Istilah “Penulis Konten” yang Begitu Mengusik Tetapi Saya Tak Bisa Berbuat Banyak

Mengetik “content writer” belakangan menjadi andalan saya ketika mencari proyek lepas baru melalui beberapa situs pencarian kerja gratis yang ada di internet. Normalnya, akan langsung muncul banyak pilihan posisi “content writer” baik sebagai pekerja lepas atau pun pekerja penuh. Beda halnya ketika saya mengetik “penulis”. Si mesin hanya sedikit memunculkan profesi tersebut, padahal inti pekerjaannya sama, yakni menulis.

Biasanya, “content writer” atau “penulis konten” diminta untuk mengisi laman media sosial atau situs sebuah perusahaan atau instansi. Sungguh saya sangat beruntung mempunyai hobi menulis yang semakin dibutuhkan di era serba digital seperti sekarang. Meninggalkan jejak berupa kesan baik di dunia maya, salah satunya melalui tulisan, semakin saja dibutuhkan. Ya, setidaknya saya tak perlu bergantung pada menulis buku atau novel (yang sampai sekarang ini belum saya selesaikan) untuk bertahan hidup sebab saya bisa menjadi penulis bayaran.

Hanya saja, istilah “penulis konten” dari awal kemunculannya menggelitik sanubari saya sebagai orang yang doyan nulis dari kecil lewat buku harian ini. Kata “konten” saja, meski diterjemahkan cukup oke dari kata aslinya, “content”, tetap berasa aneh. Saya jadi ingat dengan meme yang pernah menyindir makanan dan minuman dalam bahasa Indonesia harganya jauh lebih murah dari namanya saat ditulis dalam bahasa Inggris (terlepas dari si empunya tempat makan menyewa di tempat mahal atau tidak).

Jangan-jangan kata penulis konten membuat profesi menulis lebih terangkat derajatnya (entah lebih tinggi pula bayarannya atau tidak) seperti kasus makanan dan minuman di atas (ingat loh ya, seperti).

Atau kata penulis konten ini membuat menulis bisa memiliki tingkatan yang lebih nge-pop dan ramah pasar ketimbang kata penulis yang terkesan serius dan idealis.

Sebut saya baper atau terlalu dibawa serius, penulis konten di satu sisi membuat saya terangkat prestisenya, tetapi di lain sudut, menjadikan saya terkadang malu jika mengingat penulisan yang saya tulis sebagai seorang pro atau mengamati hasil kerja penulis konten lainnya yang bersliweran.

Terkadang atas nama kreativitas saya menyebut tulisan dalam kapasitas saya sebagai penulis konten layak baca. Toh, ujung-ujungnya semua orang pada akhirnya jualan kan? Ujar saya dalam hati seperti itu.

Tetapi jujur saja, terbiasa menulis untuk kepentingan pasar semata membuat saya kadang merasa rendah. Sama seperti saya membaca berita yang viral, yang nggak jauh-jauh dari membicarakan artis ini, tokoh itu, gosip yang belum tentu benar adanya hingga kuliner yang sedang hits. Hidup memang butuh hiburan tetapi apa iya hidup hanya diisi dengan mengurusi hal remeh semacam mencari tempat liburan baru di akhir pekannya?

Sebagai orang yang terlahir idealis (sifat yang masih sering merepotkan) ditambah kebiasaan saya yang suka berpikir serius, profesi saya sekarang sekaligus bahan bacaan saya saat ini mengikuti tren memang menurun secara kualitas.

Dulu saya masih suka membaca analisa panjang melalui The Economists, Bloomberg atau pun TIME. Meski sekarang saya jadi jarang membacanya, salah satunya karena pemikiran mereka yang kurang berimbang untuk pemberitaan terkait Islam, hilang sudah kesempatan membaca yang membuat otak saya terbiasa diajak berpikir kritis secara sopan dan ilmiah sebab saya malah lebih suka memantau media sosial.

Bacaan yang tergolong ringan pun adalah Reader’s Digest dan National Geographic, yang sesungguhnya tidak sesederhana saya bilang tadi. Saat saya rajin membaca mereka, saat itu dunia media sosial, aplikasi pesan gratis belum sepesat sekarang. Konsumsi artikel cepat saji belum terlalu diperhitungkan. Mengejar kuantitas, viral, klik belum sepenting saat ini.

Saya pun tak sanggup melawan arus zaman. Dari yang sebelumnya penulis akhirnya saya menambah embel-embel penulis konten. Yang dulu saya berjuang belajar menulis panjang dengan rentetan analisa dan komentar bagus sekarang saya justru berkutat bagaimana menulis dengan bahasa zaman now agar bisa dibaca banyak anak muda. Saya mencari klik, share hingga komentar sebanyak mungkin yang numpang lewat ke tulisan saya. Sungguh ini kerja yang cukup berat buat penulis yang sudah berumur 34 tahun dan lebih akrab dengan tulisan berat macam saya ini.

Lalu, menyesalkah saya?

50-50. Kadang saya rindu tulisan idealis seperti dulu, yang dibaca karena berkualitas, memberi pengetahuan dan wawasan.

Hanya saja industri merambah dimana-mana, tak terkecuali dunia media, jurnalisme hingga kepenulisan secara profesional. Akan sangat naïf jika saya terus-menerus mencoba melawan arah kapitalisme saat ini melalui dunia kepenulisan konten.

Pada akhirnya, saya mencari lalu mulai menemukan cara agar menjadi penulis konten tidak membuat saya merasa turun martabat dari segi isi artikel. Simpel saja. Saya berusaha menulis sekreatif yang saya mampu, memakai kosakata bahasa Indonesia yang unik hingga mengulas produk, aplikasi atau apa pun tulisan pesanan klien secara deskriptif atau sejenis feature.

Sebisa mungkin membuat saya tertantang menaklukkan tulisan tersebut dan menghilangkan sejauh mungkin perasaan tulisan ini bermutu kurang bagus atau promosi semata. Sejauh ini berhasil sih. Perkara pembaca merasa artikel saya berlebihan, terlalu agresif atau bombastis, itu saya kembalikan ke masing-masing pembaca. Buat saya bisa menikmati setiap artikel yang hendak ditulis dan menuangkan gagasan seprofesional mungkin itu berarti tugas saya sebagai penulis atau penulis konten sudah terlaksana secara baik, menurut ukuran saya pribadi.

Advertisements

3 thoughts on “Istilah “Penulis Konten” yang Begitu Mengusik Tetapi Saya Tak Bisa Berbuat Banyak

  1. Hello there, this is great writing. I can relate so much about it. Esp this part “Saya mencari klik, share hingga komentar sebanyak mungkin yang numpang lewat ke tulisan saya” ;’)

    Saya juga seorang penulis konten, mbak. And i feel your pain. Alas, we still have to write disregard the writing style demand. Keep up the good blog! 🙂

    • Oh orang Indonesia to ini, hehe.. Seneng sih bisa ada yang senasib dan sepenanggungan sama saya, wkwkw. Ah, that’s true.. That’s why I still write here, sometimes I force myself filling up this blog..

      • Hahaha iya, mbak. Harus pushed through to write here, but yea passion should never die. Looking fwd to your future articles! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s