Menjaga Kewarasan di Era Digital

Awal pekan ini saya mendapat undangan mengetes ponsel cerdas salah satu produsen ternama dunia. Saya dan rekan media lainnya diajak menginap di salah satu hotel di daerah Puncak, Bogor, untuk berburu foto memaksimalkan fitur unggulan kamera pada produk tersebut.

Beberapa saat menjelang keberangkatan, saya melihat kembali urutan acara selama dua hari tersebut. Di salah satu lokasi foto hati saya langsung kepincut dengan DeVoyage, wahana wisata baru di Bogor. Pada lembar daftar acara tersebut, pihak agensi menyertakan beberapa foto obyek wisata ini yang “saya banget”.

Aneka rumah model klasik berwarna-warna a la Eropa yang selalu memikat saya. Sudah dari dulu saya mempunyai mimpi jalan-jalan ke Benua Biru demi memuaskan hasrat saya memandangi bangunan tua, kastil atau kanal. Berhubung hingga sekarang saya nggak punya duit buat ke Italia atau Inggris, cukup lah ya pergi ke Lembang sekadar membayangkan berada di sana seperti di Eropa. Berhubung Lembang cukup jauh dari Jakarta, baru tahu sekarang ada DeVoyage. Lumayan lah ya, di Bogor saja. Tidak sejauh jika saya harus ke Lembang.

Ketika sampai di sana mata saya langsung jelalatan melihat dari jarak agak jauh, warna-warni bangunan khas Eropa sudah menyambut. Begitu masuk ke dalam, tangan sudah gatal mau berswafoto atau meminta tolong ke teman untuk memfoto diri saya. Tempat paling saya sukai tentu saja rumah mungil klasik yang cantik. Sudah terbayang deretan kata bijak sebagai caption-nya.

Tetapi saya malu pas saya hendak meminta tolong ke teman sesama jurnalis. Mereka cekrak cekrek tanpa wajah sendiri sebagai sang model utama. Entah untuk keperluan pribadi atau untuk bisa memenangkan lomba foto (sebab saat itu kami ditantang untuk saling berkompetisi sehat), yang pasti tidak ada satu pun yang narsis rebutan spot untuk berfoto. Dari situ saya jadi mengurungkan niat lalu fokus ke pekerjaan saya.

Di sela memotret dua model yang menjadi subyek bidikan kamera, saya menyaksikan obyek ini ramai dikunjungi pencinta foto. Kebanyakan sih kalangan perempuan, baik ibu atau nenek. Riuh rendah mereka girang berfoto, bergaya sendirian hingga berkelompok.

Sedangkan kami? Hmm.. ada yang masih fokus memotret para model, ada yang sudah terlihat sibuk dengan gadget masing-masing. Saya yang tadinya masih berhasrat berfoto akhirnya makin kehilangan minat. Akhirnya saya paksakan diri meminta tolong ke teman untuk memfoto saya. Itu pun cuman di satu tempat dengan niat untuk meninggalkan jejak saja.

Entah bersyukur atau tidak bersyukur saat itu saya berada di rombongan yang kurang suka berfoto diri, yang pasti saya belajar banyak hal hanya dalam beberapa jam di situ.

Tempat yang ketika masuk terlihat wow seiring berjalannya jam menjadi tak sekuat menarik saya untuk menikmatinya. Kemudian, saya jadi teringat dengan badan saya yang mulai kelelahan, dehidrasi dan masalah pribadi yang saya coba paksa kesampingkan saat itu.

Lalu, jimat saya buat move on itu perlahan muncul, “Ah nikmat duniawi..” Kalau sudah muncul kata-kata itu artinya saya harus mawas diri agar tidak terlalu terlena dalam hiburan ini.

Buat saya, tidak membagikan hasil foto jepret pribadi saya ke media sosial menjadi prestasi tersendiri. Belakangan, butuh usaha agak ekstra untuk tidak membagikan foto saya saat bepergian lengkap dengan caption semi curahan hati di media sosial. Alhamdulillah, saya sudah mulai jarang sekali menulis status di Facebook, tidak seperti dulu. Hanya untuk Instagram saya masih berusaha mengeremnya.

Mengapa?

Bagi yang memang berkepribadian terbuka dan ramai, membagikan status pribadi atau keluh kesah di ranah publik bukanlah hal yang aneh. Hanya buat saya yang setidaknya berusaha tertutup untuk urusan pribadi, terlalu sering menceritakan perasaan di media sosial membuat saya merasa aneh pada diri saya sendiri. Dulu saya nggak begini deh, kurang lebih seperti itu.

Alasan kedua terkait dengan pengalaman saya balik lagi ke dunia media, yang sekarang bergelut di teknologi dan gaya hidup digital, termasuk media sosial. Cukup mengerikan bagaimana aksi korporasi para raksasa Silicon Valley merancang bisnis mereka. Terlalu naif menyebut misi mulia Facebook masih ingin menghubungkan kita dengan teman, menjalinkan tali silaturahmi dan sebagainya.

Kenyataannya, Facebook semakin mempercanggih algoritmanya, membaca perilaku kita. Setiap kali kita melakukan aktivitas apa pun, kesemuanya terekam dalam mesin mereka. Belum lagi, Facebook mengembangkan aplikasi serupa Tik-Tok yang memfasilitasi remaja berkaraoke ria. Intinya sih satu, semakin banyak dan semakin lama orang berada di Facebook dengan tujuan melanggengkan bisnis mereka. Saya ingin berbagi di sini bahwa harta yang paling mereka incar dan harus kita jaga adalah data pribadi kita, cerita kita, emosi kita. Jika itu pun sudah tak lagi kita lindungi dan diketahui semua oleh mereka, apalagi yang tersisa?

Google, Instagram, WhatsApp, YouTube.. semuanya mengambil langkah korporasi yang kurang lebih sama. Membuat sebanyak mungkin orang “terhibur” dengan fitur ini dan itu, stiker yang ini kemudian yang itu, update dan terus update. Kita lama-lama serupa anak kecil yang secara tidak sadar meminta hiburan baru dan baru. Senantiasa tidak puas dengan yang sudah ada. Celakanya banyak yang terlambat menyadarinya. Hiburan yang dulu berfungsi membantu orang melepaskan penat dari bekerja seharian kini berbalik, orang membutuhkan hiburan, bahkan saat sebenarnya mereka tidak memerlukannya.

Beberapa bulan yang lalu, saya meliput konferensi pers rilis kompetisi game tingkat pelajar. Baru saya sadar esport menjadi salah satu mata pelajaran ekstrakurikuler sebuah SMU di Jakarta. Jujur, saya tercengung. Tidak dipungkiri esport menjanjikan karir yang gemilang bagi yang serius menekuninya. Tetapi menjadikannya sebagai kurikulum?

Tidak hanya bagi pelajar, saya juga pernah meliput rilis kompetisi game yang sudah seperti liga sepakbola musiman. Hadiahnya menggiurkan. Status pemain pun sudah berlabel profesional. Jika kamu tidak bisa bermain, kamu masih bisa ambil bagian dengan menjadi komentator, analis atau pengamat.

Menjadi influencer atau selebgram dengan ribuan atau jutaan followers bisa membuka ladang pekerjaan tersendiri. Awalnya, saya suka mengelik selebgram yang kerap jadi model makeup atau baju, cuma lama-kelamaan jadi mikir, ya kali pulsa saya habis cuman buat melihat baju yang nggak mungkin saya beli karena mahal. Terus, apa hidup hanya sebatas berbagi tips makeup atau jajanan yang sedang hits?

Belum lagi, jika melihat akun dengan tebaran foto-foto mengagumkan pergi ke suatu tempat yang Instagrammable. Ke gunung, ke pantai, ke laut atau ke kafe yang penuh kalimat berbunga-bunga buat difoto. Jika sedang khilaf timbul hasrat ingin ke tempat tersebut (pernah loh saya melakukan ini demi eksistensi di Instagram). Untungnya sekarang sudah mulai berhembus mantra lain, “Kapan aku nabung kalau tiap ada duit berlebih hanya mau mengikuti hawa nafsu atas nama kekinian?”

Saya tidak menentang media sosial atau perkembangan teknologi. Saya sekarang hidup dari situ. Hanya bagi orang yang sudah beranjak tua seperti saya, tren saat ini sudah kadang di luar nalar. Ada yang rela naik gedung tinggi tanpa pengaman demi selfie atau mencoba aneka rupa makanan demi klik, viewers atau jumlah komentar, entah sadar makanan itu baik bagi badannya atau tidak.

Sudah tersedia banyak platform untuk mengekspresikan diri, hiburan menjadi lahan bisnis menguntungkan hingga kuantitas menjadi standar ukuran kesuksesan. Belum lagi, perusahaan IT global memang membuat manusia susah sekali untuk lepas dari ponsel cerdas.

Kalau susah mengendalikan diri, perkembangan teknologi bisa membuat kita, setidaknya saya, menjadi gila. Yang bisa menolong kita mengerem ya hanya Alloh swt dan Alqur’an. Banyak berpegang pada-Nya solusi akhir yang saya coba terapkan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s