Alqur’an Menyelamatkanku dari Ketagihan Membaca Artikel Motivasi & “Self-Help”

Aku mulai kembali mengakrabi tulisan tentang motivasi dan self-help beberapa tahun yang lalu karena sebelumnya aku pernah suka membaca buku seperti ini saat zaman kuliah.

Ceritanya, saat itu aku mengintip salah satu akun artis di Twitter lalu melihat si selebriti ini membagikan tautan thoughtcatalog.com. Aku kemudian langsung mengelik tautan tersebut dan jatuh cinta sekali baca. Topik yang begitu nyata buatku dan mungkin buat pembaca secara umum dengan gaya kepenulisan yang sederhana tetapi mengandung pesan yang kuat sangat cocok dengan seleraku.

Bahkan aku mempunyai beberapa penulis favorit, salah satunya Brianna Wiest. Aku paling suka dengan Brianna sebab sudut pandang dia yang agak filosofis dan reflektif. Pada awalnya hanya membaca sebentar tetapi kemudian aku mulai kecanduan.

Beberapa topik yang paling menjadi favorit adalah tentang cara mencintai diri sendiri, bersyukur, bagaimana agar bisa produktif dan sukses tak hanya dalam hal pekerjaan tetapi juga sebagai manusia seutuhnya.

Membaca tulisan seperti ini sangat menyejukkan, pada awalnya. Kalimat-kalimat mutiara yang terasa dekat dengan pengalaman pribadi yang aku yakin juga dialami oleh sang penulis menjadikan tulisan semacam ini “pelarian” dari kepenatan. Biasanya ketika aku mulai kehilangan rasa percaya diri atau mulai mengeluh, tulisan-tulisan ini akan aku baca lagi. Bahkan ada beberapa judul yang aku baca berulang-ulang saking judul tersebut begitu menggambarkan pengalaman atau “menyuarakan’ masalahku saat itu.

Belum puas sampai di situ. Aku bahkan sempat membeli buku Brianna Wiest via online, mengecek terus situs pribadinya dan berlangganan blog Benjamin Hardy, salah satu penulis psikologi positif yang pernah menjadi penulis tamu di Thought Catalog.

Singkat kata, Thought Catalog membawaku ke banyak penulis, psikolog dan terapis Barat yang memang menjual jasa sebagai psikiater, psikolog dan teman untuk curhat lalu memberikan solusi. Di AS, profesi semacam ini sudah populer dan memang umum dipakai. Nggak mengherankan waktu itu pernah menonton film komedi romantis tentang seorang mak comblang profesional di AS yang jatuh cinta dengan salah seorang kliennya. Di sana bahkan mak comblang saja sudah menjadi pekerjaan resmi.

Ada hal yang menyenangkan dan “dekat” tiap kali membaca artikel motivasi atau self-help. Kalimat yang ditulis seperti dibuat khusus buatku atau buatmu, seperti lagu. Hanya saja, terlalu sering tidak baik.

Waktuku lama-kelamaan jadi habis untuk membaca artikel seperti ini. Padahal dipikir-pikir isinya sama saja, hanya bed acara penulisan karena memang beda penulis. Parahnya, waktuku untuk membaca fiksi atau novel jadi berkurang. Dan yang terburuk adalah aku nggak bergerak atau ambil tindakan atas masalahku, waktuku habis membaca artikel semacam ini.

Dari situlah aku mulai berpikir. Ada yang salah dengan kebiasaanku ini. Aku sudah mulai kecanduan tapi aku nggak tahu bagaimana menghentikan ini semua.

Aku bisa sembuh dari ketagihan ini tanpa rencanaku tetapi aku yakin semua sudah diatur oleh Alloh swt. Setelah masalah pribadi yang cukup berat tahun lalu, teman baikku bernama Vindi Kaldina mengenalkanku pada Nouman Ali Khan, yang sampai sekarang menjadi ustad favoritku.

Dari beliau inilah aku mulai mengenal kembali Alqur’an. Semacam mengakrabi Alloh swt dengan cara yang benar-benar baru melalui kata-kataNya dalam buku ini. Dari kecil aku melihat Alquran sebagai buku perintah dan larangan-Nya semata. Aku tidak mengenal dan memandang Alqur’an sebagai caraNya menuangkan seluruh nasehat selayaknya sahabat bijak penuh cinta dan kasih.

Sering mendengarkan dakwah Nouman tentang Alqur’an lalu mempraktekkan melihat Alqur’an dengan kacamata yang lebih segar dan dekat dengan Alloh swt membuat jiwaku seperti tersaring.

Nggak tahu kapan dan bagaimana ketagihanku membaca artikel motivasi berkurang, bahkan aku sudah nggak lagi mengelik Thought Catalog dan situs sejenis lebih dari setahun. Aku juga sudah berhenti berlangganan blog Benjamin Hardy dan yang lainnya.

Semakin aku memilih membaca Alqur’an dan mendengarkan dakwah Nouman, semakin ketertarikanku membaca artikel psikolog positif meredup dengan sendirinya. Memang Alloh swt adalah sebaik-baiknya teman dan paling mengerti segalanya. Dia tahu aku mulai kecanduan dan tanpa aku meminta langsung, Dia menutup segala keingintahuanku tentang isi artikel motivasi dan lainnya. Subhanalloh..

Sejak mulai mempraktekkan berlari ke Alqur’an tiap kali ada masalah, aku juga semakin tersadarkan harus bisa menyaring bahan bacaan, memilih dan memilah mana yang penting sebab waktuku di dunia terbatas. Fokus membaca pun harus dibatasi pada hal yang dibutuhkan, bukan terlena oleh kilauan kata-kata yang sebenarnya sama. Dari sinilah, akhirnya aku mulai memprioritaskan bacaan hanya pada hal yang memang aku butuhkan saja. Yang pasti fiksi masih aku geluti sampai sekarang.

Paling jenis artikel gaya hidup minimalisme yang masih aku sempat baca, itu pun tidak sesering dulu. Membaca tulisan dengan topik seperti ini bermanfaat untuk menerapkan gaya hidup sederhana dan terfokus di zaman penuh pengalihan seperti saat ini.

Selebihnya, aku hanya fokus membaca pada Alqur’an, fiksi klasik dan bacaan terkait pekerjaan. Selebihnya, aku memilih kembali ke Nouman Ali Khan, yang artinya kembali belajar Alqur’an. Alhamdulillah…

 

Advertisements