Sebuah Undangan dari Alqur’an yang Tak Bisa Lagi Aku Abaikan

Setelah sekian puluh tahun menulis, 11 tahun terakhir di antaranya untuk mencari nafkah, tibalah aku di tahap menulis topik yang paling ingin aku hindari. Tema tersebut adalah tentang agamaku sendiri dan Alqur’an, media dimana Alloh swt melalui sunah Rosululloh saw membimbing hidupku selama ini.

Aku paling takut menulis tentang Alloh swt, Alqur’an dan Islam selama ini, setidaknya dalam tulisan panjang yang Insya Alloh akan mulai aku hadirkan di blog ini berikutnya. Aku mempunyai beberapa alasan yang ingin aku bagikan di sini.

Alasan pertama adalah aku tidak mau terlihat atau terdengar seperti penceramah. Kesampingkan dulu ilmu soal Islam dan agama yang masih sangat minim, ide memberitahu, mengarahkan orang lain untuk berbuat baik dan benar sesuai tuntunan Islam (percaya atau tidak) kadang masih terdengar munafik di telingaku. Bagi yang sudah kenal aku, mereka mungkin menganggap aku orang baik tetapi sesungguhnya aku mempunyai sifat keras kepala.

Belakangan baru sadar ternyata keras kepala dan tidak suka diperintah memang sifat alamiah manusia. Butuh waktu untuk sadar. Salah satu orang yang susah diberitahu itu aku. Aku saja susah memberitahu diriku sendiri, bagaimana mungkin aku akan mengajak orang lain pada kebajikan?

Aku juga nggak mau terdengar bijak. Senantiasa berpikir positif menurutku solusi yang terlalu pintas untuk beberapa kasus tertentu. Dunia ini penuh dengan cerita kejam, kawan. Apa cukup hanya dengan berbaik sangka kepada Alloh swt lalu segala masalah akan selesai?

Diriku yang begitu skeptis akan hidup dalam setahunan terakhir menghadapi hantaman masalah pelik hingga aku nggak punya tempat pergi selain kepada-Nya. Bahkan aku nggak bisa lagi menemukan kedamaian dengan mempercayai diriku sendiri.

Di suatu hari pada Oktober/November 2017, babak baruku bersama Alloh swt dimulai. Aku nggak bisa cerita persoalan apa yang aku hadapi saat itu. Hanya saja hal tersebut begitu berat hingga aku tak bisa lagi bercerita kepada sahabat dekatku. Aku pernah di posisi yang kurang lebih seperti ini sebelumnya tetapi kali ini rasanya lebih sulit sebab lawanku adalah kesedihan, keputusasaan dan hilangnya harapan. Sedangkan dulu musuhku adalah kemarahan pada seseorang.

Tetapi justru dari cobaan ini, babak baru hubunganku dengan Alloh swt mulai lebih mendalam dari yang sebelumnya. Melalui proses yang cukup panjang justru aku belajar melakukan hal yang paling susah untuk aku lakukan selama aku hidup selama ini: percaya pada rencana baik-Nya.

Iya, buatku khusnudzon sama Alloh swt itu paling berat. Kenapa? Sebab aku dari kecil terbiasa berjuang memperoleh yang aku mau. Usaha segini, harus dapat segini pula. Aku juga tipikal perencana. Segala harus sesuai jadwal. Kalau sedikit meleset aku stres parah. Berhubung hampir semua yang aku mau terwujud, lama-kelamaan rasa sombong itu mulai membesar. Tanpa disadari aku alfa bahwa semua karena Alloh swt yang memampukan aku.

Titik puncak itu datang di bulan tersebut. Ibarat berpegang pada seutas tali yang tadinya sangat erat, perlahan genggaman itu aku lepaskan. Tali di sini maksudnya segala hal yang di luar kendaliku, termasuk masa depanku sendiri. Segalanya (sampai sekarang) aku percayakan kepada-Nya. Aku banyak belajar meyakini-Nya. Konsep iman kepada Alloh swt seperti terlahir kembali buatku.

Semakin aku berusaha khusnudzon ke Alloh swt, cobaan tak hentinya datang. Dimulai dari kehilangan pekerjaan akhir 2017, menerima pekerjaan baru yang kurang pas, hingga ayahku sakit berbulan-bulan mampir ke timeline hidupku.

Namun malah dalam ujian besar itu aku belajar agar memfokuskan hidup pada hal yang memang penting yang sebelumnya aku abaikan, seperti keluarga dan kesehatan. Di situ aku merasa sangat terharu saat tetangga dan saudara menjenguk bapakku yang sedang sakit. Subhanalloh.. kalau bukan karena Alloh swt yang menguatkan aku, entah apa jadinya aku waktu itu, yang di tengah bapakku yang sakit aku masih harus bekerja dari jarak jauh. Ajaib dipikir aku bisa sekuat itu.

Aku turut membaca dan mempelajari Alqur’an dengan mata yang baru. Aku memang beberapa kali khatam membaca Alqur’an tetapi jujur, aku nggak merasa apa-apa selain kalimat perintah dan larangan.

Alhamdulillah, ceramah dari Nouman Ali Khan mengajakku mempelajari Alqur’an dari dalam hati. Dari proses ini aku jadi paham mengapa belajar Alqur’an yang sesungguhnya hingga memperoleh manfaatnya secara langsung itu teramat sangat sulit. Hingga sekarang aku terus berusaha menjadikan Alqur’an obat penyejuk hati dengan proses refleksi diri. Masih kesulitan sebab memerlukan hati yang bersih dan ikhlas agar bisa benar-benar terhubung langsung ke Alloh swt via Alqur’an ini.

Atas khutbah-khutbah Nouman pula lah serial tulisan ini ada. Jika atas alasan ingin meninggalkan jejak baik di dunia maya, rasanya aku terlalu mulia. Padahal ilmu nggak seberapa. Jika hanya ingin memanfaatkan hadiah titipan dari Alloh swt berupa menulis dan membaca kok rasanya terlalu pendek jika aku hanya berhenti di situ.

Akhirnya, aku menemukan alasan yang pas akhirnya berbagi tulisan seperti ini. Lagi-lagi terinspirasi oleh Nouman Ali Khan (terima kasih banyak pak Nouman), aku memilih menulis serial tulisan ini sebab ingin berbagi kearifan Alloh swt dalam Alqur’an melalui hal-hal kecil yang aku amati, rasakan, dan refleksikan. Tentang hidupku sendiri atau orang lain.

Sebab setiap dari kita adalah bagian dari rencana besar-Nya. Tiap dari yang ada di muka bumi, langit, laut dan seisinya adalah bukti keadilan, kekuasaan dan kehendak-Nya. Ayat-ayat dari-Nya bisa kita rasakan dan saksikan setiap saat, jika kita benar-benar menggunakan akal kita. Dan akan lebih baik lagi jika kita mengimani-Nya.

Bismillahirohmanirrohim.. semua yang benar datang dari Alloh swt, yang salah semuanya murni dariku, hamba yang serba lemah dan penuh khilaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s