Istilah “Penulis Konten” yang Begitu Mengusik Tetapi Saya Tak Bisa Berbuat Banyak

Mengetik “content writer” belakangan menjadi andalan saya ketika mencari proyek lepas baru melalui beberapa situs pencarian kerja gratis yang ada di internet. Normalnya, akan langsung muncul banyak pilihan posisi “content writer” baik sebagai pekerja lepas atau pun pekerja penuh. Beda halnya ketika saya mengetik “penulis”. Si mesin hanya sedikit memunculkan profesi tersebut, padahal inti pekerjaannya sama, yakni menulis.

Biasanya, “content writer” atau “penulis konten” diminta untuk mengisi laman media sosial atau situs sebuah perusahaan atau instansi. Sungguh saya sangat beruntung mempunyai hobi menulis yang semakin dibutuhkan di era serba digital seperti sekarang. Meninggalkan jejak berupa kesan baik di dunia maya, salah satunya melalui tulisan, semakin saja dibutuhkan. Ya, setidaknya saya tak perlu bergantung pada menulis buku atau novel (yang sampai sekarang ini belum saya selesaikan) untuk bertahan hidup sebab saya bisa menjadi penulis bayaran.

Hanya saja, istilah “penulis konten” dari awal kemunculannya menggelitik sanubari saya sebagai orang yang doyan nulis dari kecil lewat buku harian ini. Kata “konten” saja, meski diterjemahkan cukup oke dari kata aslinya, “content”, tetap berasa aneh. Saya jadi ingat dengan meme yang pernah menyindir makanan dan minuman dalam bahasa Indonesia harganya jauh lebih murah dari namanya saat ditulis dalam bahasa Inggris (terlepas dari si empunya tempat makan menyewa di tempat mahal atau tidak).

Jangan-jangan kata penulis konten membuat profesi menulis lebih terangkat derajatnya (entah lebih tinggi pula bayarannya atau tidak) seperti kasus makanan dan minuman di atas (ingat loh ya, seperti).

Atau kata penulis konten ini membuat menulis bisa memiliki tingkatan yang lebih nge-pop dan ramah pasar ketimbang kata penulis yang terkesan serius dan idealis.

Sebut saya baper atau terlalu dibawa serius, penulis konten di satu sisi membuat saya terangkat prestisenya, tetapi di lain sudut, menjadikan saya terkadang malu jika mengingat penulisan yang saya tulis sebagai seorang pro atau mengamati hasil kerja penulis konten lainnya yang bersliweran.

Terkadang atas nama kreativitas saya menyebut tulisan dalam kapasitas saya sebagai penulis konten layak baca. Toh, ujung-ujungnya semua orang pada akhirnya jualan kan? Ujar saya dalam hati seperti itu.

Tetapi jujur saja, terbiasa menulis untuk kepentingan pasar semata membuat saya kadang merasa rendah. Sama seperti saya membaca berita yang viral, yang nggak jauh-jauh dari membicarakan artis ini, tokoh itu, gosip yang belum tentu benar adanya hingga kuliner yang sedang hits. Hidup memang butuh hiburan tetapi apa iya hidup hanya diisi dengan mengurusi hal remeh semacam mencari tempat liburan baru di akhir pekannya?

Sebagai orang yang terlahir idealis (sifat yang masih sering merepotkan) ditambah kebiasaan saya yang suka berpikir serius, profesi saya sekarang sekaligus bahan bacaan saya saat ini mengikuti tren memang menurun secara kualitas.

Dulu saya masih suka membaca analisa panjang melalui The Economists, Bloomberg atau pun TIME. Meski sekarang saya jadi jarang membacanya, salah satunya karena pemikiran mereka yang kurang berimbang untuk pemberitaan terkait Islam, hilang sudah kesempatan membaca yang membuat otak saya terbiasa diajak berpikir kritis secara sopan dan ilmiah sebab saya malah lebih suka memantau media sosial.

Bacaan yang tergolong ringan pun adalah Reader’s Digest dan National Geographic, yang sesungguhnya tidak sesederhana saya bilang tadi. Saat saya rajin membaca mereka, saat itu dunia media sosial, aplikasi pesan gratis belum sepesat sekarang. Konsumsi artikel cepat saji belum terlalu diperhitungkan. Mengejar kuantitas, viral, klik belum sepenting saat ini.

Saya pun tak sanggup melawan arus zaman. Dari yang sebelumnya penulis akhirnya saya menambah embel-embel penulis konten. Yang dulu saya berjuang belajar menulis panjang dengan rentetan analisa dan komentar bagus sekarang saya justru berkutat bagaimana menulis dengan bahasa zaman now agar bisa dibaca banyak anak muda. Saya mencari klik, share hingga komentar sebanyak mungkin yang numpang lewat ke tulisan saya. Sungguh ini kerja yang cukup berat buat penulis yang sudah berumur 34 tahun dan lebih akrab dengan tulisan berat macam saya ini.

Lalu, menyesalkah saya?

50-50. Kadang saya rindu tulisan idealis seperti dulu, yang dibaca karena berkualitas, memberi pengetahuan dan wawasan.

Hanya saja industri merambah dimana-mana, tak terkecuali dunia media, jurnalisme hingga kepenulisan secara profesional. Akan sangat naïf jika saya terus-menerus mencoba melawan arah kapitalisme saat ini melalui dunia kepenulisan konten.

Pada akhirnya, saya mencari lalu mulai menemukan cara agar menjadi penulis konten tidak membuat saya merasa turun martabat dari segi isi artikel. Simpel saja. Saya berusaha menulis sekreatif yang saya mampu, memakai kosakata bahasa Indonesia yang unik hingga mengulas produk, aplikasi atau apa pun tulisan pesanan klien secara deskriptif atau sejenis feature.

Sebisa mungkin membuat saya tertantang menaklukkan tulisan tersebut dan menghilangkan sejauh mungkin perasaan tulisan ini bermutu kurang bagus atau promosi semata. Sejauh ini berhasil sih. Perkara pembaca merasa artikel saya berlebihan, terlalu agresif atau bombastis, itu saya kembalikan ke masing-masing pembaca. Buat saya bisa menikmati setiap artikel yang hendak ditulis dan menuangkan gagasan seprofesional mungkin itu berarti tugas saya sebagai penulis atau penulis konten sudah terlaksana secara baik, menurut ukuran saya pribadi.

Advertisements

“Mission: Impossible – Fallout” (2018): Mendefinisikan Kembali Pesona Ethan Hunt

Saat menunggu transaksi inti plutonium, Ethan terlihat tenang sambil mengejek temannya, Benji, yang tampak tegang. Luther mengamankan uang sebagai alat untuk menebus plutonium, benda berharga pembuat bom berdaya ledak dahsyat.

Rencana yang awalnya mulus mendadak runyam setelah Luther menjadi sandera. Ethan memilih menyelamatkan nyawa Luther dengan konsekusensi plutonium lenyap diambil orang yang merupakan anggota The Apostles, kelompok teroris sisa dari organisasi teroris bernama The Syndicate, dimana pentolannya, Solomon Lane, telah tertangkap dua tahun sebelumnya.

Plutonium hilang dan kelompok Ethan harus menanggung segala akibatnya. Mulai dari interogasi terhadap ahli nuklir sekaligus anggota kelompok tersebut, Nils Debruk, hingga akhirnya mesti mengekor kemana plutonium itu pergi, yakni ke Paris, dimana transaksi akan dilakukan bersama dengan John Lark. Ethan tak sendiri. Ada August Walker, agen CIA yang ingin mengambil pula plutonium itu.

Dari sinilah segala kegilaan Ethan dimulai. Melompat dari pesawat, kejar-kejaran menggunakan motor gede di jalanan ramai di kota Paris, hingga melompati gedung bisa menjadi suguhan yang memang khas waralaba Mission: Impossible sejak pertama kali dirilis pada 1996. Jangan lupakan pula aksi tabrak-menabrak menggunakan helikopter yang makin membuat kepala puyeng membayangkan bagaimana mereka melakukan ini semuanya.

Aku tak ingin membahas segala aksi edan yang Ethan (Tom Cruise) lakukan dalam film tersebut. Aku justru tertarik ingin mengupas sosok Ethan sendiri yang menurut aku menarik.

Ethan tokoh agen yang kurang meyakinkan dari luar. Acapkali saat menghadapi lawan, ekspresi dia “goyang”, kadang bingung. Bahkan ketika dia dan teman-temannya menjebak Walker yang pada akhirnya mengaku dia bekerjasama dengan Lane, Ethan kurang pas memainkan perannya sebagai orang yang licik.

Ia juga bukan negosiator yang ulung, seperti terlihat saat bertransaksi plutonium bersama the White Widow. Karakternya berbeda sekali dengan Walker yang memang terlihat tegas, lugas dan tahu apa keinginan dia.

Gaya larinya Ethan yang memang unik banget dengan tangan naik sampai ke atas. Foto oleh theatlantic.com

Pun demikian, Ethan keluar giginya saat saat genting. Polah dan aksinya lebih ia tonjolkan untuk menutupi kekurangan verbalnya. Istilah singkatnya, action is better than words. Buatku di situlah Ethan ini begitu menggelitik. Apa yang tampak di luar jauh berbeda dari yang di dalamnya. Bagi yang tak mengenal sosoknya, Ethan sosok yang biasa saja. Tetapi bagi yang telah mengenalnya, agen ini sulit ditebak apa maunya.

Dalam seri terbaru waralaba ini, misalnya, Ethan terlihat kurang persiapan saat ia memasuki acara gala makan malam the White Widow. Jika bukan karena bantuan Ilsa, ia tak akan bisa masuk ke lokasi acara. Kurang persiapan, sempat keok dalam laga melawan orang yang disangka John Lark, Ethan bisa masuk, membunuh banyak mata-mata the Apostles lalu bisa menjalin transaksi dengan the White Widow.

Adu mulut antara Ethan versus Walker selalu mengesalkan buatku sebab terlihat sekali kekurangan Ethan dalam hal debat dan persuasi. Sempat aku berpikir tatkala keduanya ribut sebelum melompat dari pesawat, ini Ethan nggak banget jadi agen, bahkan pahlawan.

Tetapi ketika ia memunculkan kekuatan fisik, kelihaian berkelahi, melompat, berlari, ngebut dan mengendalikan helikopter, Ethan ini menjadi sosok yang beda; memenuhi kualifikasi sebagai seorang agen. Meski jujur saja buatku, ia tetap kurang culas dan sadis.

Justru dengan kepribadian kontas ini Ethan menjadi agen yang manusiawi. Mempunyai kekurangan dari ketrampilan berbicara tetapi semua ia tutup dengan keberanian melakukan aksi yang membuatku ngilu, tegang dan keluar bioskop di Blok M Plaza Rabu minggu ini dengan perasaan super puas.

 

 

Currently Reading: “North and South”

I am amazed that I can read “North and South” this quickly. I buy the novel three weeks ago and now I am 70s pages away from the ending (the book is 478 pages in total).

Reading the book relieves me relieve because I start getting addicted to smartphone, reading online stories is one of the activities that I often do. I even question myself if I still have the ability of speedy reading when it comes to enjoy books that lure me so much. My not-so-good experience with Great Expectations adds to my own doubt. Though I initially savor half of the story, I find it difficult to finish the remaining half of it. So, right now I abandon the book though I actually look forward to knowing what the romance of Pip and Estella becomes. Too many minor characters, Pip’s too sentimental traits are some reasons that draw me away from the novel.

And when I purchase Elizabeth Gaskell’s North and South, I feel not good of buying a new title while leaving unread books at the bookshelf back at the rented room. But it’s North and South, man. The writer of the book is Gaskell, one of my most favorite authors whom I simply love her because of her beautiful way of telling sentences. At the back of my mind, as long as the writer is Gaskell, the story will be a good one. If the essence of the book is ordinary, I will totally enjoy her words, her writing style. In addition, I once see the title at the Kinokuniya bookstore long time ago but I don’t buy it then it’s gone. So I won’t lose the chance this time around. Priced at IDR132,000 I keep buying the novel despite the fact I have to save money.

I bring it back home and damn! I love every page of the story. My excitement of reading decent novel remains the same. I still can read like a maniac. I can still spend hours reading for the sake of the words and of course for the story itself.

And man! North and South way exceeds my expectation. It’s way better than Mary Barton and Wives and Daughters in terms of story, characteristic, moral message and plot. I can’t believe the book runs so quickly without being in rush. It’s compact and solid but her lovely descriptions are still there.

The novel is surprisingly heavy, in terms of themes. Poverty and effects of industry for the Miltons, to be exact. So I can say the novel is bleak and sorrowful in overall. Good point about the book is the characterizations of the major people here, Margaret Hale and John Thornton.

Here, Gaskell crafts her heroine to be a very memorable figure, a complicated person in her simplicity. Loving, caring, empathetic yet carrying a lot of burdens inside her heart. Margaret is a very strong woman, independent but naïve at the same time when it comes to her feeling to John.

That’s all that I can write at the time being. I can’t wait to finish reading the book to be put as another topic for the next post. The thing is I don’t regret buying it, using it as an intermezzo after leaving Great Expectations unread.

And best of all is that I can still read physical books, good ones, in enthusiastic manner as I usually do. Smartphone doesn’t take that away from me. I am beyond happy!

Mengenal “Living Books”, Cerita Rekaan yang Bukan Sembarang Fiksi

Terima kasih banyak buat sahabatku, Rizki Mahardiani, yang memberiku ide untuk menulis tentang ini

Masih terbayang secara ‘sadis’ pengadilan sosial untuk tuan Bulstrode saat novel Middlemarch menuju akhir setelah perjalanan membaca yang sangat panjang. Dalam forum tersebut, tuan Bulstrode diadili oleh tetangga dan kawan-kawannya usai mereka tahu Raffles, seorang dari masa lalu Bulstrode yang tahu benar cara licik bankir tersebut hingga bisa kaya raya seperti sekarang, meninggal dunia.

Singkat kata, publik menghakimi tuan Bulstrode lah yang membunuh Raffles agar ia tutup mulut padahal tidak sama sekali meski tuan Bulstrode sudah kadung jengkel diperas oleh Rafles jelang kematiannya. Tetap saja tuan Bulstrode tak bisa menghindar dari forum tersebut bahwa memang ia menempuh cara kelam agar bisa makmur. Publik pun menilai uang amalnya ke kaum papa hanyalah semacam “penebus dosa” atas perbuatan jahatnya selama ini. Yang paling menyebalkan tentu saja nasib Dr. Tertius Lydgate, dokter muda penuh bakat yang “kecipratan” reputasi buruk tuan Bulstrode. Publik ikut-ikutan menilai sang dokter mencicipi uang haram tuan Bulstrode hingga akhirnya memaksa Dr. Tertius benar-benar angkat kaki dari tempat itu.

Itu adalah sepenggal adegan dalam salah satu novel yang aku sayangi. Meski bukan buku paling aku favoritkan, Middlemarch merupakan novel kehidupan atau living book yang sangat aku rekomendasikan bagi siapa pun untuk dibaca. Bisa dibilang ini novel kehidupan yang paling kaya, komplet dan mewakilkan kondisi banyak orang di suatu tempat, tak terkecuali di Indonesia. Kesemuanya bisa tercermin secara gamblang berkat kemampuan menulis George Eliot yang sungguh bagus.

Middlemarch merupakan contoh novel kehidupan yang mengandung pesan penting nan berat tetapi membungkusnya dengan fiksi yang menarik. Imajinasi yang detil tentang orang, tempat hingga kejadian membuat pembaca awalnya abai dengan ide yang Eliot ingin sampaikan.

Setelah sanggup menawan hati pembaca dengan cerita yang menarik, barulah mereka akan mulai menggenggam apa maksud kisah ini. Bukan hanya itu, mereka akan akan mulai merefleksikan karakter yang ada di dalamnya dengan diri mereka sendiri atau orang di sekitar mereka, hingga situasi sosial saat ini.

Jika kau adalah putri baik hati, perempuan lembut tetapi kuat, karakter Dorothea Brooke bakal memukaumu. Jika kamu adalah tipikal orang yang sangat idealis, Dr. Tertius akan banyak mewakilkan pandangan hidupmu. Atau jika kamu cowok yang satir dan mempunyai jiwa seni tinggi meski hidupmu pas-pasan, tengoklah Will Ladislaw.

Novel kehidupan mempunyai tipikal fiksi yang dari permukaan dan pada awalnya terbaca ringan, menyenangkan tetapi lama kelamaan begitu pembaca mulai membenamkan hati pada cerita atau karakternya, mulailah novel jenis ini menunjukkan taringnya yang sesungguhnya: kedalaman isu yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Novel macam ini mengajak pembaca belajar, mulai dari berimajinasi, mencerna maksud  penulis lalu memikirkan nasib karakter hingga kemudian mengambil banyak pelajaran dari situ. Hal-hal berat ini bagaimana pun menjadi menarik untuk diselami sebab kita sudah kadung suka dengan cerita, tokoh atau gaya kepenulisannya.

Novel semacam ini banyak ditulis oleh abad ke-17,18 dan 19. Salah satu contoh novel kehidupan lainnya yang saya sukai adalah cerita-ceritanya Thomas Hardy. Sebenarnya mayoritas bukunya muram dan sedih hanya saja saya suka membacanya sebab karakter dia begitu humanis selain banyak mengangkat jati diri perempuan pada masanya. Katakanlah, Micheal Henchard dalam The Mayor of Casterbridge, yang hingga kini masih menjadi tokoh fiksi favorit saya sebab kompleksitas hidupnya sebagai anak manusia, dari orang yang nggak benar hingga menjadi walikota. Tokoh yang semrawut tetapi pelan sanggup menarik simpati saya sebagai manusia pada umumnya yang tak pernah bisa luput dari yang namanya dosa dan kesalahan.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari seorang keras kepala tetapi sangat sabar seperti Jane Eyre. Bagi banyak orang mungkin dia perempuan yang sok kuat tetapi buat saya sendiri karakter dia yang sungguh idealis membuat saya kagum. Saya masih ingat adegan dimana dia harus memakan bubur sisa orang untuk bertahan hidup setelah dia gagal menjual sapu tangannya agar bisa makan. Buat saya novel Jane Eyre memberikan pelajaran sabar yang teramat sangat manis dan indah pada akhirnya, yang sekali lagi, disajikan dalam fiksi luar biasa buatan Charlotte Bronte.

Buku kehidupan memang pada dasarnya hanya berupa cerita rekayasa, nama dan tempat banyak yang tidak ada. Tetapi sukar untuk tidak mengakui membaca buku berkelas seperti ini tidak memberikan kesan selain ceritanya yang bagus atau tokohnya yang menarik. Buku semacam ini selalu bisa meninggalkan bekas berharga bagi saya sebagai manusia zaman modern. Meski beberapa nilainya terdengar klise, seperti belajar sabar, setia, percaya pada orang lain, novel kehidupan seperti yang saya sebut di atas somehow membuat saya untuk mengunjungi nilai-nilai penting dalam hidup tersebut. Baru saya sadar dari novel semacam ini saya sebenarnya banyak belajar tentang nilai penting dalam hidup dengan cara yang sangat menyenangkan.

 

“North and South”: Novel Muram yang Bikin Aku Ketagihan (Spoiler Alert, Of Course)

Untuk kesekian kalinya dengan bermodalkan ingatan gaya kepenulisan Elizabeth Gaskell yang sungguh indah aku mantap membeli “North and South” sekitar dua minggu yang lalu. Meski sudah berniat ngirit tapi begitu melihat judul ini mejeng di toko buku Kinokuniya langsung runtuhlah tembok yang sudah aku bangun, tidak membeli barang yang memang sedang tidak dibutuhkan.

Karena jaminan tulisan Elizabeth Gaskell yang memang sudah terbukti di dua judul yang pernah aku baca, termasuk “Wives and Daughters” yang tebalnya 800an halaman, aku yakin tidak akan menyesal membeli “North and South”. Dan benar saja.

Novel dibuka dengan adegan Edith, sepupu Margaret Hale (tokoh utama dalam novel ini), yang malah tiduran padahal seisi rumah sedang ramai memperbincangkan rencana pernikahannya dengan Kapten Lennox. Bab awal novel ini tipikal karya romansa klasik abad ke-18/ke-19. Jika kalian pernah membaca novel atau film seperti “Emma” atau “Pride and Prejudice” kaya Jane Austen, kurang lebih seperti itulah atmosfir yang bisa ditangkap dari “North and South” ini. Santai, lucu, dan cewek banget.

Dimulai dengan pembukaan yang menyenangkan seperti di atas, aku pikir “North and South” bakal setidaknya mulus tanpa konflik berarti seperti dalam “Wives and Daughters”. Yang aku harapkan dari “North and South” pun akan puas aku nikmati, yakni bagaimana Elizabeth Gaskell bakal membuaiku dengan kata-kata puitis tanpa kesan berlebihan yang bisa aku baca berulang-ulang kali saking aku terpukaunya. Kalimat-kalimat yang bakal aku bisa tulis ulang di ponsel pintar aku agar kapan pun aku bisa menikmati kedalaman indera pengamatannya mengenai alam, karakter atau tempat.

Aku begitu menyelami keunggulan kepenulisan Elizabeth Gaskell di dua judul yang pernah aku baca, terutama “Mary Barton”. Dan sebenarnya misiku membaca “North and South” sesederhana sekaligus sesulit itu (sebab aku selalu merasa menulis manis menembus relung hati tanpa sama sekali terkesan hiperbolis itu susah banget).

Hanya saja, isi, karakterisasi dan konflik yang ada di “North and South” sigap menutupi keinginanku itu, hal yang membuatku mengagumi Elizabeth Gaskell sebagai seorang penulis yang piawai sekali bercerita menyampaikan pesan yang sangat penting melalui tokoh dan topik yang ia pilih.

“North and South”. Utara dan Selatan. Selatan berarti Hellstone, desa kecil yang berdekatan dengan London tempat keluarga Hale tinggal. Tempat yang mungil, banyak pohon rindang, indah dan rimbun. Tempat tinggal yang damai bagi keluarga kecil ini dimana sang ayah, tuan Hale, bekerja sebagai seorang penceramah bagi warga sekitar yang memang baik, ramah dan sopan.

Disebabkan perbedaan pandangan agama, tuan Hale, pindah ke kota Milton, daerah utara, kota industri yang penuh polusi, kebisingan, kesemrawutan dengan penduduknya yang blak-blakan.

Dalam hitungan beberapa hari saja, keluarga Hale merasakan hidup yang jungkir balik dari Hellstone ke Milton. Dari yang tenang ke tempat yang ramai, lengkap dengan masalah di dalamnya.

Dari tokoh tuan Hale aku melihat sosok yang cukup kompleks. Ia adalah tokoh bapak yang baik, penyayang, suami yang baik yang mempunyai idealisme yang sukar sekali digoyahkan. Tak heran ia tidak berkonsultasi kepada istrinya saat memutuskan meninggalkan pekerjaannya. Ia malah meminta putrinya untuk memberitahukan ke istrinya bahwa mereka akan pindah. Maka ketika sang istri pada akhirnya sakit-sakitan lalu meninggal dunia, salah satunya akibat tidak betah tinggal di kota pengap seperti Milton, tuan Hale hanya bisa menyesali keputusannya sendiri tetapi segalanya sudah sangat terlambat.

Nyonya Hale bukannya tokoh tanpa cela. Semasa hidupnya ia beberapa kali mengeluh menjalani hidup yang sederhana di Hellstone. Beberapa kali pula ia mengingat masa saat masih muda, bebas dan hidup berkecukupan. Ia sendiri justru paling dekat dengan pembantunya, Dixon, bukan putrinya sendiri.

Margaret agak terlambat menyesali ia pernah memilih hidup bersama keluarga Edith di London selama beberapa tahun sehingga menjadi “jauh” dari ibunya sendiri. Ia sedih mengetahui ibunya lebih senang dekat dengan Dixon ketimbang dirinya sendiri. Maka pada beberapa saat terakhir jelang kepergian sang ibunda, Margaret mengabulkan apa pun yang ibunya minta. Termasuk menulis surat untuk kakaknya, Frederik, seorang pelaut yang sudah bertahun-tahun pergi lalu menetap di Cardif, Spanyol, akibat terkena kasus hukum yang membuatnya tak bisa mengunjungi Inggris. Ia kena cekal, singkatnya.

Barangkali satu-satunya hal yang bikin novel ini mempunyai pelangi adalah kisah cinta Margaret dan John Thornton, walau sebenarnya menurut aku cerita saling suka di antara mereka lebih banyak diwarnai perdebatan, kesalahpahaman dan gengsi (yang biasa baca novel klasik sudah paham hal beginian).

John Thornton, pria pengusaha tampan, sukses, cerdas, murid yang paling disayangi oleh tuan Hale, guru privatnya. Walau tuan Hale dan John banyak menemukan kecocokan tetapi tidak halnya antara Margaret dengan John pada awal mereka saling mengenal, apalagi hal yang membuat mereka sukar nyambung lebih ke bersifat prinsipil.

John adalah pebisnis yang sebenarnya paling dibenci oleh kalangan pekerja, salah satunya Nicholas Higgins, dimana salah satu putrinya, Bessy, adalah kawan baik Margaret. Di satu sisi Higgins membenci John karena ia adalah salah satu yang tidak mau menaikkan gaji sedangkan John menganggap unjuk rasa oleh Higgins dkk lebih ditunggangi kepentingan kelompok tertentu.

Toh, meski sering silang pendapat, John mengagumi kecantikan dalam kesederhanaan sikap seorang Margaret. Aku sendiri suka sekali dengan karakter John di dalam novel ini, tipikal pria yang tidak suka mengumbar kata mesra atau mengirimkan hadiah mewah ke Margaret. Dalam novelnya, Elizabeth Gaskell beberapa kali menulis “mata John memang tidak tertuju langsung ke Margaret tetapi dia selalu tahu apa yang Margaret lakukan. Dia tidak pernah kehilangan fokus.”

Meski awalnya menganggap John kaku, Margaret mulai menyukai pria ini sebab kecerdasan, pendapat dan pandangannya mengenai banyak hal. Juga bagaimana dia begitu baik kepada ayahnya dan keluarganya selama ini.

Sayangnya, hingga halaman ke-320 dari total 478 yang aku baca ini, John masih sedih usai ditolak cintanya oleh Margaret. Margaret sendiri semakin terbenam dalam rasa bersalahnya setelah ia mengetahui John menyelamatkannya dari usaha investigasi atas kematian Leonards, seorang kriminal yang sedang membuntuti kakaknya Frederik. Padahal John tahu Margaret sedang bersama kakaknya tersebut saat kakaknya tidak sengaja mendorong Leonards hingga ia terjatuh ke dalam rel kereta api lalu meninggal dunia.

Pada bagian inilah aku terakhir membaca novel ini.

Tak henti-hentinya aku takjub bagaimana novel ini mengecohku dengan kandungannya. Plot mengalir cepat, mungkin menjadi yang tercepat dibanding kebanyakan novel klasik yang pernah aku baca. Menariknya, Elizabeth Gaskell menjahit semua konflik dari bagian satu ke bagian berikutnya secara mulus, tidak ada lompatan, tidak tergesa-gesa. Jadi tetap ada bagian indah yang bisa dinikmati di setiap transisinya.

Elizabeth Gaskell juga menuliskan banyak dialog yang terbaca sangat oral, yang menunjukkan perbedaan kelas, antara kaum terdidik dengan buruh (keluarga Higgins). Di sini aku jadi belajar banyak tentang perbedaan kelas sosial pada masa itu.

Yang paling bikin sendu dari novel ini tentu saja ada banyak sekali adegan yang memilukan, seperti saat kematian Bessy dan pastinya nyonya Hale. Elizabeth Gaskell detil sekali menceritakan suasana menjelang dan saat kematian tokoh-tokohnya jadi sedih itu begitu terpatri di hati pembacanya.

Belum lagi, pada beberapa halaman terakhir yang aku baca, tokoh Margaret cukup menguras emosi dan energiku. Di balik sosoknya yang tangguh, anggun dan super baik, Margaret banyak menyimpan duka dan cemas. Saat kakak dan ayahnya sedih terpuruk ketika ibu mereka meninggal dunia, Margaret menjadi satu-satunya yang justru menguatkan pria-pria itu.

Jadi ketika dia dicurigai ada sangkut pautnya dengan kematian Leonards, beberapa kali Margaret dituliskan ambrug, seolah benteng ketegaran yang ia bangun hancur, tak sanggup lagi dia jaga kekokohannya. Tak dinyana, orang yang menolongnya justru orang yang paling ingin dia hindari, yakni John.

Sudah sampai di sini dulu sebab masih ada 100an halaman lebih untuk dilahap, hehe..

 

 

Trying to Making Sense Today’s E-Things World

I once read a mind-blowing article about an attempt by Chinese smartphone vendor Huawei of making advanced artificial intelligence that will take machine-human interactions much more intimate than command-pattern like nowadays.

The top executives of the company admit they wish people will talk to machine as if they were with human beings. On top of that, they expect making people having real friends in lives, someone who can understand their moods, have real conversations unlike today’s setup ones.

Later, they confess they get the idea of making the ‘next level of AI’ after they watch the movie “Her” starring Joaquin Phoenix and Scarlett Johansson. I haven’t watched the movie but I once read it is about a lonely man who falls in love with a virtual woman on the internet.

Long, long before the story I come across another interesting, well, shocking in my opinion, wonderfully written by Anita Rani from BBC in 2013. The link is here. If you haven’t had any time reading the article I will sum it up for you. But please find time to read it later on because it conveys a very sad picture, in my humble opinion.

Let us meet with otaku.

The term otaku refers to “a generation of geeks who have grown up through 20 years of economic stagnation and have chosen to tune out and immerse themselves in their own fantasy worlds.”

Anita meets two otaku, one is Nurikan, a married man, and Yuge, a singleton. The two believe they are in relationships with virtual girlfriends, Rinko and Ne-ne. Their girlfriends are actually virtual figures in a Nintendo computer game called Love Plus, which comes as a small tablet. The men take the girlfriends on actual dates to the park and buy them cakes to celebrate their birthdays.

Silly, isn’t it?

I think today’s technology gradually erodes our very fundamental human beings as His creatures who are vulnerable of loneliness, heartbreaking, disappointment, rejection, abandonment.

As day by day I write and cover stories on newest gadgets, smartphones, applications or laptops, I have come to realize all technology that provides easiness in handle day-to-day tasks doesn’t carry that noble mission anymore. A traditionalist as I still am today, I realize some of them test our sanity. What makes it sounds dangerous is that the technology, as more and more technology updates provide, are working putting what humans’ needs into a smartphone, emotional necessities are included.

That means you will love taking it to bed with you. You will grab it at first the moment you wake up in the morning. And as the first paragraph here suggests, you will feel as if you won’t need real human beings at your side because hey, there is a virtual assistant that make you feel like you have a spouse.

As a person growing up when internet is such a luxury back in the 1990s, mingling with youngsters in free-of-charge chatting applications has put me in mixed kind of feelings.

I am struck by how people can read emojis too much into their hearts. Or the other way around, people’s confidence can be harmed by silence in a group after they show up and say some things, which I don’t think because some things are wrong with their statements. Sometimes quarrels happen because of misunderstanding in virtual group chat. Subhanalloh.. It’s hard to believe how virtual dialogue has taken us that serious..

And now I get it when I, again, once read an article saying for some people, social media is their actual world. This trend is captured very well through Beautification artificial intelligence/AI features by today’s smartphones. My friend once jokes you don’t need make up to hide your pimples, wrinkles in your face. With the Beautification AI you can be your ‘best version of yourself’, show ‘the real you’, or whatever that is!

If you really read current gadget trends, you will see how camera department is one of the biggest challenges for any smartphone producers out there because people keep getting looking validation through screens, from people whom they don’t even meet yet. They wish they can look younger, more beautiful, happier, living life to the fullest, yes with the help of machines.

I don’t say I am against advanced technology. Mind you, my current job is writing about technology. Saying I detest this job means I am ungrateful over the money from Alloh swt through this profession.

I write this piece of story to actually remind myself who have been carried away by technology too far. I used to take a public transportation to go to certain places but now I choose online ojek.

I used to drink water the first time I wake up in the morning but now checking Instagram and Facebook is the first activity that I do. And the last thing that I do before going to sleep is opening media social accounts. Subhanalloh.. I have to constantly tell myself doing such things mean taking the busyness of daily life into the most tranquil moment I should enjoy the most; sleeping.

When technicians, IT experts or whatever we call them, create gadgets, especially smartphones and social media, they try the hardest to help us, but don’t be too naïve as competition gets juicier, some firms put another mission on progress, not wholly intend to help us sincerely. Man, of course, at the end of the day they want money and more money.

Dealing with loneliness, rejection and other emotional pains is frightening but very essential to make us realize we live as a creature meant to live with scars that won’t downgrade our value unless we let them to do so.

Take time to cope with this. Don’t immediately take spiritual approach to solve the situations as ustadz Nouman Ali Khan says don’t get confused with emotional and spiritual needs. Spirituality will help recovery but emotional assistance is the first and foremost, and please, avoid escaping from reality through gadgets, drugs, alcohols, shopping or whatever that is.

Keep using technology but with mindfulness, that at the end of the day we decide what will we do with them not what they will do for us.

Picture source: http://www.tasbulak.gov.tr/program-mobil-uygulama-indirme-cok-kolay.html

 

Welcoming myself back here, at this ‘home’

Every time I make a comeback I will write this sort of note. I don’t know for how many times I compose this piece of writing for never mind about that, because yep.. here I am again after months of hiatus.

The last time I put traces here are in January. Things happen a lot after that. Personally, professionally..

My father was badly sick at the end of January. Alhamdulillahirobbil’alamiiin he is improving very well now. Thank you to Alloh swt for making him recovering again. My father’s illness is so far the most devastating thing occurring in my life. I was spending about two weeks at the hospital in Semarang, taking care of him, well to be precise, helping my mother and sister taking a good care of him because I am so bad at taking care sick people. Also, I had to work at his side at that time.

I can say that those moments were the hardest ones to have coped with. Not only I was so sad witnessing my father lamenting and complaining about his sickness, but also at the same time I had to work harder than usual. My health was a little bit declining given physiological stress that I had to endure given my father’s condition.

Alhamdulillahirobbil’alamin.. I can also say that the two-weeks time was also the sweetest chances for me to have got together again with my mother, my sister and my relatives. Alloh swt had the best kind of way to have put us together into one room, 24 hours a day without having too much to do other than talking and laughing and taking good care of each other. It was incredible to remind myself how the challenging times were actually His best way of making the bond of the four of us much stronger than already is.

Early March, I came back to Jakarta again for working and being active again in Ketimbang Ngemis Jakarta. On the way back to Palmerah, I was smiling at myself as I felt so glad coming back to the capital. By that time, I promised to myself that if my dad’s health restored again, I would consider another problem as small, unworthy of tears rolling down my cheeks.

But you know what happened?

For around two months I often cried because of bullying. The story is my former employer offered a freelance copywriting job for his client, a state agency. I was excited at that time because I needed the type of job that he offered. The payment was good, I believed the monthly money would be transferred at agreed time. I was thinking the job would be easy as I had only to compose one caption per day for some social media platforms plus photo caption.

From the very beginning of the job, the clients were demanding, if the word “annoying” was too negative. At first I was still patient until their overly critics were making my patience running very thin. For instance, they gave critics over the grammar that I applied. Although I defended my choice, they kept complaining. Sometimes, they made me changing the captions that I had written for reasons I didn’t understand. That meant I had to work twice but with the same payment.

Sometimes they behaved like school kids. When they were busy, they didn’t care about my writing, they just agreed on it. But when they were having spare time, they gave critics, a lot of them, most of them were nonsense! Like, changing “Republic of Indonesia” to “Indonesia”, zzzz…

Or “Thomas Lembong” to “Tom Lembong” as if everyone in the country knows him that friendly! The thing that made me realizing they were bullying me was when they said my caption on the use of artificial intelligence in smartphones was pointless. Oh I wish I could slap their faces at that time! I am serious!

That was the moment I cried the hardest (I previously cried but not that painful). That was the time I realized I was underestimated, that I was almost at the verge of doubting myself, my capability. Then I reminded myself the times when I was bullied at The Jakarta Post and The Jakarta Globe. I was at the lowest points of my life in terms of career paths.

So, I made up my mind I didn’t let anyone again doing the similar thing to me. Not long after the ‘bullshit remark they made on the smartphone caption’, I resigned, just two months from the agreed 10 month-contract.

Right now, I rely on my job as a freelance journalist for Gizmologi.id/com. You can say I took high risk letting the copywriting job go without replacements yet but I am fine because at least I don’t have to cry over that stupid people’ responses. I am going to write my returning to journalism with Gizmologi.id in another story for it’s a very wonderful one to share.

Between March and early May, I was very hectic, especially with the copywriting part. And now, I have more time to think, read and of course come back here again. I miss filling up this blog because I have mostly written in Bahasa Indonesia since February. I miss expressing feelings, taking out whatever inside my chest in this platform.

I will also share what I have with Nouman Ali Khan, my favorite Islamic speaker some other time. I hope I have time for that.

And oh, reading novels?

Don’t worry. I keep on reading, and since I have more time now, I will get back at the current title, which is “Great Expectations” by Charles Dickens, hehehe..

It feels good to be back here, at the place where I can feel at peace and let things out without having the need of gaining many views or clicks..

Alhamdulillahirobbil’alamiin..