“Mission: Impossible – Fallout” (2018): Mendefinisikan Kembali Pesona Ethan Hunt

Saat menunggu transaksi inti plutonium, Ethan terlihat tenang sambil mengejek temannya, Benji, yang tampak tegang. Luther mengamankan uang sebagai alat untuk menebus plutonium, benda berharga pembuat bom berdaya ledak dahsyat.

Rencana yang awalnya mulus mendadak runyam setelah Luther menjadi sandera. Ethan memilih menyelamatkan nyawa Luther dengan konsekusensi plutonium lenyap diambil orang yang merupakan anggota The Apostles, kelompok teroris sisa dari organisasi teroris bernama The Syndicate, dimana pentolannya, Solomon Lane, telah tertangkap dua tahun sebelumnya.

Plutonium hilang dan kelompok Ethan harus menanggung segala akibatnya. Mulai dari interogasi terhadap ahli nuklir sekaligus anggota kelompok tersebut, Nils Debruk, hingga akhirnya mesti mengekor kemana plutonium itu pergi, yakni ke Paris, dimana transaksi akan dilakukan bersama dengan John Lark. Ethan tak sendiri. Ada August Walker, agen CIA yang ingin mengambil pula plutonium itu.

Dari sinilah segala kegilaan Ethan dimulai. Melompat dari pesawat, kejar-kejaran menggunakan motor gede di jalanan ramai di kota Paris, hingga melompati gedung bisa menjadi suguhan yang memang khas waralaba Mission: Impossible sejak pertama kali dirilis pada 1996. Jangan lupakan pula aksi tabrak-menabrak menggunakan helikopter yang makin membuat kepala puyeng membayangkan bagaimana mereka melakukan ini semuanya.

Aku tak ingin membahas segala aksi edan yang Ethan (Tom Cruise) lakukan dalam film tersebut. Aku justru tertarik ingin mengupas sosok Ethan sendiri yang menurut aku menarik.

Ethan tokoh agen yang kurang meyakinkan dari luar. Acapkali saat menghadapi lawan, ekspresi dia “goyang”, kadang bingung. Bahkan ketika dia dan teman-temannya menjebak Walker yang pada akhirnya mengaku dia bekerjasama dengan Lane, Ethan kurang pas memainkan perannya sebagai orang yang licik.

Ia juga bukan negosiator yang ulung, seperti terlihat saat bertransaksi plutonium bersama the White Widow. Karakternya berbeda sekali dengan Walker yang memang terlihat tegas, lugas dan tahu apa keinginan dia.

Gaya larinya Ethan yang memang unik banget dengan tangan naik sampai ke atas. Foto oleh theatlantic.com

Pun demikian, Ethan keluar giginya saat saat genting. Polah dan aksinya lebih ia tonjolkan untuk menutupi kekurangan verbalnya. Istilah singkatnya, action is better than words. Buatku di situlah Ethan ini begitu menggelitik. Apa yang tampak di luar jauh berbeda dari yang di dalamnya. Bagi yang tak mengenal sosoknya, Ethan sosok yang biasa saja. Tetapi bagi yang telah mengenalnya, agen ini sulit ditebak apa maunya.

Dalam seri terbaru waralaba ini, misalnya, Ethan terlihat kurang persiapan saat ia memasuki acara gala makan malam the White Widow. Jika bukan karena bantuan Ilsa, ia tak akan bisa masuk ke lokasi acara. Kurang persiapan, sempat keok dalam laga melawan orang yang disangka John Lark, Ethan bisa masuk, membunuh banyak mata-mata the Apostles lalu bisa menjalin transaksi dengan the White Widow.

Adu mulut antara Ethan versus Walker selalu mengesalkan buatku sebab terlihat sekali kekurangan Ethan dalam hal debat dan persuasi. Sempat aku berpikir tatkala keduanya ribut sebelum melompat dari pesawat, ini Ethan nggak banget jadi agen, bahkan pahlawan.

Tetapi ketika ia memunculkan kekuatan fisik, kelihaian berkelahi, melompat, berlari, ngebut dan mengendalikan helikopter, Ethan ini menjadi sosok yang beda; memenuhi kualifikasi sebagai seorang agen. Meski jujur saja buatku, ia tetap kurang culas dan sadis.

Justru dengan kepribadian kontas ini Ethan menjadi agen yang manusiawi. Mempunyai kekurangan dari ketrampilan berbicara tetapi semua ia tutup dengan keberanian melakukan aksi yang membuatku ngilu, tegang dan keluar bioskop di Blok M Plaza Rabu minggu ini dengan perasaan super puas.

 

 

Advertisements

Currently Reading: “North and South”

I am amazed that I can read “North and South” this quickly. I buy the novel three weeks ago and now I am 70s pages away from the ending (the book is 478 pages in total).

Reading the book relieves me relieve because I start getting addicted to smartphone, reading online stories is one of the activities that I often do. I even question myself if I still have the ability of speedy reading when it comes to enjoy books that lure me so much. My not-so-good experience with Great Expectations adds to my own doubt. Though I initially savor half of the story, I find it difficult to finish the remaining half of it. So, right now I abandon the book though I actually look forward to knowing what the romance of Pip and Estella becomes. Too many minor characters, Pip’s too sentimental traits are some reasons that draw me away from the novel.

And when I purchase Elizabeth Gaskell’s North and South, I feel not good of buying a new title while leaving unread books at the bookshelf back at the rented room. But it’s North and South, man. The writer of the book is Gaskell, one of my most favorite authors whom I simply love her because of her beautiful way of telling sentences. At the back of my mind, as long as the writer is Gaskell, the story will be a good one. If the essence of the book is ordinary, I will totally enjoy her words, her writing style. In addition, I once see the title at the Kinokuniya bookstore long time ago but I don’t buy it then it’s gone. So I won’t lose the chance this time around. Priced at IDR132,000 I keep buying the novel despite the fact I have to save money.

I bring it back home and damn! I love every page of the story. My excitement of reading decent novel remains the same. I still can read like a maniac. I can still spend hours reading for the sake of the words and of course for the story itself.

And man! North and South way exceeds my expectation. It’s way better than Mary Barton and Wives and Daughters in terms of story, characteristic, moral message and plot. I can’t believe the book runs so quickly without being in rush. It’s compact and solid but her lovely descriptions are still there.

The novel is surprisingly heavy, in terms of themes. Poverty and effects of industry for the Miltons, to be exact. So I can say the novel is bleak and sorrowful in overall. Good point about the book is the characterizations of the major people here, Margaret Hale and John Thornton.

Here, Gaskell crafts her heroine to be a very memorable figure, a complicated person in her simplicity. Loving, caring, empathetic yet carrying a lot of burdens inside her heart. Margaret is a very strong woman, independent but naïve at the same time when it comes to her feeling to John.

That’s all that I can write at the time being. I can’t wait to finish reading the book to be put as another topic for the next post. The thing is I don’t regret buying it, using it as an intermezzo after leaving Great Expectations unread.

And best of all is that I can still read physical books, good ones, in enthusiastic manner as I usually do. Smartphone doesn’t take that away from me. I am beyond happy!