Orang Beriman Tidak Mengenal Sekat Urusan Duniawi dan Akherat

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ

الْحَكِيْمِ

Alqur’an surat Al Jumuah ayat 1

Orang yang benar-benar mempercayai adanya Alloh swt tidak akan semata melihat hidup perkara mencari pahala atau menghindari maksiyat. Mereka tak melihat dunia tempat berlomba mengumpulkan pahala sebagai syarat poin tertentu mencapai surga atau menghindari neraka.

Mereka yang teguh meyakini kebaikan Alloh swt tidak pula memandang Islam sebagai rentetan aturan dan larangan, yang harus mereka jalankan atau hindari dalam kehidupan sehari-hari. Diperlukan landasan tulus dan ikhlas agar mereka tidak melihat Alloh swt sebagai Tuan yang serba menakutkan, penuh hukuman, sangat mengerikan yang akan terus menghantui hari-hari jika mereka berbuat dosa.

Di lain pihak, orang yang benar-benar beriman akan kasih saying Alloh swt juga tidak melulu melihat Dia sebagai teman yang terlampau dekat sehingga kehilangan kebijaksanaan dan kewibawaan di hadapan hamba-hambaNya. Jika hanya menganggap Alloh swt sebagai sahabat saja, orang-orang beriman akan malas dan menganggap remeh segala perintah dan larangan-Nya.

Penceramah ternama Nouman Ali Khan menyebut ayat pertama surat di atas menggambarkan hubungan Alloh swt dengan hamba-Nya melalui empat sifat dari Alloh swt yang Ia sebut sendiri: “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Maha Raja dan Maha Perkasa menggambarkan kedudukan Alloh swt yang tak terbandingi kekuasaannya. Mengingat dua sifatNya ini membuat hamba sangat menghormati, takut akan siksaan dariNya jika kita melanggar perintahnya. Akan timbul rasa segan, hormat untuk mentaati segala yang Dia perintahkan.

Maha Suci dan Maha Bijaksana menggambarkan kedekatan Alloh swt dengan orang yang beriman. Dalam hati mereka, Alloh swt adalah yang Paling Mengerti kondisi yang tampak mau pun yang ghaib. Alloh swt pun menjadi yang paling dekat, utama dan pertama dalam hidup mereka.

Empat sifat ini menjelaskan hubungan Alloh swt dengan orang beriman yang “terkadang jauh, terkadang dekat.” Saat jauh di sini maksudnya orang yang beriman memperlakukan Alloh swt sebagai Tuan yang mempunyai otoritas penuh atas diri mereka. Tiada yang bisa mereka lakukan selain menaati dan menjauhi apa yang Alloh swt sudah gariskan.

Sedangkan dekat di sini berarti menginternalisasikan sifat Alloh swt yang sangat menyayangi manusia, bukan hanya orang yang beriman, melebihi siapa pun di dunia ini. Alloh swt pun menjadi yang pertama tempat mengadu, sekadar bercerita hingga mengeluhkan tentang persoalan hidup.

Memaknai secara betul sifat hubungan di atas berarti menyelami makna beriman yang sebenarnya dimana iman atau kondisi keyakinan tiap orang bermain bisa berubah-ubah, jadi bisa “terkadang jauh, terkadang dekat”.

Dibutuhkan perekat dua sifat hubungan seperti ini dan sebaik-baiknya lem adalah rasa bersyukur. Berterima kasih kepada Alloh swt bukan karena ingin Dia mengabulkan doa kita yang lain tetapi berucap syukur dan menghargai segala pemberianNya tanpa syarat. Sudah sepantasnya bersyukur setulus yang kita mampu agar pembatas urusan duniawi dan akherat pupus.

Saat orang yang beriman sedang bekerja dia tak lagi menganggap sedang mengejar hal duniawi. Ketika mereka hendak sholat, tak ada perkataan ingin melakukan urusan akherat. Karena sesungguhnya mereka memahami benar semua yang Alloh swt beri, titipkan pada mereka sudah selayaknya mereka laksanakan dengan baik sebagai seorang abdi yang berterima kasih secara ikhlas.

Perkara apakah akan menambah ganjaran atau tabungan untuk akheratnya kelak, seorang hamba yang beriman tak lagi mempedulikan hal tersebut. Sebab baginya mengabdi dengan sepenuh hati dengan landasan bersyukur itulah yang terpenting.

Advertisements

Miss Havisham, most horrific & miserable victim of love I have ever known

MIss Havisham. Source: bbc.co.uk

Miss Havisham is a creepy figure. I need to stop imagining what she looks like because that will make the hairs in my arms get goosebumps. To give you an illustration, she wears a white wedding dress throughout Great Expectations which means for years because Pip is a boy as the book starts and he turns 30-something when the story concludes. She never leaves Satis House, a ruined mansion where she lives with her adopted daughter Estella, for many years. She lets the clock in her room unchanged. She stands still in a world that keeps moving.

Miss Havisham quickly reminds me of Quilp, the main antagonist in The Old Curiosity Shop, another Dickens’ novel. They are of course different characters, Quilp is a very wicked, disgusting fiction figure I have ever met with. While miss Havisham isn’t a cruel one but the two reflects Dickens’ totality in creating very peculiar, distinguishable figures in literature.

As I read along the novel, miss Havisham is abundantly buried in her failed planned marriage. As far as “love is blind” saying is concerned, miss Havisham is about to get married to Compeyson, whom she really, really loves long, long time before she knows Pip, the protagonist in Great Expectations. To he sadness, Compeyson abandons her. He is only interested at her fortune.

Devastated and humiliated, miss Havisham suffers from mental breakdown and “imprisons” herself in the house. Worse, she even asks for mister Jaggers finding her an adopted daughter whom miss Havisham can look after and gradually turn her as a player.

Miss Havisham’s dream comes true as Estella plays with many men’ hearts, including Pip’s. Despite her knowing over Pip’s sincere feeling for Estella, miss Havisham instead asks for her marrying other man. At the end, neither Estella nor miss Havisham are happy.

As a reader, I can’t think of anyone can be that depressed as miss Havisham. She is so captured in the past that she takes revenge through Estella. As impossible as her trait can be, Dickens, here, digs his deepest on human emotion when it comes to love, excessive love, that may turn into severe heartbrokenness. And miss Havisham is such most suitable portrait we can get precious lessons from.

From the beginning, Dickens puts many clues on her collapse. The way she dresses, the ruined mansion that she lives in, her choice of not ever leaving the house after she fails to get married.

I remember one of the scenes where which she explicitly tells Estella not to take into account Pip’s feeling. For miss Havisham, love is like a dead-end matter, that everyone should never ever taste sweet, valuable taste of it. She can only regret her action of persuading Estella marrying Bentley Drummle although she knows him a brutal person.

As the novel comes to an end, miss Havisham asks for Pip’s forgiveness that comes out too late because Estella now becomes Drummle’s wife. Miss Havisham burns herself but Pip saves her. She lives the rest of her life in sickness because of that.

Miss Havisham reminds me so much on dangerous illogical love to others. She is actually warned over Compeyson’s ill motives but she ignores it. She pays all the price in most unthinkable ways I can possibly comprehend. I hope each of us won’t be like her in love-related matter or others.

 

 

 

In praise of short fiction: lessons learned from Edgar Allan Poe’s “The Gold Bug”

Digging the gold. Source: users.telenet.be

In what we call as artificial story, there is abundant knowledge upon certain subject, deep understanding on human attitude and sophisticated calculation. Such is as I obtain after reading The Gold Bug by Edgar Allan Poe.

After slowing my reading pace down on the short story, I don’t still really get how Mr. William Legrand can fully unveil mystery surrounding a beetle that brings in him a treasure.

I am like the narrator in the story who regards Mr. William Legrand an insane person. His obsession to the beetle makes him loses his mind. And I do hope that is proven by the end of the story. Perhaps as a reader who gets used to reading books by George Eliot and Charles Dickens, my view on imaginative story gets blurred. I find it hard to differentiate imagination and reality because, as much as the two create artificial story, their ways of depicting story conveying message feel like they are like non-fictions.

I almost forgot that I this time around, I read The Gold Bug, a story by the master of imaginative, mysterious and Gothic theme, Edgar Allan Poe. I shouldn’t expect at the very beginning that the short fiction would confront me with moral values as I often get after reading books by Victorian writers. Thanks God, that didn’t happen. Otherwise, why would I buy his short story collection if not I wanted to look for highly qualified reading in contrast to what I usually enjoy?

As much as I am entertained by Poe’s idea in The Gold Bug, I get confused with his way of loosening all riddles bit by bit. Don’t worry. It’s just my poor reading capability. I need to work a little bit harder for reading this type of story.

Mr. Legrand has his days deeply engaged with the beetle. He believes this insect means so much for him. His curiosity makes him ill, acts so weird that it’s no wonder that the narrator as his friend, considers him crazy.

Despite the narrator’s opinion, he still wants to accompany Mr. Legrand going to a forest along with his assistant, Jupiter. The narrator only wishes to ascertain that his friend will coming back home safe and sound after he receives Jupiter’s letter saying that his master is quite sick.

So, off they go to the forest. Then Mr. Legrand instructs Jupiter to climb a tree. I’m sorry that I can’t elaborate anymore because my poor reading ability at this time can’t trace all in details.

All I can sum up here is that they do find the treasure, in forms of a heavy box full of gold coins. Mr. Legrand explains (I try to explain here as I possibly can), the mystery is firstly introduced by a paper that he gets burned after the narrator mocks it. It turns out the paper contains chemical substance that brings out number.

Here, I am amazed by Mr. Legrand’s intelligence in cracking the numbers that later become words and phrases and eventually the exact location of the hidden treasure. I am happy to know Poe brings him up as a sample of crazy person who doesn’t giving up his hope despite what others say about him.

Behind that absurd, non-sense statement there lies peculiar logic that only requires us paying more attention to it. Mr. Legrand is a good example for that.

Merefleksikan Surat Al Kahfi Ayat 109 melalui pekerjaan yang kita lakukan

{قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (109) }

Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS: Al Kahfi ayat 109)

Jika kamu bekerja di sebuah bidang, bukan hal yang kebetulan kamu pun akan bertemu dengan orang yang seprofesi. Katakanlah, guru bertemu dengan guru lainnya, berbeda mata pelajaran tetapi intinya tetap mengajar.

Lalu bagaimana jika pekerjaan kamu sendiri tergolong pekerja lepas dan kamu bisa mengerjakan beberapa pekerjaan? Bukan hal yang mengejutkan jika pada akhirnya kamu akan bertemu sesama pekerja lepas lintas sektor.

Seperti itulah yang aku rasakan saat menjadi jurnalis lepas untuk Gizmologi.id dan penerjemah untuk situs Kementerian Keuangan yang khusus memuat berita Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 Oktober lalu di Bali.

Saat aku meliput, misalkan, aku bertemu dengan banyak orang dengan ragam profesi lepas. Sebagai contoh, pembawa acara di konferensi pers yang aku liput. Belum lagi kreator konten yang saat ini lagi populer seiring dengan perkembangan media sosial.

Saat aku bekerja di Bali selama acara IMF-Bank Dunia tersebut, aku bekerja juga dengan rekan yang juga sesama pekerja lepas. Ada yang menjadi konsultan media, admin media sosial hingga orang administrasi dan keuangan.

Semakin teknologi berkembang, aku semakin paham akan ada banyak profesi baru yang menggantikan profesi lama. Salah satunya diriku sendiri yang menulis bukan buat pembaca koran saat aku di The Jakarta Post melainkan buat penikmat media digital. Begitu pula dengan teman atau kenalan di atas, profesi mandiri yang tercipta seiring perubahan zaman dan teknologi.

Lalu aku pun teringat dengan Surat Al Kahfi ayat 109 di atas. Sesungguhnya aku malu sebab aku pernah memilih surat tersebut untuk halaman kutipan di skripsi aku tanpa aku paham maksudnya apa. Waktu itu aku hanya ingin memasukkan kutipan dari Alqur’an dan pas aku membaca ayat itu di lembar skripsi teman kostku, aku pun memilihnya.

Sekarang, setelah puluhan tahun barulah aku sadar betapa ayat tersebut sungguh menakjubkan menggambarkan warisan ilmu Alloh swt dalam Alqur’an yang menuliskan kebesaranNya yang tidak akan habis oleh zaman. Sebagai sumber mencari ilmu, rezeki dan penghidupan bagi hamba-hambaNya.

Maha Kuasa Alloh swt yang dalam ayat tersebut menyebut ciptaan-Nya diibaratkan sebagai lautan. Lautan yang memiliki lapis demi lapis yang tidak akan pernah habis digali oleh seberapa banyak manusia, lintas bidang hingga melewati rentang zaman.

Hal ini seperti halnya Alqur’an yang mempunyai banyak lapis yang tidak akan tamat digali saking kayaknya ilmu yang terkandung di sana.

Ilmu Alloh swt mencakup langit, bumi, udara, hutan, bintang, matahari, atmosfir, dan masih banyak lagi. Di setiap ciptaan-Nya di situlah Alloh swt menitipkan ayat, yang mengandung banyak kearifan, ilmu, peringatan, dan lainnya. Bahkan kita sebagai manusia pun adalah ciptaan-Nya yang dibekali dengan anugerah luar biasa berupa akal.

Dari akal kitalah kita dibekali rasa keingintahuan untuk menggali apa pun yang Dia tinggalkan untuk sarana kita hidup. Dari langit saja sudah tak terkira beragam turunan ilmu dan profesi yang terbentuk. Belum lagi media berita dan media sosial yang memdedikasikan diri mengulas segala hal tentang langit, termasuk planet, asteroid, awan, kabut, dan lainnya. Lalu dari situ, terbentuklah komunitas pencinta astronomi hingga media sosial tersebut tak kuasa hanya menjadi sekadar lapak amatir. Dari situ ia berkembang menjadi media profesional dengan mempekerjakan admin atau bahkan wartawan hingga penulis dengan latar belakang pendidikan terkait agar media tersebut tak hanya jadi ajang kumpul berbagi informasi tetapi sebagai sumber informasi yang terpercaya.

Sungguh tak terhingga dari satu bagian ciptaan Alloh swt bisa menjadi lahan dengan fungsi yang tak terbatas bagi manusia melalui akal yang Dia titipkan. Subhanalloh.. hal yang sama berlaku juga pada pada bidang yang lain. Aku sendiri selalu kagum, tak henti-hentinya mengagumi kandungan Alqur’an yang meski dibuat sudah lebih dari 1,600 tahun yang lalu, tetapi kearifan dan wejangan di dalamnya tak pernah kadaluwarsa.

Dipikir-pikir saat Rosulluloh Muhammad saw menerima wahyu ini, beliau tidak mengenal telepon, apalagi internet. Tetapi ayat dari Alloh swt tetap relevan hingga zaman dimana teknologi begitu canggih.

Aku juga selalu takjub betapa Alqur’an sanggup menyegarkan cara pandangku tentang hal-hal yang dulu aku tahu  tetapi aku abaikan, contohnya ya tentang ilmu ini. Tentu saja aku tahu tentang ciptaan Alloh swt yang menjadi bahan kajian hingga lapangan kerja bagi umat manusia, katakanlah hutan. Hanya saja aku alfa mensyukuri tersebut sebab aku tidak benar-bena melihatnya dari sudut pandang Alqur’an.

Alhamdulillah.. Sekarang berkat Alqur’an, aku diajari melihat hal yang sama dengan kacamata yang lebih jernih dan sesuai. Yang tersisa pun pada akhirnya kalimat: alhamdulillahirobbil’alamiin..

 

 

An Ode to Long, Very Long Reading

In social media era that easily reduces our concentration span, dedicating myself reading long, even very long material is an accomplishment nowadays. As shorter my focus is, my patience runs thinner that makes me realizing uninterrupted long reading experience is now a test of perseverance.

I feel it a bit thankful for myself after completing The Gold Bug, the first short story in short story collection by Edgar Allan Poe this morning. Though the fiction is quite difficult for me to digest, completing reading it is such a relief for me.

I should have finished reading it days ago but I instead spent useless minutes checking Instagram or Facebook. I have managed not to post my daily activity or status as frequently as I do in the past but still, I feel like my fingers are addicted to click the social media outlets.

Even so, I get used to reading non-sense articles with low journalism ethic (believe me, I am a journalist) via LINE or Twitter. What makes me sadder is the tendency how people lately love reading sensational news for the sake of huge number of clicks. For instance, gossip news or those that sell good-looking people get more and more attention.

As much as I love reading high literature works, like from Charles Dickens or Thomas Hardy, current popular reading captures my attention, sooner or later. I know it’s unfair to entirely blame on smartphone but I can’t deny accessibility and affordability play some roles. It’s like why most Jakartans prefer spending weekends in shopping malls or cafés to going to beaches.

Therefore, each time I finish reading fiction and find myself deeply engaged to the book completely gladdens me. I now regard being capable of doing that means I pass patience test. Putting my whole self in adventure with certain authors in the books also mean I still retain the pleasure of being purely entertained with something intellectual. As I grow older, maintaining my focus and remembrance start challenging me. And reading high quality books is one of the effective ways of keeping my brain functions at its best. Add to that enduring patience while enjoying what the authors have in store for me. That is as I called as the ultimate pleasure that doesn’t only entertain my brain but also shakes my heart as a human being.

I have written this type of theme in the blog before to remind myself on the joy of long reading. I think I will write another post on the theme to let myself know that I can still taste it with a little bit challenge.

“Great Expectations” Review: How Pip’s Life Speaks A Lot About Mine, and May Be Yours

Pip’s poverty doesn’t necessarily cause him leaving his life and Joe. His wish of becoming a gentleman gets into his mind after Estella, the only woman whom he loves, mocks him. Pip wants to prove Estella that he is worthy of her love. So off he goes to London under mysterious inheritance from someone he doesn’t know about.

Thankfully, I am not as poor as Pip. My intention of leaving for Jakarta is on the back of my mind since I am at university level. I have no ideas what Jakarta looks like but like millions Indonesian living in villages, the capital is the city of promise, much like London is for Pip. I leave for Jakarta with huge dream and army of academic credential but few experiences.

Pip expects the money he inherits will make him a gentleman who deserves a place in elite class in London. And I live in Jakarta to earn good amount of money and establish my career as a reputable, if possible, an international caliber journalist. We both have dreams. We both expect something and someone.

It’s our expectations that drag us along the days, the weeks and eventually the years. Years pass us by and all that we face are conflicts, problems that get us to think: “Are we wrongly expect on that something or someone?” Or “Are we wrong to expect at the beginning?”

Reading Great Expectations then again lead me to come to a question that I and my close friends sometimes discuss about: “Can we expect our life be this and that? Or “Should we live the life like a flowing river?”

Great Expectations touches the basic question that I believe cross our mind one moment or the other time. As you live your life, do you live it with self-determination to chase after something or someone, or do you take and do whatever life has in store for you?

Interestingly, in Pip’s story, Charles Dickens turns the thing around about failed expectations to self-improvement that gets more attention as I read it until the last page. Personally, I think Pip’s expectations crumble down. He doesn’t only get Estella’s love but is also in huge debt. For worse (or better), the actual benefactor is beyond his expectation. I, too, has to resign sooner than expected because of conflicts in previous office. And now I have to set up a freelancing career on my own.

What is remarkably about Pip’s turning point in life is that he seems no longer putting as much weight on his number 1 expectation as before. His life as a Londoner meets him with various characters, some are good, some are bad. He learns that those with nice clothes and first-class reputation don’t automatically tell they are good people.

And as with Estella, Pip bitterly learns his pure love for her is taken for granted. As much as he believes Estella actually likes him in return, Pip realizes not everyone can be honest with his or her feeling. Not every one wishes to take a risk of fighting for what she or he loves. Much is in the case of Estella who gets married with someone whom she doesn’t love because she gets used to playing with boys’ hearts (as taught by Miss Havisham). It isn’t that surprising at the end of the novel, it is Estella’s husband that plays her heart and makes her a victim of his physical abuse.

As his expectations start fading away, Pip’s focus shifts to something more urgent which regards to the life of the benefactor. Here, Dickens implicitly says sometimes you need to be thankful for abundant problems in your life because they get you moving on with your life.

Fortunately (or not fortunately), Pip puts more and more energy to save the life of the benefactor who loves him so much that he is willing to give all his money for Pip despite the fact they meet for like, twice or three times, when Pip is still a small, sentimental boy.

The love from the benefactor then teaches Pip on unexpected thing that he gets so misunderstood for the whole time as he believes it is Miss Havisham who inherits the money. From this, Pip is awakened from his poor treatment to Joe who dearly loves him but gets Pip’s underestimation in return because Joe is poor and illiterate.

Pip’s expectations go from great to small yet meaningful one when all he cares is paying off what he can to the benefactor. At first, he wishes to get rid to him but as he shows his tenderness, Pip’s love grows bigger. He really treats him like his father and nurture him until the day he passes away.

And after that, Pip’s life gets straightened when he works so hard to pay all of his debt to Joe. Pip loses his initial great expectations but he isn’t that broken.

Alqur’an Menyelamatkanku dari Ketagihan Membaca Artikel Motivasi & “Self-Help”

Aku mulai kembali mengakrabi tulisan tentang motivasi dan self-help beberapa tahun yang lalu karena sebelumnya aku pernah suka membaca buku seperti ini saat zaman kuliah.

Ceritanya, saat itu aku mengintip salah satu akun artis di Twitter lalu melihat si selebriti ini membagikan tautan thoughtcatalog.com. Aku kemudian langsung mengelik tautan tersebut dan jatuh cinta sekali baca. Topik yang begitu nyata buatku dan mungkin buat pembaca secara umum dengan gaya kepenulisan yang sederhana tetapi mengandung pesan yang kuat sangat cocok dengan seleraku.

Bahkan aku mempunyai beberapa penulis favorit, salah satunya Brianna Wiest. Aku paling suka dengan Brianna sebab sudut pandang dia yang agak filosofis dan reflektif. Pada awalnya hanya membaca sebentar tetapi kemudian aku mulai kecanduan.

Beberapa topik yang paling menjadi favorit adalah tentang cara mencintai diri sendiri, bersyukur, bagaimana agar bisa produktif dan sukses tak hanya dalam hal pekerjaan tetapi juga sebagai manusia seutuhnya.

Membaca tulisan seperti ini sangat menyejukkan, pada awalnya. Kalimat-kalimat mutiara yang terasa dekat dengan pengalaman pribadi yang aku yakin juga dialami oleh sang penulis menjadikan tulisan semacam ini “pelarian” dari kepenatan. Biasanya ketika aku mulai kehilangan rasa percaya diri atau mulai mengeluh, tulisan-tulisan ini akan aku baca lagi. Bahkan ada beberapa judul yang aku baca berulang-ulang saking judul tersebut begitu menggambarkan pengalaman atau “menyuarakan’ masalahku saat itu.

Belum puas sampai di situ. Aku bahkan sempat membeli buku Brianna Wiest via online, mengecek terus situs pribadinya dan berlangganan blog Benjamin Hardy, salah satu penulis psikologi positif yang pernah menjadi penulis tamu di Thought Catalog.

Singkat kata, Thought Catalog membawaku ke banyak penulis, psikolog dan terapis Barat yang memang menjual jasa sebagai psikiater, psikolog dan teman untuk curhat lalu memberikan solusi. Di AS, profesi semacam ini sudah populer dan memang umum dipakai. Nggak mengherankan waktu itu pernah menonton film komedi romantis tentang seorang mak comblang profesional di AS yang jatuh cinta dengan salah seorang kliennya. Di sana bahkan mak comblang saja sudah menjadi pekerjaan resmi.

Ada hal yang menyenangkan dan “dekat” tiap kali membaca artikel motivasi atau self-help. Kalimat yang ditulis seperti dibuat khusus buatku atau buatmu, seperti lagu. Hanya saja, terlalu sering tidak baik.

Waktuku lama-kelamaan jadi habis untuk membaca artikel seperti ini. Padahal dipikir-pikir isinya sama saja, hanya bed acara penulisan karena memang beda penulis. Parahnya, waktuku untuk membaca fiksi atau novel jadi berkurang. Dan yang terburuk adalah aku nggak bergerak atau ambil tindakan atas masalahku, waktuku habis membaca artikel semacam ini.

Dari situlah aku mulai berpikir. Ada yang salah dengan kebiasaanku ini. Aku sudah mulai kecanduan tapi aku nggak tahu bagaimana menghentikan ini semua.

Aku bisa sembuh dari ketagihan ini tanpa rencanaku tetapi aku yakin semua sudah diatur oleh Alloh swt. Setelah masalah pribadi yang cukup berat tahun lalu, teman baikku bernama Vindi Kaldina mengenalkanku pada Nouman Ali Khan, yang sampai sekarang menjadi ustad favoritku.

Dari beliau inilah aku mulai mengenal kembali Alqur’an. Semacam mengakrabi Alloh swt dengan cara yang benar-benar baru melalui kata-kataNya dalam buku ini. Dari kecil aku melihat Alquran sebagai buku perintah dan larangan-Nya semata. Aku tidak mengenal dan memandang Alqur’an sebagai caraNya menuangkan seluruh nasehat selayaknya sahabat bijak penuh cinta dan kasih.

Sering mendengarkan dakwah Nouman tentang Alqur’an lalu mempraktekkan melihat Alqur’an dengan kacamata yang lebih segar dan dekat dengan Alloh swt membuat jiwaku seperti tersaring.

Nggak tahu kapan dan bagaimana ketagihanku membaca artikel motivasi berkurang, bahkan aku sudah nggak lagi mengelik Thought Catalog dan situs sejenis lebih dari setahun. Aku juga sudah berhenti berlangganan blog Benjamin Hardy dan yang lainnya.

Semakin aku memilih membaca Alqur’an dan mendengarkan dakwah Nouman, semakin ketertarikanku membaca artikel psikolog positif meredup dengan sendirinya. Memang Alloh swt adalah sebaik-baiknya teman dan paling mengerti segalanya. Dia tahu aku mulai kecanduan dan tanpa aku meminta langsung, Dia menutup segala keingintahuanku tentang isi artikel motivasi dan lainnya. Subhanalloh..

Sejak mulai mempraktekkan berlari ke Alqur’an tiap kali ada masalah, aku juga semakin tersadarkan harus bisa menyaring bahan bacaan, memilih dan memilah mana yang penting sebab waktuku di dunia terbatas. Fokus membaca pun harus dibatasi pada hal yang dibutuhkan, bukan terlena oleh kilauan kata-kata yang sebenarnya sama. Dari sinilah, akhirnya aku mulai memprioritaskan bacaan hanya pada hal yang memang aku butuhkan saja. Yang pasti fiksi masih aku geluti sampai sekarang.

Paling jenis artikel gaya hidup minimalisme yang masih aku sempat baca, itu pun tidak sesering dulu. Membaca tulisan dengan topik seperti ini bermanfaat untuk menerapkan gaya hidup sederhana dan terfokus di zaman penuh pengalihan seperti saat ini.

Selebihnya, aku hanya fokus membaca pada Alqur’an, fiksi klasik dan bacaan terkait pekerjaan. Selebihnya, aku memilih kembali ke Nouman Ali Khan, yang artinya kembali belajar Alqur’an. Alhamdulillah…