Mengenal “Living Books”, Cerita Rekaan yang Bukan Sembarang Fiksi

Terima kasih banyak buat sahabatku, Rizki Mahardiani, yang memberiku ide untuk menulis tentang ini

Masih terbayang secara ‘sadis’ pengadilan sosial untuk tuan Bulstrode saat novel Middlemarch menuju akhir setelah perjalanan membaca yang sangat panjang. Dalam forum tersebut, tuan Bulstrode diadili oleh tetangga dan kawan-kawannya usai mereka tahu Raffles, seorang dari masa lalu Bulstrode yang tahu benar cara licik bankir tersebut hingga bisa kaya raya seperti sekarang, meninggal dunia.

Singkat kata, publik menghakimi tuan Bulstrode lah yang membunuh Raffles agar ia tutup mulut padahal tidak sama sekali meski tuan Bulstrode sudah kadung jengkel diperas oleh Rafles jelang kematiannya. Tetap saja tuan Bulstrode tak bisa menghindar dari forum tersebut bahwa memang ia menempuh cara kelam agar bisa makmur. Publik pun menilai uang amalnya ke kaum papa hanyalah semacam “penebus dosa” atas perbuatan jahatnya selama ini. Yang paling menyebalkan tentu saja nasib Dr. Tertius Lydgate, dokter muda penuh bakat yang “kecipratan” reputasi buruk tuan Bulstrode. Publik ikut-ikutan menilai sang dokter mencicipi uang haram tuan Bulstrode hingga akhirnya memaksa Dr. Tertius benar-benar angkat kaki dari tempat itu.

Itu adalah sepenggal adegan dalam salah satu novel yang aku sayangi. Meski bukan buku paling aku favoritkan, Middlemarch merupakan novel kehidupan atau living book yang sangat aku rekomendasikan bagi siapa pun untuk dibaca. Bisa dibilang ini novel kehidupan yang paling kaya, komplet dan mewakilkan kondisi banyak orang di suatu tempat, tak terkecuali di Indonesia. Kesemuanya bisa tercermin secara gamblang berkat kemampuan menulis George Eliot yang sungguh bagus.

Middlemarch merupakan contoh novel kehidupan yang mengandung pesan penting nan berat tetapi membungkusnya dengan fiksi yang menarik. Imajinasi yang detil tentang orang, tempat hingga kejadian membuat pembaca awalnya abai dengan ide yang Eliot ingin sampaikan.

Setelah sanggup menawan hati pembaca dengan cerita yang menarik, barulah mereka akan mulai menggenggam apa maksud kisah ini. Bukan hanya itu, mereka akan akan mulai merefleksikan karakter yang ada di dalamnya dengan diri mereka sendiri atau orang di sekitar mereka, hingga situasi sosial saat ini.

Jika kau adalah putri baik hati, perempuan lembut tetapi kuat, karakter Dorothea Brooke bakal memukaumu. Jika kamu adalah tipikal orang yang sangat idealis, Dr. Tertius akan banyak mewakilkan pandangan hidupmu. Atau jika kamu cowok yang satir dan mempunyai jiwa seni tinggi meski hidupmu pas-pasan, tengoklah Will Ladislaw.

Novel kehidupan mempunyai tipikal fiksi yang dari permukaan dan pada awalnya terbaca ringan, menyenangkan tetapi lama kelamaan begitu pembaca mulai membenamkan hati pada cerita atau karakternya, mulailah novel jenis ini menunjukkan taringnya yang sesungguhnya: kedalaman isu yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Novel macam ini mengajak pembaca belajar, mulai dari berimajinasi, mencerna maksud  penulis lalu memikirkan nasib karakter hingga kemudian mengambil banyak pelajaran dari situ. Hal-hal berat ini bagaimana pun menjadi menarik untuk diselami sebab kita sudah kadung suka dengan cerita, tokoh atau gaya kepenulisannya.

Novel semacam ini banyak ditulis oleh abad ke-17,18 dan 19. Salah satu contoh novel kehidupan lainnya yang saya sukai adalah cerita-ceritanya Thomas Hardy. Sebenarnya mayoritas bukunya muram dan sedih hanya saja saya suka membacanya sebab karakter dia begitu humanis selain banyak mengangkat jati diri perempuan pada masanya. Katakanlah, Micheal Henchard dalam The Mayor of Casterbridge, yang hingga kini masih menjadi tokoh fiksi favorit saya sebab kompleksitas hidupnya sebagai anak manusia, dari orang yang nggak benar hingga menjadi walikota. Tokoh yang semrawut tetapi pelan sanggup menarik simpati saya sebagai manusia pada umumnya yang tak pernah bisa luput dari yang namanya dosa dan kesalahan.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari seorang keras kepala tetapi sangat sabar seperti Jane Eyre. Bagi banyak orang mungkin dia perempuan yang sok kuat tetapi buat saya sendiri karakter dia yang sungguh idealis membuat saya kagum. Saya masih ingat adegan dimana dia harus memakan bubur sisa orang untuk bertahan hidup setelah dia gagal menjual sapu tangannya agar bisa makan. Buat saya novel Jane Eyre memberikan pelajaran sabar yang teramat sangat manis dan indah pada akhirnya, yang sekali lagi, disajikan dalam fiksi luar biasa buatan Charlotte Bronte.

Buku kehidupan memang pada dasarnya hanya berupa cerita rekayasa, nama dan tempat banyak yang tidak ada. Tetapi sukar untuk tidak mengakui membaca buku berkelas seperti ini tidak memberikan kesan selain ceritanya yang bagus atau tokohnya yang menarik. Buku semacam ini selalu bisa meninggalkan bekas berharga bagi saya sebagai manusia zaman modern. Meski beberapa nilainya terdengar klise, seperti belajar sabar, setia, percaya pada orang lain, novel kehidupan seperti yang saya sebut di atas somehow membuat saya untuk mengunjungi nilai-nilai penting dalam hidup tersebut. Baru saya sadar dari novel semacam ini saya sebenarnya banyak belajar tentang nilai penting dalam hidup dengan cara yang sangat menyenangkan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s