Merefleksikan Surat Al Kahfi Ayat 109 melalui pekerjaan yang kita lakukan

{قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (109) }

Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS: Al Kahfi ayat 109)

Jika kamu bekerja di sebuah bidang, bukan hal yang kebetulan kamu pun akan bertemu dengan orang yang seprofesi. Katakanlah, guru bertemu dengan guru lainnya, berbeda mata pelajaran tetapi intinya tetap mengajar.

Lalu bagaimana jika pekerjaan kamu sendiri tergolong pekerja lepas dan kamu bisa mengerjakan beberapa pekerjaan? Bukan hal yang mengejutkan jika pada akhirnya kamu akan bertemu sesama pekerja lepas lintas sektor.

Seperti itulah yang aku rasakan saat menjadi jurnalis lepas untuk Gizmologi.id dan penerjemah untuk situs Kementerian Keuangan yang khusus memuat berita Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 Oktober lalu di Bali.

Saat aku meliput, misalkan, aku bertemu dengan banyak orang dengan ragam profesi lepas. Sebagai contoh, pembawa acara di konferensi pers yang aku liput. Belum lagi kreator konten yang saat ini lagi populer seiring dengan perkembangan media sosial.

Saat aku bekerja di Bali selama acara IMF-Bank Dunia tersebut, aku bekerja juga dengan rekan yang juga sesama pekerja lepas. Ada yang menjadi konsultan media, admin media sosial hingga orang administrasi dan keuangan.

Semakin teknologi berkembang, aku semakin paham akan ada banyak profesi baru yang menggantikan profesi lama. Salah satunya diriku sendiri yang menulis bukan buat pembaca koran saat aku di The Jakarta Post melainkan buat penikmat media digital. Begitu pula dengan teman atau kenalan di atas, profesi mandiri yang tercipta seiring perubahan zaman dan teknologi.

Lalu aku pun teringat dengan Surat Al Kahfi ayat 109 di atas. Sesungguhnya aku malu sebab aku pernah memilih surat tersebut untuk halaman kutipan di skripsi aku tanpa aku paham maksudnya apa. Waktu itu aku hanya ingin memasukkan kutipan dari Alqur’an dan pas aku membaca ayat itu di lembar skripsi teman kostku, aku pun memilihnya.

Sekarang, setelah puluhan tahun barulah aku sadar betapa ayat tersebut sungguh menakjubkan menggambarkan warisan ilmu Alloh swt dalam Alqur’an yang menuliskan kebesaranNya yang tidak akan habis oleh zaman. Sebagai sumber mencari ilmu, rezeki dan penghidupan bagi hamba-hambaNya.

Maha Kuasa Alloh swt yang dalam ayat tersebut menyebut ciptaan-Nya diibaratkan sebagai lautan. Lautan yang memiliki lapis demi lapis yang tidak akan pernah habis digali oleh seberapa banyak manusia, lintas bidang hingga melewati rentang zaman.

Hal ini seperti halnya Alqur’an yang mempunyai banyak lapis yang tidak akan tamat digali saking kayaknya ilmu yang terkandung di sana.

Ilmu Alloh swt mencakup langit, bumi, udara, hutan, bintang, matahari, atmosfir, dan masih banyak lagi. Di setiap ciptaan-Nya di situlah Alloh swt menitipkan ayat, yang mengandung banyak kearifan, ilmu, peringatan, dan lainnya. Bahkan kita sebagai manusia pun adalah ciptaan-Nya yang dibekali dengan anugerah luar biasa berupa akal.

Dari akal kitalah kita dibekali rasa keingintahuan untuk menggali apa pun yang Dia tinggalkan untuk sarana kita hidup. Dari langit saja sudah tak terkira beragam turunan ilmu dan profesi yang terbentuk. Belum lagi media berita dan media sosial yang memdedikasikan diri mengulas segala hal tentang langit, termasuk planet, asteroid, awan, kabut, dan lainnya. Lalu dari situ, terbentuklah komunitas pencinta astronomi hingga media sosial tersebut tak kuasa hanya menjadi sekadar lapak amatir. Dari situ ia berkembang menjadi media profesional dengan mempekerjakan admin atau bahkan wartawan hingga penulis dengan latar belakang pendidikan terkait agar media tersebut tak hanya jadi ajang kumpul berbagi informasi tetapi sebagai sumber informasi yang terpercaya.

Sungguh tak terhingga dari satu bagian ciptaan Alloh swt bisa menjadi lahan dengan fungsi yang tak terbatas bagi manusia melalui akal yang Dia titipkan. Subhanalloh.. hal yang sama berlaku juga pada pada bidang yang lain. Aku sendiri selalu kagum, tak henti-hentinya mengagumi kandungan Alqur’an yang meski dibuat sudah lebih dari 1,600 tahun yang lalu, tetapi kearifan dan wejangan di dalamnya tak pernah kadaluwarsa.

Dipikir-pikir saat Rosulluloh Muhammad saw menerima wahyu ini, beliau tidak mengenal telepon, apalagi internet. Tetapi ayat dari Alloh swt tetap relevan hingga zaman dimana teknologi begitu canggih.

Aku juga selalu takjub betapa Alqur’an sanggup menyegarkan cara pandangku tentang hal-hal yang dulu aku tahu  tetapi aku abaikan, contohnya ya tentang ilmu ini. Tentu saja aku tahu tentang ciptaan Alloh swt yang menjadi bahan kajian hingga lapangan kerja bagi umat manusia, katakanlah hutan. Hanya saja aku alfa mensyukuri tersebut sebab aku tidak benar-bena melihatnya dari sudut pandang Alqur’an.

Alhamdulillah.. Sekarang berkat Alqur’an, aku diajari melihat hal yang sama dengan kacamata yang lebih jernih dan sesuai. Yang tersisa pun pada akhirnya kalimat: alhamdulillahirobbil’alamiin..

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s