale, guru privatnya. Walau tuan Hale dan John banyak menemukan kecocokan tetapi tidak halnya antara Margaret dengan John pada awal mereka saling mengenal, apalagi hal yang membuat mereka sukar nyambung lebih ke bersifat prinsipil.

John adalah pebisnis yang sebenarnya paling dibenci oleh kalangan pekerja, salah satunya Nicholas Higgins, dimana salah satu putrinya, Bessy, adalah kawan baik Margaret. Di satu sisi Higgins membenci John karena ia adalah salah satu yang tidak mau menaikkan gaji sedangkan John menganggap unjuk rasa oleh Higgins dkk lebih ditunggangi kepentingan kelompok tertentu.

Toh, meski sering silang pendapat, John mengagumi kecantikan dalam kesederhanaan sikap seorang Margaret. Aku sendiri suka sekali dengan karakter John di dalam novel ini, tipikal pria yang tidak suka mengumbar kata mesra atau mengirimkan hadiah mewah ke Margaret. Dalam novelnya, Elizabeth Gaskell beberapa kali menulis “mata John memang tidak tertuju langsung ke Margaret tetapi dia selalu tahu apa yang Margaret lakukan. Dia tidak pernah kehilangan fokus.”

Meski awalnya menganggap John kaku, Margaret mulai menyukai pria ini sebab kecerdasan, pendapat dan pandangannya mengenai banyak hal. Juga bagaimana dia begitu baik kepada ayahnya dan keluarganya selama ini.

Sayangnya, hingga halaman ke-320 dari total 478 yang aku baca ini, John masih sedih usai ditolak cintanya oleh Margaret. Margaret sendiri semakin terbenam dalam rasa bersalahnya setelah ia mengetahui John menyelamatkannya dari usaha investigasi atas kematian Leonards, seorang kriminal yang sedang membuntuti kakaknya Frederik. Padahal John tahu Margaret sedang bersama kakaknya tersebut saat kakaknya tidak sengaja mendorong Leonards hingga ia terjatuh ke dalam rel kereta api lalu meninggal dunia.

Pada bagian inilah aku terakhir membaca novel ini.

Tak henti-hentinya aku takjub bagaimana novel ini mengecohku dengan kandungannya. Plot mengalir cepat, mungkin menjadi yang tercepat dibanding kebanyakan novel klasik yang pernah aku baca. Menariknya, Elizabeth Gaskell menjahit semua konflik dari bagian satu ke bagian berikutnya secara mulus, tidak ada lompatan, tidak tergesa-gesa. Jadi tetap ada bagian indah yang bisa dinikmati di setiap transisinya.

Elizabeth Gaskell juga menuliskan banyak dialog yang terbaca sangat oral, yang menunjukkan perbedaan kelas, antara kaum terdidik dengan buruh (keluarga Higgins). Di sini aku jadi belajar banyak tentang perbedaan kelas sosial pada masa itu.

Yang paling bikin sendu dari novel ini tentu saja ada banyak sekali adegan yang memilukan, seperti saat kematian Bessy dan pastinya nyonya Hale. Elizabeth Gaskell detil sekali menceritakan suasana menjelang dan saat kematian tokoh-tokohnya jadi sedih itu begitu terpatri di hati pembacanya.

Belum lagi, pada beberapa halaman terakhir yang aku baca, tokoh Margaret cukup menguras emosi dan energiku. Di balik sosoknya yang tangguh, anggun dan super baik, Margaret banyak menyimpan duka dan cemas. Saat kakak dan ayahnya sedih terpuruk ketika ibu mereka meninggal dunia, Margaret menjadi satu-satunya yang justru menguatkan pria-pria itu.

Jadi ketika dia dicurigai ada sangkut pautnya dengan kematian Leonards, beberapa kali Margaret dituliskan ambrug, seolah benteng ketegaran yang ia bangun hancur, tak sanggup lagi dia jaga kekokohannya. Tak dinyana, orang yang menolongnya justru orang yang paling ingin dia hindari, yakni John.

Sudah sampai di sini dulu sebab masih ada 100an halaman lebih untuk dilahap, hehe..

 

 

Advertisements